Joker (2019)
122 min|Crime, Drama, Thriller|04 Oct 2019
8.4Rating: 8.4 / 10 from 1,477,104 usersMetascore: 59
During the 1980s, a failed stand-up comedian is driven insane and turns to a life of crime and chaos in Gotham City while becoming an infamous psychopathic crime figure.

Dengung sukses Joker sudah kita dengar sejak beberapa bulan silam. Film ini meraih banyak pujian para pengamat di Venice Film Festival dan Toronto International Film Festival hingga bahkan sang bintang, Joaquin Phoenix digadangkan bakal sukses untuk meraih Piala Oscar tahun depan. Joker adalah garapan sineas komedi Todd Phillips yang kita kenal dengan seri komedi sukses, The Hangover. Selain Phoenix, aktor kawakan Robert De Niro, Zazie Beetz, serta Frances Conroy turut bermain pula dalam filmnya. Sekalipun sang antagonis adalah bagian dari semesta Batman, namun film ini berdiri sendiri, tanpa ada relasi dengan DC Extended Universe (DCEU) atau film Batman lainnya. Joker tercatat adalah film solo “supervillain” kedua setelah Venom yang rilis tahun lalu. Lantas, apakah memang filmnya sebaik pencapaiannya di festival film?

Alkisah Arthur Fleck (Phoenix) adalah seorang yang memiliki gangguan kejiwaan serta pula komedian yang gagal. Tekanan batin dan sosial membebani dirinya demikian hebat, belum lagi ia harus merawat sang ibunya yang tengah sakit. Dalam satu titik, akhirnya Arthur lepas kendali dan berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Kota Gotham yang kini tengah dalam situasi penuh kekacauan, seolah menanti sosok antagonis ini untuk muncul memberi perlawanan terhadap kaum elit.

Sosok Joker sudah kita kenal baik dalam medium film. Tercatat yang paling mengesankan adalah ketika sosok ini diperankan mendiang Heath Ledger dalam The Dark Knigth. Phoenix jelas bakal mendapat komparasi hebat mengingat penampilan Ledger yang luar biasa hingga diganjar Piala Oscar. Tapi kita tidak bicara aktor, namun adalah sosok Joker. Sebagian besar orang, terlebih penikmat film, mustahil untuk tidak kenal sosok ini. Dari semua film Batman, tercatat sosok ini muncul sebanyak 4 kali dan diperankan aktor yang berbeda, termasuk aktor kenamaan Jack Nicholson. Kita kenal Joker sebagai sosok yang dingin, nekad, tak punya belas kasih, selalu bertindak dengan semua kegilaannya, ditambah tawanya yang khas. Lantas, bagaimana sang antagonis mendapat semua sifat itu? Apa sebenarnya yang membuatnya menjadi sosok demikian bengis? Joker menjawabnya dengan gaya dan penuturan yang sangat berkelas.

Sebagai peringatan awal, jika kalian mencari film hiburan yang selama ini ada di film Batman, adalah salah besar. Joker jelas bukan film hiburan lazimnya, namun boleh saya bilang menggunakan pendekatan “film art”. Tempo kisahnya terasa sangat lambat dan ini cukup untuk membuat separuh penonton bioskop terlelap. Tak ada aksi dan momen seru seperti lazim genrenya melainkan fokus pada sisi drama tentang seorang manusia dengan trauma dan gangguan kejiwaannya. Joker mengingatkan banyak pada film thriller psikologis Midsommar yang rilis sebulan lalu dan tak heran jika membuat frustasi sepanjang film. Ratingnya 17+ juga menandakan banyak adegan brutal dan jelas ini adalah BUKAN film untuk anak-anak.

Baca Juga  Tom & Jerry

Joker menuturkan latar dan konfliknya dengan penuh kesabaran. Kedalaman dan kompleksitas sosok Joker yang traumatik tersaji dengan apik, momen demi momennya, tanpa ada satu pun yang terlewat. Transisi editing kadang bisa mengaburkan penonton yang tak menyimak untuk membedakan segmen delusi, kilas balik, dan segmen nyata. Beberapa momen disajikan dengan bahasa visual berkelas dengan sinematografi yang amat menawan. Pun pemanfaatan elemen mise_en_scene untuk perpindahan mental sang tokoh. Beberapa kali sineas menggunakan toilet dan tangga berundak untuk menggambarkan transisi status mental sang antagonis. Setting kotanya pun tersaji pas dengan latar cerita 1980-an.

Sang aktor, Joaquin Phoenix, jelas adalah kunci keberhasilan utama filmnya. Entah mengapa, sosok yang memerankan Joker selalu diperankan serius oleh aktor-aktor pemainnya, sebut saja Nicholson dan Ledger. Para pemeran sang jagoan (Batman) bahkan disebut pun tak pernah untuk pencapaian aktingnya. Phoenix pun demikian. Sosok Arthur yang traumatik dan sakit sudah tergambar betul dalam ekspresi dan gestur sang aktor sepanjang filmnya. Tentu ini bukan hal mudah dan membutuhkan energi besar, namun Phoenix mampu melakukannya dengan sempurna. Anehnya, sosok Joker ini terasa pas dan terhubung kuat dengan sosok Joker dalam The Dark Knight, terkesan semacam prekuel. Bicara The Dark Knight, apakah ada yang merasakan kemiripan musiknya dengan musik tema Batman? Entahlah, ini disengaja atau tidak, dan ini memang bukan masalah.

Baik secara personal, estetik, maupun genrenya, Joker adalah salah satu film dalam ranah superhero yang terbaik. Problematik yang dihadapi sang antagonis ikonik ini adalah juga refleksi dunia yang kita hadapi saat ini. Joker menggambarkan dunia yang absurd, kacau, serta semakin hilangnya nurani manusia. Dunia macam inilah yang melahirkan sosok antagonis besar macam Joker. Semesta pun, akhirnya akan selalu mencari bentuk keseimbangan dengan melahirkan sosok protagonis macam Batman. Jika ditanya, soal kritik terhadap film ini yang dianggap mengamini anarki? Saya hanya bisa tertawa lepas. Lihat saja dunia di sekeliling kita sekarang. Joker sudah ada di mana-mana! Kita hanya tinggal menanti sosok Batman untuk muncul sebagai juru selamat. Mungkin ini hanya mimpi.

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel Sebelumnya6,9 Detik
Artikel BerikutnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: 05:55
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.