Rambo: Last Blood (2019)
89 min|Action, Adventure, Thriller|20 Sep 2019
6.8Rating: 6.8 / 10 from 17,078 usersMetascore: 26
Rambo must confront his past and unearth his ruthless combat skills to exact revenge in a final mission.

Siapa yang tak kenal John Rambo? Sama seperti halnya Rocky yang diperankan Stallone, Rambo adalah satu sosok legendaris dalam sejarah sinema. Setelah tiga film pertama yang dirilis pada dekade 1980-an, sekuelnya diproduksi dua dekade kemudian, Rambo (2008), yang tak lagi memiliki karisma dan enerji yang sama. Satu dekade kemudian, rupanya Stallone masih ingin menutup kisah sang jagoan dengan gayanya. Naskahnya, bahkan ia tulis sendiri dengan arahan dari Adrian Grunberg yang sebelumnya berpengalaman membuat film bernuansa kartel (Get the Gringo) bersama Mel Gibson. Stallone terbukti telah berhasil menghidupkan kembali karakter Rocky dalam Balboa dan seri Creed. Bagaimana dengan Rambo?

Kisahnya sederhana saja. John yang kini tinggal di tanah kelahirannya di Arizona, menghabiskan sisa hari tuanya bersama adik angkat dan keponakannya, Gabrielle. John selama ini rupanya masih trauma dengan masa lalunya yang dihantui rasa bersalah karena kematian rekan-rekannya. Suatu ketika, sang ponakan pergi ke Meksiko untuk mencari ayah kandungnya, sekalipun John pernah melarangnya. Gabriele akhirnya terperangkap dalam sindikat perdagangan perempuan yang didalangi satu kartel lokal. John mencoba menyelamatkan sang ponakan dengan cara yang ia kuasai benar, jalan kekerasan.

Apa yang kita harapkan dari sosok macam John Rambo? Kita tahu persis, plotnya hanya menggiring agar Rambo melakukan aksi-aksi yang memang ia terlahir untuk ini, yakni perang dan membunuh musuh. Rambo: Last Blood menampilkan semuanya tanpa terkecuali dengan cara yang jauh lebih sadis dan brutal dari semua seri sebelumnya. Isu perdagangan manusia sebenarnya sudah digulirkan secara menarik, namun arah kisahnya berjalan ke arah yang salah. Agak mengherankan, dengan aksi sadis seperti ini, rating film ini hanya 17 tahun ke atas (bukan 21 tahun ke atas). Mungkin sebagian fans Rambo menikmati ini tapi jelas tidak untuk saya.

Baca Juga  The Possession of Hannah Grace

Apa yang dilakukannya kali ini hanya semata karena amarah dan dendam. Setelah semua pengalaman hidup mati yang terjadi padanya, rupanya John masih belum beranjak bijak. Pada seri-seri sebelumnya, ia membunuh karena ia memang terpaksa melakukannya untuk membela diri, namun apa yang ia lakukan sekarang sangat jauh dari itu. Seperti mengutip kata-kata sang mentor, Kolonel Trautman, “Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun, namun Rambo tidak”. Secara literal, kini Rambo berubah menjadi sosok dewa kematian. Tanpa ada rasa sisi manusiawi ia membantai semuanya dengan ultra brutal dan kejam. Sangat menyedihkan, ketika menonton film ini, beberapa orang tua justru membawa putra-putri mereka yang masih kecil. Mungkin mereka pikir, Rambo masih bisa menjadi teladan putra-putri mereka seperti jaman ketika menontonnya dulu.

Rambo: Last Blood bukan hanya film yang buruk, namun juga tak memiliki value. Tribute film ini untuk satu sosok ikonik dalam sejarah sinema, hanyalah satu hal, yakni KEMATIAN. Film ini justru membunuh sosok John Rambo dengan plotnya tanpa ada sisi manusiawi yang bisa kita ambil. Satu nilai pun tak ada dalam filmnya, selain amarah dan kebencian. Saya tak berharap, Stallone dapat mengangkat karakternya seperti yang ia lakukan dengan sosok Rocky dalam seri Creed. Tapi, John Rambo sepertinya butuh penghargaan yang lebih dari sekadar ini semua. Tidak ada poin untuk film ini karena memang Last Blood tak memiliki poin. Poin macam ini sudah banyak kita lihat di berita masa kini yang memberitakan kebencian, kekerasan, ketamakan, bencana, serta hal-hal tak masuk akal lainnya yang jauh dari nilai-nilai luhur manusia.

PENILAIAN KAMI
Artikel SebelumnyaLorong
Artikel BerikutnyaAd Astra
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

4 TANGGAPAN

  1. Kritikus yang gak bisa enjoy film apa adanya ya ini, semua film aja sekalian gak kasih nilai, sok sok an kritik,buat film aja kagak,apresiasi lah,nonton kok dibuat serius,pansos

  2. Saya rasa film rambo layak mendapat nilai atas pencapaiannya. Apalagi ini adalah jenis film action. Adalah naif menilai genre action dg penilaian drama dan humanis. Kecuali anda adalah directornya, mungkin anda bisa mengubah sesuai skenario anda.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.