Everything Everywhere All at Once (2022)
139 min|Action, Adventure, Comedy|08 Apr 2022
7.8Rating: 7.8 / 10 from 548,127 usersMetascore: 81
A middle-aged Chinese immigrant is swept up into an insane adventure in which she alone can save existence by exploring other universes and connecting with the lives she could have led.

Konsep multiverse yang kini lagi tren, muncul kembali dalam film sci-fi fantasi Everything Everywhere All at Once dengan cara, gaya, dan konsep yang teramat berkelas. Digawangi oleh Dan Kwan and Daniel Scheinert atau dikenal sebagai The Daniels yang kita kenal mengarahkan film drama absurd Swiss Army Man (2016). Naskahnya konon sudah digali sang duo sineas sejak tahun 2010 jauh sebelum konsep multiverse menjadi populer di medium film. Film ini dibintangi Michelle Yeoh, Stephanie Hsu, Ke Huy Quan, James Hong, dan Jamie Lee Curtis. Seberapa briliankah film berbujet USD 25 juta ini?

Evelyn Wang (Yeoh) adalah seorang pebisnis loundry yang dikelolanya bersama sang suami, Waymond (Huy Quan). Pada satu momen, semua masalah datang bersamaan. Usaha laundry-nya diaudit oleh kantor pajak (IRS); sang suami ingin menceraikannya; sang ayah (Hong) yang keras baru datang dari kampung halamannya; lalu sang putri butuh pengakuan sang ibu terhadap pacar perempuannya, Becky. Dalam situasi kacau, mendadak Evelyn didatangi versi lain dari Waymond yang mengaku dari semesta (timeline) yang berbeda. Ia butuh bantuan dari Evelyn jika semua semesta di ambang kehancuran oleh sosok jahat bernama Jobu Tupaki. Evelyn pun menampik semua kekonyolan ini, tidak hingga ia melihat versi dirinya pada semesta yang berbeda.

Speechless menonton film ini dengan segala keindahan dan kebijaksanaannya. Dengan segala bentuk absurditasnya, film ini mampu menyisipkan sekaligus mengeksplorasi tema-tema berat, macam ekstensialisme, nihilisme, kebebasan berkehendak, keseimbangan semesta, hingga “cinta” dengan cara yang segar dan brilian. Hebatnya, semua ini disajikan hanya untuk menyampaikan pesannya yang teramat sederhana. Banyak film menyajikan tema-tema ini secara terpisah dengan cara brilian, namun belum ada yang mampu menekel semua tema di atas sekaligus, all at once, dalam satu kisah cerita. Konsep multiverse untuk pertama kalinya digunakan secara jenius menjadi pondasi dasar utama kisahnya. Film-film superhero yang menggunakan konsep multiverse sebelumnya, terlihat bagai film bocah.

Baca Juga  The Out-Laws

Tidak hanya konsep cerita yang brilian, namun begitu pula pendekatan estetiknya. Di luar performa kastingnya yang luar biasa, editing menjadi teknik yang paling dominan mendukung kisahnya. Dari editing cepat, ritmik editing, serta crosscutting menjadi teknik dominan untuk menyajikan gagasan multiverse-nya. Bagi penonton yang belum terbiasa dengan konsep ini, bisa jadi amat membingungkan karena potongan gambar (adegan) yang nyaris selalu berpindah-pindah (atau sisipan gambar) dalam sepanjang filmnya. Duo sineas, The Daniels, dengan gayanya, tahu betul bagaimana mengemas detil adegannya, dari momen ke momen. Selipan humor yang sering kali digunakan tidak hanya sekadar memicu tawa namun juga makna. Coba simak adegan, “Now. I’m trying to fight with your (Waymond) way“. Bicara soal puluhan tribute filmnya, tak ada satu pun yang lepas dari konteks.

Melalui naskah yang amat brilian, Everything Everywhere All at Once menyajikan eksplorasi segar konsep multiverse melalui drama, humor, aksi, imajinasi, pendekatan estetik dengan kedalaman tema yang rasanya belum disentuh film mana pun. Untuk membahas film ini secara utuh jelas tidak cukup hanya dengan satu dua lembar ulasan. Film ini adalah satu contoh sempurna bagaimana seni film bekerja dengan sangat baik mendukung narasinya. Banyak sekali pengadeganan, dialog, imajinasi yang baru kali ada dalam medium ini. Film ini tidak pernah mencoba menjadi bijak, namun justru mempertanyakan balik konsep-konsep di atas dengan lugas. Pada akhirnya “nothing matters” yang ini tak bisa diungkap dengan kata-kata, tetapi adalah bagaimana kamu menerima ini semua dengan kelapangan jiwamu. Tak perlu lagi ada pertanyaan karena kamu tidak lagi perlu jawaban. Jika hidupmu adalah versi yang terburuk, maka kamu adalah yang paling mampu memahami bagaimana semesta bekerja.

Jika film ini tidak diapresiasi tinggi dalam ajang festival film bergengsi, tidak tahu lagi saya harus komentar apa. Everything Everywhere adalah salah satu film terbaik yang pernah ada sejak medium film eksis. Dari mana duo sineasnya mendapat ilham kisah kelewat edan macam ini?

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaMemory
Artikel BerikutnyaRoad to Europe on Screen 2022
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

2 TANGGAPAN

  1. Mantap si ulasannya. Dari segi kostum juga kerena parah. Film yang bener bener perlu diapresiasi, dan bener si film Dr Strange yang ngangkat tema multiuniverse bener bener gak ada apa apanya dibanding film ini. So I’m totally agree when you said “Superhero kaya bocah dibanding film ini”
    Jokesnya parah kena banget. But orang yang emang gak biasa sama multi universe akan bilang “film GJ” tpi kalo bener bener paham esesnsi film ini bakal bilang “It’s F*cking genius”

    • Pada tahun yang sama dengan rilisnya Dr. Strange 2, dan di tengah maraknya tema-tema multiverse dari film-film pahlawan super, film ini muncul dengan keistimewaannya, bukan…?

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.