Loki (2021–2023)
N/A|Action, Adventure, Fantasy|09 Jun 2021
8.2Rating: 8.2 / 10 from 416,825 usersMetascore: N/A
The mercurial villain Loki resumes his role as the God of Mischief in a new series that takes place after the events of “Avengers: Endgame.”

Dianjurkan untuk menonton serinya sebelum membaca ulasannya.

Loki merupakan seri televisi ketiga yang dirilis Disney dan Marvel Studios sejak awal tahun lalu, setelah WandaVision dan The Falcon and the Winter Soldier yang masih dalam rangkaian Marvel Cinematic Universe (MCU). Serinya kali ini digarap oleh Michael Waldron dengan sang jenius, Kevin Feige masih berada di bangku produser. Seri yang berepisode 6 buah ini masing-masing berdurasi 42-54 menit yang dirilis platform Disney + sejak 9 Juni lalu dan berakhir minggu lalu. Bermain dalam seri ini tentunya sang bintang Tom Hiddleston, bersama Owen Wilson, Gugu Mbatha-Raw, serta Sophia Di Martino. Apakah Loki mampu mencapai standart seri MCU sebelumnya?

Lini masa setting kisahnya adalah ketika momen Avenger’s Endgame, Loki mengambil tesseract dari tangan Avenger dan melarikan diri entah kemana. Dikisahkan kemudian, Loki berhadapan dengan organisasi TVA (Time Variance Authority) yang bertugas mengawal garis waktu agar tidak melenceng. Orang yang melanggar (membuat garis waktu melenceng) diistilahkan “varian” akan  dimusnahkan oleh TVA. Beruntung bagi Loki, ia diberi pilihan, yakni membantu penyelidikan satu kasus rumit yang lama tak terpecahkan, varian yang lepas dari TVA, yang lain dan tidak bukan adalah versi lain dari Loki sendiri.

Sebelum ulasan lebih jauh, seperti kebanyakan masalah dalam film-film MCU. Kompleksitas cerita adalah isu terbesar seri ini. Artinya, bagi yang belum pernah atau mengikuti seri ini sambil lalu, bakal punya masalah besar untuk mencerna kontinuitas plotnya. Tidak terkecuali Loki. Konsepnya yang teramat absurd tentu bakal lebih menyulitkan bagi penonton awam.

Sejak awal, MCU sudah meletakkan pondasi kisah yang begitu kuat sehingga ke mana pun arah pengembangannya bakal tidak sulit untuk membuat konsep kisahnya. Loki hanya bagian kecil dari plot besar MCU yang pada kenyataannya adalah konsep “plot” terbesar dan terluas (dimensi multiverse) yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Istilah “multiverse” telah muncul sejak Doctor Strange, namun baru kali ini multiverse secara nyata disajikan dalam plotnya. Loki begitu mengejutkan dan jauh di luar ekspektasi. Naskahnya begitu “edan” dan berada jauh di luar jangkauan kisah MCU sebelumnya. Konsep yang demikian kompleks disajikan begitu brilian, tanpa menganggu kontinuitas inti plot MCU. Apapun yang terjadi di sini, tidak akan memengaruhi kisah besar MCU. Lini masa plot Loki tersembunyi di ruang keabadian di antara “multiverse” yang fleksibel bergerak ke arah mana pun. Dimensi waktu memang tidak eksis di sini.

Baca Juga  Sound of Freedom

Konsep multiverse memang bukan hal yang mudah untuk dijelaskan. Ini adalah kunci kisah seri ini dan juga kisah film-film MCU mendatang. Judul sekuel Doctor Strange misalnya, sudah memakai embel-embel “multiverse”. Dalam seri pertama Loki, konsep multiverse telah dijelaskan begitu detil dan gamblang. Bisa jadi mudah buat fansnya tapi belum tentu bagi yang awam dengan seri ini. Konsep ini begitu krusial untuk dipahami karena sepanjang kisahnya “lintas ruang dan waktu” adalah hal yang jamak. Plot investigasi sang buronan secara perlahan berubah menjadi konsep eksistensialisme yang semakin rumit untuk dipahami. Apa sebenarnya TVA? Siapa yang membuat TVA? Siapa pula yang mengatur? Siapa sosok sang penjaga waktu? Ini semua adalah pertanyaan sulit yang mampu dijawab secara elegan dalam klimaksnya. Sosok Loki yang kita kenal baik sejak lama begitu cerdas diposisikan dalam plotnya menjadi medium pengantar bagi penonton untuk memudahkan mencerna kisahnya. Bagi saya, dengan permainan dimensi ruang dan waktunya, Loki adalah pencapaian naskah terbaik dalam MCU.

Untuk pencapaian teknisnya, Loki menggunakan standart film-film MCU sebelumnya, khususnya untuk pencapaian visual (CGI) yang sangat mengesankan, sekalipun bukan ditujukan ke layar lebar. Tak ada penurunan standar pula di aspek setting, kostum, hingga musik pun semuanya kelas top. Musik adalah satu unsur yang patut dicermati di sini. Nuansa musik film-film klasik “Kubrick” sudah terasa kental sejak seri pertama dan begitu pas digunakan dalam seri ini (Film-film Kubrick banyak menggunakan konsep eksistensialisme). Dari sisi pemain, selain Hiddleston yang bermain mengesankan, tercatat beberapa pemain mencuri perhatian sepanjang filmnya, yakni Owen Wilson (Mobius), Gugu Mbatha-Raw (Ravonna), serta Sophia Di Martino (Sylvie).

Loki mengambil langkah jauh dari premis maupun konsep cerita, bukan hanya untuk semesta (MCU), atau genrenya, namun juga mediumnya. Konsep kisahnya yang bermain dengan ruang dan waktu dengan begitu kompleksnya adalah sebuah lompatan besar bagi MCU. Lagi-lagi, MCU masih bisa mempertahankan konsistensi kualitas naskahnya, bahkan kini mampu mengeksplorasi lebih jauh konsep eksistensialisme. Sejuta pertanyaan memang masih belum terjawab dan masih menjadi misteri. Secara terang-terangan para pembuat film telah membuka kelanjutan seri musim keduanya. Semoga pencapaiannya lebih baik dari musim pertamanya. Tak bisa dipungkiri, Loki adalah salah satu pencapaian terbaik seri MCU. Tinggal menunggu waktu sebelum ada yang menyebut seri ini sebuah masterpiece.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaJangan Sendirian
Artikel BerikutnyaSpace Jam: A New Legacy
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.