Rebel Moon – Part Two: The Scargiver merupakan kisah lanjutan dari Rebel Moon – Part One: A Child of Fire yang masih diarahkan oleh Zack Snyder. Film sci-fi rilisan Netflix ini masih pula dibintangi oleh Sofia Boutella, Djimon Hounsou, Ed Skrein, Michiel Huisman, Doona Bae, Ray Fisher, Staz Nair, Fra Fee, Cary Elwes, serta Anthony Hopkins. Seperti kita tahu, seri pertamanya dihabisi oleh para kritikus film karena kualitas naskah yang sangat buruk, akankah film keduanya memiliki takdir yang sama?

Setelah peristiwa pada film pertama, Kora (Boutella) dan timnya yang tersisa, akhirnya tiba di desa di Planet Veldt. Mereka mengira dengan terbunuhnya Jendral Noble (Skrein), maka desa pun akan terhindar dari ancaman. Rupanya, Noble dapat dihidupkan kembali dan ia langsung memerintahkan pesawat induk tempurnya untuk menuju Veldt. Misi mereka kali ini tidak semata untuk mendapatkan gandum, namun adalah Kora, musuh besar yang selama ini dicari oleh atasan sang jendral, yakni kaisar Balisarius.

My oh my, setelah seri pertama yang begitu konyol (baca ulasan: Rebel Moon – Part One: A Child of Fire), siapa sangka kisah lanjutannya jauh lebih konyol dari sebelumnya. Kisahnya masih terinspirasi dari segmen kedua Seven Samurai (1954) yang terfokus pada bagaimana para ksatria dan warganya melindungi desa setelah segmen sebelumnya berhasil menggaet beberapa ksatria. Tak ada masalah dengan ide kisahnya, namun adalah pengembangan plotnya yang memiliki banyak kejanggalan yang luar biasa.

Rasanya kita tak perlu meributkan bagaimana sang jendral bisa hidup kembali dengan “cairan” seperti di seri anime Dragon Ball, yang terpenting ia kini kembali normal tanpa lecet sedikit pun. Plot utamanya didominasi oleh pertempuran antara warga desa dengan pasukan Noble yang jauh lebih superior. Mengapa Noble harus menanti lima hari lagi untuk menyerang? Mengapa tidak sekarang atau dua hari lagi? Tentu jawabnya adalah untuk memberi (naskahnya) kesempatan bagi para jagoan kita dan warga untuk mengambil hasil panen selama 3 hari, serta melatih warga bertempur hingga membuat lubang terowongan yang begitu kompleks hanya dalam waktu 2 hari. Coba bayangkan, mereka menggali tanah hanya bermodal sekop dan ember, tanpa alat berat sedikit pun.

Baca Juga  The In Between

Hasil panen gandum rupanya masih menjadi perhatian Noble hingga ia tidak berani menyerang kampung secara frontal. Jika ia bisa memasukkan pasukannya ke desa secara diam-diam, mengapa ini tidak dilakukan dari segala penjuru desa? Semua bakal selesai dalam sekejap. Jika kamu cermat melihat plotnya, banyak hal tak masuk akal yang terlalu dipaksakan hanya untuk memicu sisi dramatik plotnya. Adegan klimaks di pesawat induk musuh adalah puncak dari segala kekonyolan naskahnya. Entah apa yang dipikirkan sang penulis naskahnya (Snyder).

Seperti halnya Part One, Rebel Moon – Part Two: The Scargiver menyisakan satu pertanyaan besar, mengapa naskah sekonyol ini bisa ditulis oleh seorang Zack Snyder? Ini belum terhitung dialog-dialognya yang begitu kaku sejak seri pertamanya. Kini tak perlu lagi membahas sentuhan estetik sang sineas dengan segala bentuk slow-motion-nya yang kini terasa amat berlebihan dan memaksa. Ambisi sang sineas untuk membuat pesaing seri Star Wars adalah sebuah usaha “hil yang mustahal”. Ending-nya pun masih mengisyaratkan kisah lanjutannya, entah siapa yang masih peduli. Kabarnya, versi extended cut seri pertamanya bakal dirilis pada pertengahan tahun ini, padahal ini bukan film yang dirilis di bioskop. Ini jelas menandakan sang sineas sendiri sudah tak percaya diri dengan karyanya. Tak ada keraguan, dua seri ini adalah pencapaian terburuk sang sutradara sepanjang karirnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaDua Hati Biru
Artikel BerikutnyaImmaculate
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.