The Kid Detective (2020)
100 min|Comedy, Crime, Drama|16 Oct 2020
7.0Rating: 7.0 / 10 from 24,526 usersMetascore: 74
A once-celebrated kid detective, now 32, continues to solve the same trivial mysteries between hangovers and bouts of self-pity; until a naive client brings him his first 'adult' case to find out who brutally murdered her boyfriend.

Genre detektif kini memang tenggelam di tengah genre-genre populer raksasa lainnya, namun beberapa film masih mampu mencuri perhatian. Walau tak sukses komersial, The Kid Detective rasanya adalah satu di antaranya. Film ini merupakan produksi Kanada yang disutradarai oleh Evan Morgan yang dibintangi oleh Adam Brody dan Sophie Nelisse. Tak diduga, ternyata film ini mampu menyajikan kisah misteri yang amat istimewa.

Abe (Brody) adalah seorang detektif yang masa ciliknya gemilang karena mampu menyelesaikan ratusan kasus di kotanya. Mendadak itu semua berubah, ketika rekannya, Grace, diculik dan Abe tak mampu berbuat apa pun. Belasan tahun kemudian, trauma ini masih belum hilang dari pikirannya. Warga kota tak lagi memujanya bahkan orang tua Abe pun cemas melihat kondisi putranya. Hingga suatu hari terjadi kasus pembunuhan misterius terhadap seorang remaja dan sang pacar, Caroline (Nelisse) meminta Abe untuk mengusut kasus pembunuhan ini. Kasus yang semula ia remehkan rupanya berujung pada sesuatu yang mengarah pada trauma masa lalunya.

Wow, satu yang patut dipuji adalah kisah filmnya begitu mengejutkan dengan ending twist yang bakal sulit untuk diantipasi siapa pun. Ini adalah sesuatu yang bagus untuk sebuah plot film karena penonton akan mudah larut dalam filmnya karena terus mengusik rasa penasaran. Sang sineas tidak hanya terampil mengemas adegannya, namun juga mampu membuat naskah yang sangat solid dengan dialog-dialog yang terucap cerdas. Saya pikir ini adalah salah satu naskah film paling brilian yang rilis tahun ini.

Baca Juga  13 Days, 13 Nights | Festival Sinema Perancis 2025

Satu hal yang paling mengesankan adalah bagaimana naskahnya mampu mengubah mood genrenya demikian cepat sehingga tak pernah ada kata bosan sepanjang film. Misteri, drama, komedi, otobiografi, dan sisi trauma mampu bercampur aduk dalam satu kesatuan kisah yang demikian memikat. Tak ada satu pun yang meleset dalam plot filmnya. Semua ditulis demikian detil yang dengan cerdas membiarkan kita sebagai penonton untuk mencernanya sendiri tanpa harus diucapkan secara verbal. Semua aksi dan adegan sekecil apa pun punya maksud dan motif bahkan ketika Abe harus bersembunyi di lemari kloset sekalipun.

Peran kasting utama tak kalah briliannya. Abe diperankan Adam Brody dengan sangat baik seolah kita pun mampu membaca kegamangan mentalnya akibat trauma mendalam. Sementara Nelisse mencuri perhatian dengan perannya sebagai Caroline yang chemistry-nya dengan Abe begitu kuat walau mereka baru bersua. Untuk beberapa saat, keduanya mampu memancing kita adanya hubungan roman di sana.

Dengan naskah serta kastingnya yang brilian, The Kid Detective bisa jadi adalah satu kasus paling menarik dan segar untuk genrenya dalam satu dekade terakhir. Saya bisa bilang, film ini adalah salah satu film terbaik untuk genrenya karena kemampuan sang sineas memadukan berbagai elemen genre dalam naskahnya. Satu pencapaian langka. Adegan penutup begitu menyentuh sekali ketika Abe menangis di hadapan orang tuanya. Sang sineas rupanya masih memberi kita satu misteri kecil hingga akhir yang memberi ruang bagi penonton untuk memberi tafsirnya sendiri. Hanya saja, judul filmnya bagi saya terasa kurang berkelas untuk film berkualitas sebagus ini.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaWonder Woman 1984
Artikel BerikutnyaThe Croods: A New Age
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses