Ombak Rindu (2011)
125 min|Drama, Romance|23 Nov 2011
6.0Rating: 6.0 / 10 from 232 usersMetascore: N/A
The story starts with Izzah, an orphan girl who lost both parents due to road accident. Thereafter, her uncle, Taha, took her in. Taha's wife was not happy with Izzah's presence and accused her of bring bad luck to the family. At ...

Izzah seorang kembang desa yang taat agama dan keseharianya diisi membantu paman dan tantenya serta mengajar mengaji bagi anak-anak. Suatu ketika nasib buruk menghampirinya, pamannya yang telah membesarkannya tega menjual Izzah di kota. Lalu muncul Hariz, seorang “pelanggan” pertama yang meniduri Izzah dan karena merasa iba, ia pun membeli gadis ini dari seorang mucikari. Izzah tinggal di rumah mewah menjadi istri simpanan Hariz, si pengusaha kaya. Hari demi hari lambat laun mereka berdua pun saling jatuh hati. Cerita berkembang setelah Mila, seorang selebriti dari sebuah keluarga terpandang yang ternyata calon istri Hariz, datang dari luar negeri. Hariz menyembunyikan status Izzah dan menikah dengan Mila. Konflik lalu berjalan antara hubungan Izzah dan Hariz, bagaimana ia menghadapi tekanan Mila dan ibunya, serta bagaimana ia mempertahankan cintanya.

Dari segi cerita, bisa dibilang tidak ada yang istimewa. Alur cerita terlalu mudah ditebak dan tipikal cerita FTV yang sering kita lihat di layar kaca. Konflik dan masalah yang tercipta juga dangkal. Seperti di awal cerita kita tidak melihat alasan yang kuat mengapa Hariz mau membeli Izzah dan bahkan menikahinya. Hariz sadar benar jika ibunya pasti akan melarangnya, di lain pihak ia juga telah memiliki calon istri. Pada ending cerita juga diselesaikan dengan begitu mudahnya dan amat memaksa. Pak Pohan mendadak muncul dan membeberkan bahwa Hariz adalah anaknya tanpa sedikitpun petunjuk ini bakal terjadi. Adegan inilah yang sebenarnya menjadi titik balik Hariz kemudian sadar akan kesalahannya serta menghapus semua pikiran buruknya tentang Izzah.

Baca Juga  Air Murder

Cerita yang biasa juga sebanding dengan pendekatan estetiknya yang juga biasa saja. Dari segi sinematografi kita sering diperlihatkan panorama alam yang indah namun selebihnya tidak ada yang spesial. Editing kadang juga terlalu kasar dan memakai teknik yang kurang pas, seperti ketika Izzah terjatuh dijalan ketika hendak lari dari tempat prostitusi. Belum lagi teknik fade out yang sangat sering “menganggu” sepanjang film. Ilustrasi musik juga tidak variatif sama sekali, dari awal hingga akhir hampir tanpa henti selalu manggunakan ilustrasi musik serta lagu yang sama, membuat kita jengah mendengarnya. Momen penting menjadi datar karena setiap momen mendapat musik dan lagu yang sama. Akting pemain memang tidak mengecewakan namun juga tidak istimewa, terlihat hanya Maya Karin yang terlihat menonjol dibanding lainya. Maya mampu dengan baik memerankan Izzah, wanita baik, lugu, tapi penuh dengan penderitaan.

Ombak rindu merupakan film yang sangat sukses di Malaysia tapi dari segi kualitas film ini rasanya masih jauh dari sempurna. Masih terlalu banyak kelemahan segi cerita dan penokohan karakternya. Jika kita membandingkan Ombak Rindu dengan film-film kita bertema sejenis macam Ayat-Ayat Cinta, maupun Badai Pasti Berlalu, rasanya film-film kita masih lebih baik.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaMuallaf, Cara Sineas Memaknai Muallaf
Artikel BerikutnyaHimala, Sebuah Keajaiban dari Negeri Seberang
Febrian Andhika lahir di Nganjuk, 18 Februari 1987. Ia mulai serius mendalam film sejak kuliah di Akademi Film di Yogyakarta. Sejak tahun 2008, ia bergabung bersama Komunitas Film Montase, dan aktif menulis ulasan film untuk Buletin Montase hingga kini montasefilm.com. Ia terlibat dalam semua produksi awal film-film pendek Montase Productions, seperti Grabag, Labirin, 05:55, Superboy, hingga Journey to the Darkness. Superboy (2014) adalah film debut sutradaranya bersama Montase Productions yang meraih naskah dan tata suara terbaik di Ajang Festival Film Indie Yogyakarta 2014, dan menjadi runner up di ajang Festival Video Edukasi 2014. Sejak tahun 2013 bekerja di stasiun TV swasta MNC TV, dan tahun 2015 menjadi editor di stasiun TV Swasta, Metro TV. Di sela kesibukan pekerjaannya, ia menyempatkan untuk menggarap, The Letter (2016), yang merupakan film keduanya bersama Montase Productions. Film ini menjadi finalis dalam ajang Festival Sinema Australia Indonesia 2018.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.