Munich: The Edge of War (2021)
130 min|Biography, Drama, History|21 Jan 2022
6.8Rating: 6.8 / 10 from 35,728 usersMetascore: 53
A British diplomat travels to Munich in the run-up to World War II, where a former classmate of his from Oxford is also en route, but is working for the German government.

Film bertema Perang Dunia Kedua (PD II) boleh jadi sudah ratusan banyaknya dengan segala variasi genrenya. Munich: The Edge of War mencoba menawarkan perspektif cerita yang segar, yakni momen sebelum PD II terjadi. Film rilisan Netflix  yang merupakan produksi patungan Inggris dan Jerman ini diarahkan oleh sineas Jerman, Christian Schwochow. Kisah filmnya diadaptasi dari novel berjudul Munich (2017) karya Robert Harris. Film ini dibintangi oleh aktor kawakan Jeremy Irons, aktor Inggris George MacKay, serta aktor Jerman Jannis Niewohner. Apakah film ini mampu memberi sumbangan berarti untuk subgenrenya?

Hugh (MacKay) asal Inggris dan Paul (Niewohner) asal Jerman adalah sahabat dekat ketika mereka sama-sama kuliah di Oxford, Inggris pada tahun 1932. Namun, pandangan politik mereka saling bertolak belakang. Enam tahun kemudian, mereka sama-sama bekerja untuk pemerintah masing-masing, yang kini tengah dalam situasi politik yang memanas. Hugh bekerja untuk PM Inggris, Naville Chamberlain (Irons), sementara Paul bekerja sebagai penerjemah kantor biro luar negeri Jerman. Suatu ketika, Paul mendapatkan sebuah dokumen rahasia maha penting yang berisi bukti bahwa Hitler berniat untuk menguasai Eropa. Di tengah situasi genting, Hugh dan Paul harus bekerja sama agar dokumen ini bisa sampai ke tangan sang perdana menteri.

Harus diakui, kisahnya memang memiliki perspektif yang segar untuk subgenre PD II. Kita sudah tahu persis, apa yang bakal terjadi bahwa Hitler bakal menginvasi Eropa dengan pasukan militernya. Puluhan film tanpa harus kita sebutkan telah menyajikan bagaimana panasnya situasi medan perang hingga kekejaman Nazi di kamp konsentrasi. Namun, belum ada yang mengambil sudut pandang, momen-momen genting dari sisi politik sebelum PD II terjadi. The Edge of War mampu menyajikannya melalui sisi drama dengan baik, dengan selipan sisi politik dan sedikit unsur thriller.

Poin kisah bukan pada hasil negosiasi politik tapi pada nasib dua protagonis kita. Apakah mereka bisa selamat ke luar dari situasi lubang jarum? Banyak pertanyaan yang mengganjal sepanjang film, apa ini semua benar-benar terjadi? Beberapa aksinya terasa terlalu didramatisir. Satu contoh saja, apa Paul benar-benar dalam situasi man- to-man dengan Hitler, begitu mudahnya membawa senjata ke ruang sang diktator seperti itu? Faktanya, film ini bukan biografi yang didasarkan kisah nyata. Ini jelas yang menjadi titik lemah kisah filmnya. Segenting apapun situasinya, ini semata hanya rekaan.

Baca Juga  Monster Trucks

Munich: The Edge of War, memberi perspektif cerita segar bagi genrenya (PD II), namun dengan segala usaha kerasnya, plotnya tidak mampu menyajikan sebuah thriller yang menggigit karena nature kisahnya yang fiksi. Jika memang dimaksudkan untuk sebuah sajian thriller kuat, film ini tidak memiliki materi kisah yang kuat. Setidaknya, The Edge of War memiliki sisi artistik yang sangat baik serta performa dua kasting utama yang menawan, plus akting karismatik dari Jeremy Irons sebagai sang PM. Di lini masa yang berlawanan, menjelang akhir PD II, film ini entah kenapa mengingatkan saya pada film Jerman, Downfall. Sebuah karya masterpiece tanpa cacat yang menyajikan jam-jam terakhir masa hidup Hitler. Dari sisi kualitas, Downfall berada di kutub yang bertolak belakang dengan The Edge of War.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaCopshop
Artikel BerikutnyaPenyalin Cahaya
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.