“Hello Mommy. Thank you Mommy. I Know Mommy”

Siapa yang tak ingat si bocah psikopat, Esther, melalui penampilan memikatnya dalam Orphan (2009) lebih dari satu dekade silam. Uniknya, kini justru dirilis film prekuelnya, Orphan: First Kill yang diarahkan oleh sineas spesialis horor, William Brent Bell. Film ini masih diperankan sang bintang, Isabelle Fuhrman yang kali ini bersama Julia Stiles, Rossif Sutherland, dan Hiro Kanagawa. Setelah rilis teater sebulan lalu, film ini kini sudah bisa ditonton melalui platform Amazon Prime, Vudu, dan Paramount+. Mampukah prekuelnya ini mengulang sukses Orphan yang terhitung fenomenal?

Orphan: First Kill mengambil latar waktu sekitar 2 tahun sebelum peristiwa dalam Orphan. Leena Klammer (Fuhrman) adalah seorang pasien berbahaya penghuni Rumah Sakit Psikiatrik di Estonia pada tahun 2007. Leena mengalami satu penyakit langka yang membuatnya tidak mampu tumbuh seperti manusia normal. Umur Leena 31 tahun, namun fisiknya terlihat seperti gadis cilik berusia 9 tahun. Leena kabur dari rumah sakit dan membuat identitas palsu dari seorang gadis asal AS yang diculik 4 tahun lalu, bernama Esther. Keluarga Esther pun terkejut mengetahui putrinya akhirnya ditemukan, dan Leena pun kembali ke habitat aslinya. Namun, tak disangka, Keluarga Esther, khususnya sang ibu, Tricia (Stiles) ternyata tidak seperti yang ia pikir. Alih-alih menjadi pemangsa, kini justru Leena yang menjadi mangsa.

Bagi yang pernah menonton Orphan atau fans fanatik Esther, antisipasi terhadap plot First Kill pastilah begitu mudah. Gelagatnya, kini sekali lagi kita bakal melihat Esther beraksi memperdaya dan menghabisi satu keluarga normal. Teeetttt! Anda keliru besar. Tidak seperti sebelumnya, Leena atau Esther, kini diposisikan menjadi seorang protagonis ketimbang antagonis. Konsep semacam ini bukan kali pertama. Kamu tentu masih ingat si tua buta brutal dalam Don’t Breath dan sekuelnya? Orphan: First Kill jauh melampaui ini bahkan seri pertamanya. Leena yang brutal versus Tricia yang lebih brutal adalah satu tontonan mengejutkan yang sulit diantisipasi prosesnya. Baik Fuhrman maupun Stiles sama-sama menampilkan performa terbaik mereka.

Baca Juga  Poltergeist

Walau sisi twist-nya begitu hebat, namun ada beberapa titik lemah yang jelas mengacu pada umur sang bintang. Bayangkan, Furhman berusia 12 tahun ketika bermain sebagai Esther dalam Orphan, kini ia telah berusia 25 tahun. Walau menggunakan tata make-up yang hebat, namun tidak mampu menutupi rentang usia sang pemain yang begitu jauh. Shot jauh dan close up wajah, jelas sekali menggunakan pemain pengganti (stunt) yang berbeda. Bagaimana pun juga untuk mengakali umur seperti ini adalah bukan satu pencapaian yang mudah.

Sebuah prekuel mengejutkan dari film sebelumnya, Orphan: First Kill adalah peningkatan dari semua aspeknya. Pengalihan sosok antagonis menjadi protagonis, atau sebaliknya, bukan perkara mudah untuk membalik simpati penonton. First Kill mampu melakukannya dengan efektif melalui prekuel yang tentu jauh lebih sulit ketimbang sekuel seperti Don’t Breath 2. Namun, tetap tidak ada yang mampu melakukannya seperti film kriminal masterpiece, The Usual Suspect (1995). Orphan: Second Kill? Jika First Kill sukses, why not?

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaDarlings
Artikel BerikutnyaThe Immaculate Room
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.