Love and Monsters (2020)
109 min|Action, Adventure, Comedy|16 Oct 2020
6.9Rating: 6.9 / 10 from 146,537 usersMetascore: 63
Seven years after he survived the monster apocalypse, lovably hapless Joel leaves his cozy underground bunker behind on a quest to reunite with his high school sweetheart.

Pernahkah berpikir hewan dan serangga kecil di sekeliling kita yang sering kita injak, berubah menjadi raksasa dan membunuh kita? Sedikit konyol memang, namun Love and Monsters mampu membuatnya menjadi menyenangkan. Love and Monsters merupakan film petualangan fiksi ilmiah arahan Michael Matthews. Film berbujet US$ 30 juta ini dibintangi sederetan bintang muda, yakni Dylan O’Brien, Jessica Henwick, Ariana Greenblatt, serta aktor tua Michael Rooker.

Alkisah percikan asteroid menghantam bumi dan membawa zat radio aktif yang membuat hewan kecil dan serangga menjadi besar berlipat kali ukurannya. Umat manusia pun dengan mudah dimusnahkan dalam sekejap dengan hanya sedikit yang bersisa bersembunyi di bunker-bunker bawah tanah. Joel Dawson kehilangan semua keluarganya yang kini hidup terisolasi bersama rekan-rekannya. Joel yang merasa dirinya tak berguna di sana, akhirnya memutuskan ke luar menemui kekasihnya, Aimee, yang berjarak 80 mil dari bunkernya. Petualangan pun dimulai.

Dengan premis yang rada konyol, namun kisah film ini jauh dari konyol. Di momen-momen sulit seperti sekarang yang kebetulan senada dengan kisah filmnya, Love and Monsters mampu menghibur kita dengan segala aspeknya. Memang, arah kisahnya jelas tak sulit diantisipasi, namun kejutan-kejutan kecil mampu membuat film ini menjadi terasa manis dan menyentuh. Petualangan Joel tidak hanya mampu mendewasakan sang karakter, namun rasanya juga kita, terlebih di momen pandemi seperti ini. Nuansa rasa kehilangan, rasa rindu, dan kehangatan sahabat/keluarga, tersaji dengan kuat. Momen Joel bersama sang anjing (Boy), lalu dua kawan barunya (Minnow & Clyde), bahkan sang robot (Mav1s) pun di luar dugaan mampu menyajikan momen yang amat menyentuh.

Baca Juga  Eye in The Sky

Love and Monsters merupakan film petualangan sci-fi yang menyenangkan dengan kombinasi aksi, komedi, roman yang menghibur, serta selipan sisi humanis yang menyentuh. Film ini bukanlah film megabujet dengan CGI yang istimewa, namun cukup untuk membuat kita larut dalam filmnya. Sayang sekali, film menghibur seperti ini tak bisa kita nikmati di bioskop. Bagi kalian penikmat film, Love and Monsters adalah sebuah tontonan wajib yang tak bisa dilewatkan.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaCall
Artikel BerikutnyaFatman
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.