Moonshot adalah film komedi romantis sci-fi arahan Chris Winterbauer. Film ini dibintangi nama-nama yang tengah naik daun, Lana Condor, Will Sprouse, Mason Gooding, dan Zach Braff. Moonshot dirilis oleh platform streaming HBO Max beberapa waktu lalu. Melalui kombinasi genre yang unik ini, lalu apakah film ini mampu meresponnya dengan baik?

Bumi pada tahun 2049, tak lagi satu-satunya habitat umat bumi yang sebagian kini hijrah ke planet Mars. Walt (Sprouse) adalah seorang pemuda pas-pasan yang berambisi pergi ke Mars. Sementara Sophie (Condor) yang tengah menyelesaikan tesisnya selalu kangen dengan pacarnya, Calvin yang berada di Mars. Sophie akhirnya memberanikan diri pergi ke sana, sementara Walt menyelundup masuk pesawat menggunakan tabung pelarian. Sofie yang memergoki Walt, lalu menyembunyikan Walt di kamarnya dengan menggunakan identitas pacarnya. Sepanjang perjalanan ke Mars, keduanya semakin dekat dan sesuatu pun terjadi.

Plotnya memang banyak mengingatkan pada Passengers (2016) yang diperankan Chriss Pratt dan Jennifer Lawrence. Namun, plot Passengers jauh lebih mengarah ke drama roman serius. Sementara Moonshot adalah satu kombinasi genre segar (rom-com plus sci-fi) dengan premis unik. Perpaduan ini yang saya tunggu sejak lama, namun sayang, eksekusinya jauh dari ekspektasi. Walau memiliki beberapa momen manis, namun banyak hal dalam kisahnya tidak bisa dibilang logis. Plotnya memberikan kesan tak serius sepanjang film sehingga kita pun tak mampu menanggapi serius kisahnya. Satu contoh kecil, Walt yang tak pernah sama sekali ke ruang angkasa, bagai seorang astronot berpengalaman, terlihat begitu mudahnya bisa berjalan-jalan di luar angkasa bersama Sophie. Huh?

Sebuah kombinasi genre yang segar, sayangnya Moonshot tidak mampu mengembangkan cerita seperti yang dijanjikan premisnya. Bagi penikmat genrenya, alur plotnya tentu terlalu mudah untuk diantisipasi. Sementara chemistry dua kasting utamanya, juga masih kurang greget, dan terlihat mereka hanya berakting tanpa mampu melebur ke dalam karakternya. Keduanya seringkali berakting berlebihan dan naskahnya pun banyak memaksakan cerita. Komedi romantis memang bukan perkara mudah untuk dibuat. Penampilan memikat kasting utamanya adalah lebih dari separuh keberhasilan genre ini. Masih ditunggu perpaduan genre komedi roman sci-fi yang lebih baik.

Baca Juga  Valerian and the City of a Thousand Planets

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Contractor
Artikel BerikutnyaApollo 10½: A Space Age Childhood
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.