Boss Level (2020)
100 min|Action, Adventure, Comedy|05 Mar 2021
6.8Rating: 6.8 / 10 from 78,684 usersMetascore: 56
Trapped in a time loop that constantly repeats the day of his murder, a former special forces agent must unlock the mystery behind his untimely demise.

Plot time-loop tak pernah dieksplorasi begitu intensif sepanjang dekade ini, Boss Level menambah panjang daftar film dengan plot berulang ini dengan gaya yang unik. Boss Level merupakan film aksi fiksi ilmiah arahan Joe Carnahan yang dibintangi beberapa aktor-aktris ternama, antara lain Frank Grillo, Mel Gibson, Naomi Watts, Annabelle Wallis, Michelle Yeoh, hingga Ken Jeong. Film berbujet USD 45 juta ini kabarnya sudah diproduksi sejak tahun 2018 dan baru dirilis awal tahun ini.

Roy adalah mantan pasukan militer khusus yang secara aksidental terjebak dalam satu hari yang berulang tanpa sebab yang jelas. Roy jadi bulan-bulanan para pembunuh bayaran yang menghendaki nyawanya. Setelah ratusan kali terjebak dalam hari yang sama, Roy akhirnya menemui titik terang siapa dalang dibalik peristiwa anomali ini yang melibatkan mantan istrinya yang seorang ilmuwan.

Boss Level memang tidak ingin mengulang formula loop plot film-film sebelumnya. Film ini secara intensif menyajikan alur kisahnya secara unik menggunakan kilas-balik secara acak. Boleh dibilang, Boss Level adalah film pertama yang tercatat menggunakan kombinasi time loop dan kilas-balik secara simultan. Unik bukan? Jika tidak cermat benar, bisa jadi kita bakal kehilangan informasi kecil yang penting. Untuk memudahkan penonton digunakan teks yang menginformasikan “hari ke sekian” sepanjang filmnya.

Baca Juga  Gringo

Alur plotnya sejak detik awal sudah bergerak sangat cepat dengan sajian-sajian aksi gila yang membabi buta. Jika tidak ada narasi dari tokoh utama mustahil penonton bisa mencerna kisahnya. Narasinya mengiringi satu segmen pengulangan yang menggambarkan bagaimana proses sang tokoh bisa mencapai sebuah tujuan/lokasi tertentu. Setelah tujuan tercapai (informasi baru didapat), ini mengantarkan kita ke segmen pengulangan berikutnya, demikian seterusnya, hingga klimaks layaknya kita bermain game. Memang butuh kejelian, tapi tentu tak sulit bagi penikmat film sejati. Hanya saja, satu momen dialog yang kelewat panjang terasa membosankan dan rasa kantuk pun menghampir.

Aksi yang terus berulang, tentu memberikan efek komedi dan aksi yang luar biasa, sama halnya dengan film pelopor time-loop, The Groundhog Day. Hanya saja, Boss Level aksi-aksinya memang keliwat edan dan brutal yang penuh darah. Adegan aksi penuh darah dan organ tubuh yang terpotong sudah biasa sepanjang film. Adegan brutal memang sangat masif, namun sisi komedinya mampu memperhalus semua aksi kekerasannya.

Melalui sisi komedi dan aksi-aksi gilanya, Boss Level merupakan salah satu penggunaan time loop plot paling menghibur yang pernah ada. Walau memang murni film aksi hiburan, namun tidak lantas filmnya tidak memiliki value. Hubungan Roy dengan sang putra memberi kehangatan tersendiri dalam satu momennya. Ending kisahnya juga masih membuka peluang sekuel. Boss Level membuktikan bahwa eksplorasi plot time-loop masih bisa dimungkinkan secara kreatif.

Apa itu plot Time Loop? Bisa dilihat dalam video ulasan kami di sini.

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaRun Hide Fight
Artikel BerikutnyaPalmer
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.