Darlings merupakan film rilisan Netflix berdurasi 2 jam 13 menit yang mengangkat isu kekerasan domestik. Film produksi India ini ditulis dan disutradarai oleh Jasmeet K. Reen yang juga film panjang pertamanya sebagai sutradara. Ia menggandeng nama besar Gauri Khan, istri dari raja Bollywood Shah Rukh Khan sebagai produser. Film ini menghadirkan wajah para pemenang award, yakni Alia Bhatt, Shefali Shah, Vijay Varma, dan Roshan Mathew. Sejak rilisnya 5 Agustus lalu, film ini banyak dibicarakan oleh netizen dan konon meraih 10 juta jam penayangan dalam pekan pertamanya. Dengan membawa genre dark comedy¸ isu sosial yang hangat di sebagian besar masyarakat Asia Selatan, dan nama-nama besar industri film India, apakah Darlings berhasil disuguhkan dengan baik?

Tiga tahun menjalani kehidupan rumah tangga, Badrunnisa (Alia Bhatt) telah berulang kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya yang pemabuk, Hamza (Vijay Varma). Tidak hanya itu, pernikahannya dengan Hamza juga membuat Badru terisolasi. Seluruh warga penghuni rumah susun tempat mereka tinggal mengetahui hal ini dan menganggapnya sebagai hal yang biasa. Kecuali Ibu Badru, Shamshunissa (Shefali Shah) yang juga tinggal di sana. Ia berulang kali memberitahu Badru untuk mengambil sikap atas perilaku suaminya. Dibantu ibunya dan seorang tetangga bernama Zulfi (Roshan Mathew), Badru kemudian membalas semua yang pernah dilakukan suaminya.

Isu kekerasan domestik masih sangat relevan bagi masyarakat Asia Selatan. Di tengah-tengah kungkungan budaya patriarki yang sudah mengakar sejak ratusan tahun, menyuguhkan isu ini dalam kemasan komedi merupakan sebuah upaya yang cukup berani dan patut diapresiasi. Sayangnya, genre dark comedy yang dijanjikan tidak tersuguhkan dengan maksimal. Entah lantaran tutur humor yang terlalu eksklusif untuk dinikmati penonton umum (bukan India), atau memang miskonsepsi dari dark comedy itu sendiri.

Baca Juga  Gonjiam: Haunted Asylum

Di sisi lain, durasi film yang cukup panjang tidak dibarengi pembagian segmen secara baik sehingga terdapat beberapa momen mubazir yang tidak perlu. Sebagian peristiwa dibuat terlalu pendek, sementara sebagian yang lain terlalu panjang. Kronologi waktu pada peristiwa-peristiwa tertentu bahkan terkesan tidak masuk akal dengan dramatisasi yang berlebihan. Hal ini cukup mengecewakan sebab terjadi pada bagian-bagian film yang cukup krusial. Spirit melodrama yang biasanya menjadi daya tarik dan ciri khas film India juga tidak dijumpai di film ini.

Meski demikian, pengembangan watak tiap-tiap karakter cukup menarik, stabil, dan dipresentasikan dengan cukup baik oleh para pemain. Hal ini didukung pengemasan latar artistik khas India yang ramai, dan pengambilan gambar yang konseptual; cukup memberikan poin lebih yang dapat dinikmati penonton.

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaEmergency Declaration
Artikel BerikutnyaOrphan: First Kill
Arami Kasih menempuh pendidikan D3 Komunikasi di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2010, kemudian melanjutkan studi S1 Film dan Televisi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta melalui program ekstensi. Arami lulus sebagai Sarjana Seni pada tahun 2019 dengan pengkajian berjudul “Implikasi Perubahan Naratif dan Sinematik dari Ekranisasi Blog Kambing Jantan”. Delapan tahun mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, ia terlibat secara aktif dalam berbagai organisasi baik sebagai pengurus maupun anggota. Beberapa di antaranya adalah komunitas radio Bionic FM, sebagai bendahara dan penyiar; komunitas sastra Pena Merah, sebagai penubuh dan penulis; serta Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, sebagai pemimpin umum, editor, dan reporter. Ketertarikannya terhadap film berawal dari kegemaran mendengarkan dongeng yang dituturkan secara apik oleh orang tuanya semasa kecil. Ditambah kecintaannya terhadap segala bentuk kesenian, mulai dari seni tradisional hingga media baru. Ia pun telah beberapa kali terlibat dalam kegiatan seni rupa dan pertunjukan. Baginya, film sebagai karya seni popular merupakan manifestasi imaji yang nyaris sempurna. Sebagai mahasiswa, ia telah memproduksi berbagai karya film baik fiksi maupun dokumenter. Arami juga telah menonton segudang film dari masa ke masa. Mulai dari film roman klasik seperti Roman Holiday, hingga Lamb. Karya skenario film pertamanya dibuat pada tahun 2019 berjudul “Mulawi”. Pada tahun 2020, karya ini telah dialihwahanakan dan diterbitkan sebagai novel berjudul “Petemun” oleh penerbit indi. Arami bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2022.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.