Sebuah panti jompo terkutuk, memaksa sang pemilik menjadikan para penghuninya sebagai korban atas keserakahannya dalam Kutuk. Film horor thriller produksi perdana dari Scene Avenue Movies berkerja sama dengan Open Door Films ini, disutradarai oleh Rudi Aryanto bersama Fajar Umbara dan Shandy Aulia sebagai penulisnya. Sang bintang muda sendiri juga bertindak sebagai produser sekaligus pemain utama, bersama Alice Norin, Stuart Collin, Vitta Mariana Barrazza, Bryan McKenzie, serta Laxmi Darra yang dikemas dalam durasi 82 menit.

Kisah bermula saat Maya melamar kerja sebagai perawat di sebuah panti jompo yang memiliki bangunan tua. Kejadian aneh, ganjil, dan misterius sudah menyambut sejak hari pertamanya bekerja. Maya tidak hanya terintimidasi oleh sosok tak wajar tersebut, namun juga perawat lain yang bersikap sinis padanya. Beberapa momen, akhirnya menguak sejarah misteri bangunan tua tersebut.

Alur cerita yang dihadirkan Kutuk tidak bisa dikatakan segar dan sudah terlalu umum. Sebagaimana layaknya film sejenis, plot Kutuk hanya mengubah genre horor menuju thriller. Sisi misteri yang dibangun baik sejak awal, sayangnya terlalu klise dan mudah untuk diselesaikan. Kutuk layaknya memberi penonton satu tutorial “bagaimana cara memahami Kutukan dengan baik dan benar”. Tak banyak latar kisah yang disajikan dalam film berdurasi 82 menit ini karena banyak penjelasan dituturkan secara singkat dan gamblang melalui dialog. Pembuat film pun terasa memaksakan penempatan dialog dalam momen-momen tertentu. Adegan yang sifatnya formal (serius) atau santai, hampir tak bisa dibedakan.

Banyak hal memaksa dan tanggung dalam plot filmnya. Beberapa properti (seperti lonceng) yang digunakan, tak bisa terjawab secara jelas mengapa dihardirkan di sana. Sikap sinis perawat lain pun tak memiliki argumen jelas dan tidak berdampak signifikan terhadap cerita. Sangat disayangkan pula, mengapa penghuni panti jompo tidak dilibatkan lebih jauh dalam konflik kisahnya, tidak hanya semata sebagai korban dan melulu hanya menampilkan sisi horor dan sadisme. Bicara soal logika, film ini jelas banyak memiliki masalah. Seperti dalam satu momen ketika Maya terikat di ranjang, satu aksi kecil saja tidak mampu dilakukan, bagaimana bisa menyelesaikan masalah yang jauh lebih besar.

Baca Juga  #Teman Tapi Menikah

Banyak kelemahannya menjadikan Kutuk jauh dari daftar rekomendasi film horor bagus, khususnya dari sisi cerita. Unsur setting dan tata cahaya sudah bekerja baik, namun beberapa teknik kamera seperti long take dan ragam pergerakannya, tidak memberi dampak signifikan (tidak bermotif) bagi kisahnya. Sang bintang, Shandy Aulia yang sudah berpengalaman dalam film horor memang sudah bermain baik. Pembawaan dan aktingnya bisa membangun ketegangan dan sisi mistis filmnya. Namun, perannya sebagai penulis dan produser, ternyata tidak membawa pengaruh besar. Agaknya, melihat bagaimana hasil utuh film ini, seorang Shandy Aulia masih lebih pantas berperan sebagai aktris ketimbang produser maupun penulis naskah. Sensasi film ini bukan pada kisahnya tetapi justru pada posternya yang memiliki kemiripan dengan film horor populer The Nun yang ramai dibincangkan di media sosial.

Miftachul Arifin – Mahasiswa Magang

PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaFast & Furious Presents: Hobbs & Shaw
Artikel BerikutnyaBridezilla
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.