Every Breath You Take (2021)
105 min|Drama, Mystery, Thriller|02 Apr 2021
5.3Rating: 5.3 / 10 from 6,905 usersMetascore: 32
A psychiatrist whose client commits suicide finds his family life disrupted after introducing her surviving brother to his wife and daughter.

Pernah tidak kamu menonton film yang kisahnya bisa kamu baca seluruhnya sejak segmen awal? Every Breath You Take adalah satu contoh yang sempurna untuk kasus ini. Every Breath You Take adalah film drama thriller arahan Vaugn Stein yang dibintangi sederetan bintang berkelas, yakni Cassie Affleck, Rachell Monaghan, serta Sam Claflin. Seberapa burukkah film ini? Nyaris semua lininya.

Grace (Monaghan) adalah seorang istri yang masih trauma akibat kecelakaan putranya. Hidup mereka, termasuk suaminya Phillip (Affleck), dan putrinya Lucy, berubah menjadi lebih berjarak sejak momen ini. Suatu ketika, Phillip yang seorang psikiater, kehilangan pasiennya yang diduga bunuh diri. Padahal pasien ini adalah obyek riset ilmiahnya yang dianggap sebagai terobosan baru dalam ranah psikologi. Ketika datang James, sang kakak korban, hidup mereka bertiga pun berubah untuk selamanya.

Tidak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin pembuat film tidak mampu melihat naskah film yang begitu buruk sejak awal? Alur kisahnya jelas sekali mudah terbaca dan sungguh tidak masuk akal.  Ibarat jika kamu fast forward filmnya, tidak akan ada satu pun yang terlewatkan hingga klimaksnya. Plot macam ini, rasanya lebih ideal untuk B-Movies yang lebih mementingkan adegan seks ketimbang plot yang memikat. Sang sineas tampak kurang terampil mengolah informasi dan motif cerita yang mampu membuat sisi misteri dan suspence-nya lebih menggigit, serta membuang waktu dengan subplot yang tak penting.

Baca Juga  The Suicide Squad

Dengan kasting besar bertalentanya, Every Breath You Take hanya butuh hingga titik balik pertama cerita untuk membaca arah plotnya sejak awal hingga klimaks. Tak ada yang buruk dari akting para pemain selain hanya naskah dan pilihan plot yang buruk. Film thriller keluarga macam ini sudah terlalu banyak jumlahnya, namun faktanya hanya sedikit yang berkualitas. Jika ingin mendapat tontonan thriller berkelas sejenis, coba saja tilik film-film karya David Fincher.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaHappy Cleaners
Artikel BerikutnyaMortal Kombat
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.