Mimi, sebuah judul yang unik dan mudah diingat. Namun, filmnya tidak sesederhana yang saya bayangkan. Meninggalkan kesan yang membekas bahkan dapat menjadi bahan renungan. Bagi saya yang sudah lama tidak menonton film Bollywood sejenis ini, lengkap dengan tarian khasnya, film yang tayang di Netflix ini layak ditonton ulang. Sebagus itukah? Mimi disutradarai Laxman Utekar yang sekaligus menulis naskahnya bersama Rohan Shankar. Naskah film ini berdasarkan novel berjudul Mala Aai Vhhaychy! karangan Samrruddhi Porey. Mimi dibintangi oleh Kriti Sanon, Pankaj Tripathi, dan Sai Yamhankar.

Sepasang suami istri warga negara AS, John dan Summer, datang ke Rajashtan untuk mencari ibu pengganti (surrogate mother) karena kondisi medis sang istri tidak memungkinkan untuk mengandung dan melahirkan bayi. Pilihan mereka akhirnya jatuh pada Mimi, seorang penari muda yang lincah dan bugar. Mimi yang membutuhkan uang untuk mengejar mimpinya menjadi artis Bollywood pun menyetujui dengan imbalan uang yang sangat besar. Sayangnya, setelah menjalani proses kehamilan, kondisi janinnya diduga terdapat kelainan fisik (down syndrome). John dan Summer pun menolak calon bayi mereka. Masalah kemudian berkembang pelik yang membuat hidup Mimi berubah selamanya.

Menonton Mimi sangatlah menyenangkan. Alur cerita tidak lambat, tidak juga terlalu cepat. Seperti lazimnya film Bollywood, film ini terasa panjang kisahnya tetapi tidak terasa membosankan. Sejak awal, penokohan karakter Mimi ditampilkan dengan sangat baik. Penggambaran perempuan muda yang penuh semangat dan cita-cita berhasil dibawakan apik oleh Kriti Sanon.

Satu adegan kecil yang berkesan adalah ketika Mimi berjalan dengan cara melenggok dan centil saat berjalan di area rumah sahabatnya. Ia mengenakan pakaian penyamaran, yaitu gamis panjang lengkap dengan kain penutup wajah. Umumnya, perempuan dengan pakaian seperti itu akan bersikap dengan kalem dan tenang tapi Mimi tetap menjadi dirinya sendiri, toh pasti sulit untuk tiba-tiba mengubah gesture. Pada adegan sederhana ini, Kriti Sanon tampak sangat luwes dan mendalami karakternya sebagai penari yang bersemangat, berhasrat dan percaya diri. Secara umum, karakter yang melekat pada orang yang menyukai tari, baik sebagai penari professional atau sekedar hobi semata adalah sangat menikmati setiap gerak tubuhnya, percaya diri dan tampak berkharisma. Mungkin adegan ini tampak sepele, namun membuat saya memberikan nilai plus pada kualitas akting Sanon.

Baca Juga  My Neighbor Totoro, Kombinasi Imajinasi dan Falsafah Hidup

Tak dipungkiri, isu dan konflik dalam film ini sebenarnya terlalu berlapis untuk dikisahkan dalam satu film. Namun, film ini mampu mengatur dan menyelesaikan satu demi satu konfliknya dengan ending yang menyentuh.

Seperti yang dikatakan Shama, sahabat Mimi: “Hidup bukanlah apa yang kita bayangkan akan terjadi. Hidup itu apa yang terjadi kepada kita.” Ini adalah pelajaran hidup yang dialami Mimi. Kita tidak bisa menyamaratakan bahwa semua perempuan memiliki keinginan yang sama untuk menjadi ibu. Ada perempuan yang sejak kecil sangat ingin menjadi ibu, namun ada juga perempuan yang lebih tertarik untuk mengejar mimpinya seperti Mimi. Meski ada juga yang menginginkan kedua hal tersebut. Lalu bagaimana jika ingin memiliki anak tetapi ternyata tidak siap dengan segala konsekuensinya? Ini adalah pelajaran hidup bagi Summer. Ending-nya memberikan resolusi yang memuaskan bagi keduanya dan penonton.

Terlanjur Sayang. Ini mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Mimi. Kedekatan seorang ibu dan anak dalam keseharian mereka. Melalui interaksi yang lembut dan penuh kesabaran, menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian. Memahami bahwa sang anak membutuhkan perlindungan, hingga sang ibu menghabiskan waktu, tenaga, pikiran serta materi untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi sang anak. Melewati momen suka dan duka, rasa kasih sayang pun terbentuk semakin dalam. Atas dasar itu, ikatan perasaan ibu dan anak tidak hanya terwujud dalam batasan kandung atau bukan kandung. Pesan penuh kesan yang layak menjadi bahan perenungan, “kau tak perlu melahirkan seorang anak untuk menjadi orang tua. Kau pun tak perlu punya anak kandung untuk jadi orang tua”. Ya, seandainya hal itu dipahami semua orang, kita mungkin tidak lagi melihat anak-anak berkeliaran di jalan dengan kondisi menyedihkan untuk mencari uang, termasuk menjadi manusia silver.

Mimi memberikan gambaran sempurna tentang kegelisahan, kesedihan, penyesalan, keinginan mendalam, kemarahan, serta keikhlasan seorang ibu. Mimi menjadi film kedua tahun ini setelah Black Widow, yang mampu membuat saya terkesan dengan penggambaran dan pesan yang berkaitan dengan perempuan.

PENILAIAN KAMI
Overall
85 %
Artikel SebelumnyaWildland
Artikel BerikutnyaThe Suicide Squad
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.