mohon doa restu

Sudah ke sekian kalinya film komedi romantis (romcom) dengan tema perjodohan dibuat hingga Mohon Doa Restu. Film arahan Ody C. Harahap dengan penulisan skenario dikerjakan keroyokan antara Diva Apresya, Cassandra P. Cameron, Gina S. Noer, Hanan Novianti, Amelya Oktavia, Arief Ash Shiddiq, dan Yayu Yuliani. Melalui kolaborasi produksi bersama Screenplay Films, IFI Sinema, Rapi Films, juga Wahana Kreator (dalam mengerjakan skenarionya), MDR dimainkan oleh nama-nama besar yang terdiri dari Syifa Hadju, Jefri Nichol, Cut Mini Theo, Sarah Sechan, Kiki Narendra, Dea Panendra, dan Del Vikesha. Adakah tawaran yang bagus, melihat nama-nama penulis dalam film ini?

Mel (Syifa) dan Satya (Nichol) sama-sama merupakan anak yang mendapat perhatian berlebih dari ibu mereka masing-masing, Widi (Cut Mini) dan Ira (Sarah). Tak terkecuali menyangkut pasangan yang nantinya bakal mereka nikahi. Satya tumbuh hanya dengan ibunya. Jadi sukar baginya untuk mengutarakan pemikiran pribadinya. Alih-alih, ia terus menuruti pilihan-pilihan sang ibu. Sementara Mel, sosok paling vokal dalam keluarganya ialah Widi. Sang ayah, Arief (Narendra), lebih banyak diam. Persoalan komunikasi semakin memperumit hubungan Mel dan Satya.

Perpaduan kastingnya memang telah menarik perhatian sejak awal karena sebagian besar amat jarang bermain dalam film komedi. Khususnya untuk para pengisi tokoh sentralnya. Kapan lagi melihat keseraman Kiki Narendra, dramatisnya Cut Mini, dan percintaan Syifa Hadju diaduk-aduk oleh unsur komedi. Meski karakter yang dimainkan Narendra tak punya kesempatan untuk berkomedi. Alih-alih, perannya justru melodramatis, baik sebagai sosok ayah maupun suami. Sorotan paling besar yang banyak mendominasi film ini malah datang dari tiga aktris pendukungnya, Cut Mini, Sarah Sechan, dan Dea Panendra. Tanpa mereka, Mohon Doa Restu tidak akan punya nyawa sebagai film komedi. Bahkan sekadar sajian cerita tentang perjodohan semata. Merekalah penyelamat terbesar bagi film ini.

Baca Juga  Aftersun

Berapa kali pula film-film seputar perjodohan menghiasi layar lebar sampai hari ini. Tersebutlah Notebook (2021), Wedding Proposal (2021), A Perfect Fit (2021), Garis Waktu (2022), Wedding Agreement (2019), Layla Majnun (2021), dan masih banyak lagi lainnya. Oleh karena itu, alur ceritanya mudah pula diantisipasi hingga bagian resolusi. Pun bila para penulisnya menciptakan twist, atau memutar-mutar jalan ceritanya demi melakukan pengecohan –seperti dalam Mohon Doa Restu—akhirnya tertebak juga. Antara berujung dipersatukan kembali, terpisahkan kematian, bertemu orang ketiga, atau perkara restu orang tua.

Pun demikian untuk film-film seputar drama keluarga. Nyaris semuanya (lebih dari 90%) pasti soal komunikasi. Bahkan solusi Mohon Doa Restu sudah jelas sejak awal cerita, yakni keharusan untuk mengungkap kebenaran isi pikiran dan hati terpendam antara Mel dan Satya kepada ibu masing-masing, serta Arief terhadap Widi. Betapa Widi dan Ira melakukan kontrol berlebihan terhadap putra-putri mereka, serta Arief sebagai kepala keluarga yang kalah vokal. Amat dekat dan masih kerap terjadi dalam banyak praktik berumah tangga hari-hari ini bukan?

Menonton Mohon Doa Restu semata-mata memang hampir tentang penampilan trio paling komikal di dalamnya. Tipikal komedi romantis (dalam negeri) yang jarang bereksplorasi teknis. Fokus pada skenario, pengadeganan, dan olah peran. Walau sering kali mudah diantisipasi. Jika pun ada, sekadar kemunculan tipis yang kalah terasa. Misalnya, segmen pembuka Mohon Doa Restu yang secara simultan mencoba mengecoh penonton. Sisanya ke belakang kelewat tipis hingga ditutup rapat-rapat oleh tiga fokus tadi. Mau bagaimana lagi, Mohon Doa Restu ditulis, diarahkan, dan dimainkan oleh nama-nama besar. Demikian pula deretan perusahaan yang berkolaborasi dalam produksinya.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Concierge
Artikel BerikutnyaSaranjana: Kota Ghaib
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.