Happy Cleaners (2019)
98 min|Drama, Family|12 Feb 2021
6.8Rating: 6.8 / 10 from 146 usersMetascore: N/A
When the Choi family lose their dry cleaning business, they learn to love each other to survive the crisis and heartaches that they cause each other.

Sukses Minari di Academy Awards tahun ini memang mencuri perhatian banyak pengamat, siapa sangka, ternyata masih ada film bertema imigran Korea lainnya yang ternyata juga berkualitas sama baiknya. Happy Cleaners adalah film produksi Amerika arahan dua sineas keturunan Korea, Julian Kim dan Peter S. Lee. Film ini dibintangi oleh Hyang Hwa-lim, Charles Ryu, Yeena Sung, dan Yun Jeong. Lantas apa yang membedakan film ini dengan Minari?

Filmnya berkisah tentang perjuangan hidup sepasang suami-istri imigran asal Korea setelah puluhan tahun tinggal di AS dengan usaha laundry mereka. Kisahnya juga menyorot kehidupan putra dan putri mereka yang lahir di AS, yang memiliki perpektif berbeda dengan ayah ibu mereka yang kolot dengan pola pikir dan tradisi turun temurun. Perubahan banyak hal yang terjadi di sekeliling mereka, memaksa mereka untuk berjuang keras hanya sekadar untuk bertahan hidup.

Kalau boleh jujur, saya akan memilih film ini ketimbang Minari. Problem dan masalah dalam Happy Cleaners jauh lebih membumi dan mengena untuk masa sekarang. Konflik utamanya memang sederhana dan klise, yakni uang, namun ini mampu menggiring semua penokohan dalam tiap karakternya berjalan secara unik sesuai perpektif masing-masing. Sang ibu selalu merasa dirinya benar dengan menekan suami, putra, dan putrinya untuk mengikuti pola pikirnya. Sementara sang ayah yang kalem adalah pekerja keras dan tak banyak kompromi dengan istrinya. Sang putri, Hyunny tidak hanya bekerja membantu biaya hidup keluarganya, namun juga sang pacar, yang tidak dikehendaki sang ibu. Sementara Kevin, adalah musuh terbesar sang ibu, yang drop-out sekolah dan ingin bekerja di kota seberang.

Baca Juga  Itaewon Class (Series)

Masalah yang muncul silih-berganti membuat masing-masing karakter harus beradaptasi dengan situasi baru mereka. Hal inilah yang menarik. Prosesnya berjalan sabar dan wajar memperlihatkan bagaimana mereka masing-masing berdamai dengan hidup dengan caranya. Momen-momen menyentuh banyak bermunculan di sini, di antara mereka berempat. Satu hal yang amat menarik, dalam tiap segmennya, selalu terdapat adegan makan bersama yang disajikan berbeda dengan adegan lainnya. Sering kali proses memasak pun disorot secara detil dan berlama-lama. Adegan makan bersama adalah kunci karena di momen inilah mereka selalu bertemu.

Happy Cleaners adalah film drama keluarga imigran Korea yang bersahaja, membumi, dan menyentuh, dengan dukungan permainan akting yang menawan dari semua kasting utamanya serta mengusung pesan keluarga yang kuat. Minari juga mengisahkan bagaimana perjuangan imigran Korea, namun dengan latar setting waktu yang berbeda. Menonton Minari, layaknya menonton film klasik, sementara Happy Cleaners menyorot kehidupan keseharian di masa modern. Pilihan terbaik tentu tergantung pada pengalaman hidup kita masing-masing. Keduanya adalah film yang istimewa, terlebih di mana isu anti Asia, kini tengah panas-panasnya di AS. Perjuangan hidup manusia “terpinggirkan” dalam Minari dan Happy Cleaners merupakan potret yang bisa terjadi pada siapa saja dan ras mana pun. Setelah ribuan tahun, isu rasisme rupanya masih saja menjadi momok bagi umat manusia, dan seolah kita seperti tak mau belajar bahwa kita hidup tidak sendirian dan saling berdampingan.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
95 %
Artikel SebelumnyaChaos Walking
Artikel BerikutnyaEvery Breath You Take
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses