Happy Cleaners (2019)
98 min|Drama, Family|12 Feb 2021
8.4Rating: 8.4 / 10 from 21 usersMetascore: N/A
When the Choi family lose their dry cleaning business, they learn to love each other to survive the crisis and heartaches that they cause each other.

Sukses Minari di Academy Awards tahun ini memang mencuri perhatian banyak pengamat, siapa sangka, ternyata masih ada film bertema imigran Korea lainnya yang ternyata juga berkualitas sama baiknya. Happy Cleaners adalah film produksi Amerika arahan dua sineas keturunan Korea, Julian Kim dan Peter S. Lee. Film ini dibintangi oleh Hyang Hwa-lim, Charles Ryu, Yeena Sung, dan Yun Jeong. Lantas apa yang membedakan film ini dengan Minari?

Filmnya berkisah tentang perjuangan hidup sepasang suami-istri imigran asal Korea setelah puluhan tahun tinggal di AS dengan usaha laundry mereka. Kisahnya juga menyorot kehidupan putra dan putri mereka yang lahir di AS, yang memiliki perpektif berbeda dengan ayah ibu mereka yang kolot dengan pola pikir dan tradisi turun temurun. Perubahan banyak hal yang terjadi di sekeliling mereka, memaksa mereka untuk berjuang keras hanya sekadar untuk bertahan hidup.

Kalau boleh jujur, saya akan memilih film ini ketimbang Minari. Problem dan masalah dalam Happy Cleaners jauh lebih membumi dan mengena untuk masa sekarang. Konflik utamanya memang sederhana dan klise, yakni uang, namun ini mampu menggiring semua penokohan dalam tiap karakternya berjalan secara unik sesuai perpektif masing-masing. Sang ibu selalu merasa dirinya benar dengan menekan suami, putra, dan putrinya untuk mengikuti pola pikirnya. Sementara sang ayah yang kalem adalah pekerja keras dan tak banyak kompromi dengan istrinya. Sang putri, Hyunny tidak hanya bekerja membantu biaya hidup keluarganya, namun juga sang pacar, yang tidak dikehendaki sang ibu. Sementara Kevin, adalah musuh terbesar sang ibu, yang drop-out sekolah dan ingin bekerja di kota seberang.

Baca Juga  Ong-Bak

Masalah yang muncul silih-berganti membuat masing-masing karakter harus beradaptasi dengan situasi baru mereka. Hal inilah yang menarik. Prosesnya berjalan sabar dan wajar memperlihatkan bagaimana mereka masing-masing berdamai dengan hidup dengan caranya. Momen-momen menyentuh banyak bermunculan di sini, di antara mereka berempat. Satu hal yang amat menarik, dalam tiap segmennya, selalu terdapat adegan makan bersama yang disajikan berbeda dengan adegan lainnya. Sering kali proses memasak pun disorot secara detil dan berlama-lama. Adegan makan bersama adalah kunci karena di momen inilah mereka selalu bertemu.

Happy Cleaners adalah film drama keluarga imigran Korea yang bersahaja, membumi, dan menyentuh, dengan dukungan permainan akting yang menawan dari semua kasting utamanya serta mengusung pesan keluarga yang kuat. Minari juga mengisahkan bagaimana perjuangan imigran Korea, namun dengan latar setting waktu yang berbeda. Menonton Minari, layaknya menonton film klasik, sementara Happy Cleaners menyorot kehidupan keseharian di masa modern. Pilihan terbaik tentu tergantung pada pengalaman hidup kita masing-masing. Keduanya adalah film yang istimewa, terlebih di mana isu anti Asia, kini tengah panas-panasnya di AS. Perjuangan hidup manusia “terpinggirkan” dalam Minari dan Happy Cleaners merupakan potret yang bisa terjadi pada siapa saja dan ras mana pun. Setelah ribuan tahun, isu rasisme rupanya masih saja menjadi momok bagi umat manusia, dan seolah kita seperti tak mau belajar bahwa kita hidup tidak sendirian dan saling berdampingan.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
95 %
Artikel SebelumnyaChaos Walking
Artikel BerikutnyaEvery Breath You Take
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.