Dora and the Lost City of Gold (2019)
102 min|Adventure, Comedy, Family, Mystery|09 Aug 2019
6.0Rating: 6.0 / 10 from 18,930 usersMetascore: 63
Dora, a teenage explorer, leads her friends on an adventure to save her parents and solve the mystery behind a lost city of gold.

Hi I’m Dora! Siapa yang tak kenal gadis cilik ini yang hadir di layar kaca. Seri animasi anak-anak populer ini akhirnya diangkat ke layar lebar yang kisahnya merupakan kelanjutan dari serinya. Dora and The Lost City of Gold digarap oleh sineas Inggris, James Bobin di bawah naungan studio Nickelodeon. Film berbujet US$ 49 juta ini dibintangi Isabela Moner, Michael Pena, Eva Longoria, Eugenio Derbez, serta dua bintang kawakan, Danny Trejo dan Benecio del Toro menjadi pengisi suara si kera Boots dan si rubah Swiper the Fox. Apakah kira-kira film ini mampu memenuhi ekspektasi target genrenya?

Dora yang sepanjang hidupnya tinggal di hutan, kini harus merasakan kehidupan di kota untuk bersekolah (SMU). Sementara kedua orang tuanya, berpetualang untuk menemukan legenda kota emas Suku Inca yang menjadi impian mereka dari petunjuk baru yang mereka dapat. Di sekolah, Dora yang ceria dan ramah harus susah payah beradaptasi dengan rekan-rekan sekolahnya yang menganggapnya aneh. Suatu ketika, Dora kehilangan kontak dengan kedua orang tuanya yang tiap hari biasa selalu menelponnya. Tak disangka, Dora dan tiga rekannya kini harus berpetualang di tengah hutan rimba untuk mencari kota emas dan kedua orang tuanya.

Tak banyak ekspektasi untuk film ini karena tentu target penontonnya adalah anak-anak. Ringan, sederhana, dan mudah dicerna. Namun, babak pertama filmnya (sekitar 30 menit), di luar dugaan sungguh sebuah pencapaian yang mengejutkan. Tribute seri animasinya terasa sangat kental, tentu ini bakal membuat geli para penonton yang pernah menonton atau akrab dengan serinya. Dialog-dialog khas Dora yang amat familiar serta pelanggaran tembok ke-4 (berbicara/bertanya kepada penonton) sering kali digunakan. Segmen “animasi”nya yang absurd pun (peta dan tas ransel yang berbicara) secara cerdas digunakan sebagai imajinasi dari Dora dan Diego kecil, serta satu adegan animasi di pertengahan ketika Dora berhalusinasi. Pembeda antara segmen “absurd” dan nyata ini justru mulai kabur ketika sosok Swiper the Fox muncul ketika mendadak sang rubah dapat berbicara dengan manusia. Rubah ini justru merusak segalanya.

Baca Juga  Crawl

Alur kisah pada segmen pembuka ini justru tersaji menarik ketika Dora beradaptasi dengan lingkungan barunya, yang justru ia sebut sebagai kaum “pribumi”. Sisi drama terasa begitu kuat, terlebih dialog-dialog yang terlontar pun secara mengejutkan dikemas secara cerdas. Penonton dapat dengan mudah berempati dengan sosok utamanya yang didukung penampilan Isabela Moner (Dora) yang enerjik dan amat mencuri perhatian kita sejak pembuka. Namun, sejak segmen di hutan, segalanya berubah dan alur kisahnya mulai kehilangan greget dan bertambah lama justru terasa membosankan. Setting reruntuhan dan kuil Inca yang dibangun megah  tak mampu banyak mengangkat kisahnya. Sisi misteri dan ketegangan termasuk segmen “Indiana Jones” sama sekali tak menggigit karena arah cerita sudah terlampau jelas terlihat. Film ini terasa seperti versi soft film “Jumanji“.

Dora and The Lost City of Gold, sensasional di separuh awal, namun tak ada greget setelahnya tapi tetap saja film ini bakal menghibur target genrenya (anak-anak). Banyak adegan aksi, sisi musikal, dan humornya tentu bakal menghibur mereka, khususnya fans Dora. Film ini juga sarat pesan yang mudah dicerna anak-anak dengan membawa misi keberagaman para tokohnya dan sedikit sisipan roman. Jika kalian memiliki putra atau putri, ponakan, atau siapapun yang menyukai seri Dora, pasti mereka juga akan menyukai film ini. Agak mengherankan, film ini tidak diputar di banyak teater.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaMahasiswi Baru
Artikel BerikutnyaOrang Betawi di Film dan Persoalan Identitas yang Tak Kelar-kelar
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.