Bombshell (2019)
109 min|Biography, Drama|20 Dec 2019
6.8Rating: 6.8 / 10 from 126,826 usersMetascore: 64
A group of women take on Fox News head Roger Ailes and the toxic atmosphere he presided over at the network.

Bombshell adalah film drama yang diadaptasi lepas dari kisah nyata tentang pelecehan seksual sejumlah penyiar perempuan di stasiun televisi Fox News. Film ini diarahkan oleh sineas spesialis komedi, Jay Roach (seri Austin Powers) dengan dibintangi aktris-aktris papan atas Hollywood, yakni Nicole Kidman, Charlize Theron, serta Margot Robbie. Film berbujet USD 32 juta ini mencoba mengangkat kisah yang terhitung hangat, terjadi 3 tahun silam. Dari gelagatnya, film ini memang diarahkan untuk dapat berbicara lebih di ajang Golden Globes serta Academy Awards tahun ini.

Kisah film ini terfokus pada tiga sosok perempuan yang bekerja di News Fox. Megyn Kelly (Theron) adalah penyiar berita nomor satu Fox yang kini tengah berada di puncak karirnya dengan berkesempatan menjadi panelis dalam acara debat presiden AS. Gretchen Carlson (Kidman) adalah penyiar top lama yang kini ada di penghujung karirnya. Sementara Kayla (Robbie) adalah seorang karyawati anyar yang berambisi menjadi seorang penyiar. Lalu bos mereka, Roger Aisles (John Lithgow) adalah seorang ahli media yang berpengalaman, ambisus, serta dekat dengan gedung putih. Namun, ternyata ia memiliki sisi gelap yang merendahkan kaum hawa di tempat ia bekerja.

Sejak pembuka film yang bertuliskan, “Film ini telah diubah kisahnya semata untuk alasan dramatisasi bla bla bla”. Teks ini sudah membuat saya malas menonton filmnya. Sepintas terpikir, apakah film ini mencoba menghindar dari tuntutan hukum atau semacamnya? Bukankah film biografi sejenis juga sudah terlalu banyak? Apapun alasannya yang jelas konten film ini sudah menyimpang dari kisah aslinya. Ekspektasi mendadak menurun drastis. Lalu untuk apa dibuat filmnya?

Saya mencoba menikmati filmnya saja. Di awal, tempo plot yang cepat dan dinamis sejalan dengan ritme stasiun televisi yang bekerja tanpa henti, memang membuat disorientasi terhadap konflik filmnya. Kita disuguhkan latar masing-masing karakter utama, termasuk juga sang bos yang otoriter. Saya agak lelah melihatnya. Semua kekacauan itu mendadak hilang dan fokus mengarah ke satu titik cerita ketika Gretchen dipecat dan ia melaporkan bosnya atas tuduhan pelecehan seksual. Setelahnya, plot filmnya berubah sangat menarik dan intens layaknya film thriller bertema pembunuhan. Hingga ending, film ini nonstop adalah sebuah pengalaman sinematik yang memuaskan, baik kemasan kisahnya maupun estetik.

Baca Juga  The Rhythm Section

Harus diakui, sang sineas memang sangat piawai mengemas plotnya dengan gaya teknik bertuturnya yang dinamis. Sepanjang film, plotnya berpindah begitu cepat dari satu sosok ke sosok lainnya, tanpa membuat bosan dan lepas dari inti kisahnya. Sisipan komedi, salah satunya disuguhkan melalui teknik pelanggaran tembok keempat, di mana masing-masing karakter utama beberapa kali berbicara dengan penonton, walau tercatat hanya pada segmen awal. Sangat brilian, cerdas, dan menghibur, saat Megyn menjelaskan pada kita, bagaimana stasiun televisi Fox bekerja dari lantai per lantai.

Satu faktor lain yang membuat kisahnya mampu disajikan dengan baik adalah tentu para bintangnya. Semuanya bermain brilian dan perhatian khusus pada Lithgow, Nicole Kidman, dan Theron. Ketiganya mampu bermain ekspresif dan emosional. Uniknya pula, walau tiga sosok utama perempuannya berada dalam satu gedung, namun mereka bertiga hanya bertemu dalam satu frame saat mereka ada di elevator. Sangat mengasyikkan, melihat performa akting mereka bermain dalam masing-masing karakternya.

Bermodal permainan menawan para kasting serta gaya penyutradaraan yang unik, Bombshell menyajikan sebuah drama-komedi berintensitas tinggi, di luar kelemahan akurasi kisahnya. Oke, boleh jadi memang kisahnya memang menyimpang jauh dari aslinya, dan ini memang fatal bagi film bergenre ini. Terlebih kisahnya terbilang masih panas. Namun, secara estetik, film ini jelas jauh dari kata buruk. Film ini begitu cerdas dalam mengemas plotnya sehingga mampu menjadi tontonan yang sangat menghibur.

Apa yang paling saya suka dalam Bombshell adalah bagaimana kisahnya mampu menampilkan dilema para wanita yang terjerat kasus ini. Karir dan popularitas bakal terancam ketika mengekspos diri mereka ke publik. Film ini juga mempertanyakan lebih jauh tentang motif tuntutan mereka, apakah uang, politik, atau memang martabat mereka sebagai seorang perempuan? Faktanya, Roger adalah seseorang yang bertanggung jawab membuat karir mereka melenggang ke puncak. Lembar kertas perjanjian yang diteken Gretchen di penghujung film, rasanya menjawab semua. Lalu siapa yang salah (pendosa)? Bagi saya, ini bukan masalah benar atau salah. Toh, kita juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Apakah begitu? Kasus ini terjadi dalam bidang apapun. Jika kita ingin melakukan segala sesuatunya dengan baik dan benar maka lakukanlah secara baik dan benar sejak awal.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaThe Grudge
Artikel BerikutnyaNanti Kita Cerita Tentang Hari ini
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.