Raya and the Last Dragon (2021)
107 min|Animation, Action, Adventure|05 Mar 2021
7.3Rating: 7.3 / 10 from 172,283 usersMetascore: 74
In a realm known as Kumandra, a re-imagined Earth inhabited by an ancient civilization, a warrior named Raya is determined to find the last dragon.

Raya and The Last Dragon adalah film produksi Walt Disney Animation Studios yang digarap oleh Don Hall dan Carloz Lopez Estrada. Kisahnya yang berupa fiksi, konon diinspirasi dari kombinasi cerita budaya negara-negara di Asia Tenggara. Film ini diisi vokalnya oleh beberapa nama yang tak asing lagi, seperti Kelly Marie Tran, Awkwafina, Gemma Chan, Benedict Wong, Sandra Oh, hingga Alan Tudyk. Lantas seberapa dekat kini Walt Disney Animation dekat dengan pesaing terbesarnya (Pixar Studios)? Dengan Raya and the Last Dragon rasanya kini mereka sudah berada di level yang sama.

Alkisah ratusan tahun silam terdapat negeri antah berantah bernama Kumandra yang aman sentosa. Negeri nyaris musnah seketika akibat entiti gelap bernama Druun, sebelum diselamatkan oleh seekor naga mistik bernama Sisu. Setelahnya, Kumandra terpecah menjadi lima wilayah yang saling bermusuhan selama ratusan tahun, yakni Heart, Tail, Fang, Spine, dan Talon. Raya adalah putri cilik dari ketua suku Heart yang memiliki harapan menyatukan kelima wilayah ini. Akibat kelalaian Raya menyebabkan Druun kembali muncul yang nyaris memusnahkan seluruh negeri. Enam tahun berselang, Raya kini mencoba menutup kesalahan masa ciliknya dengan mencari Sisu yang konon terjebak di antara hilir sungai wilayah Kumandra. Harapan Raya, sang naga mampu menyelamatkan sang ayah dan menyatukan seluruh negeri.

Baca Juga  Angels & Demons

Kisah Raya sederhana dan tak sulit untuk diikuti penonton segala usia. Sejauh ini, Raya adalah kisah terbaik yang pernah disajikan Walt Disney Animation dengan segala kekayaan dan keunikan ceritanya. Plot yang berupa petualangan dan pencarian dengan belasan karakter unik, variasi lokasi cerita, serta sisipan bayolannya, tak bakal membuat penonton sedetik pun merasa bosan. Tak hanya ini, Raya juga memiliki kisah yang menyentuh dengan pesan mendalam tentang rasa saling percaya dan persahabatan. Dengan pesona estetiknya, khususnya visualnya yang sangat luar biasa, Raya adalah sebuah tontonan komplit yang bakal memuaskan penontonnya.

Dengan pencapaian visual berkualitas tinggi serta kisah yang menghibur sekaligus pesan mendalam, Raya and the Last Dragon sejauh ini adalah film animasi produksi Walt Disney Animation yang terbaik. Hangat, menghibur, mendidik, dan di atas semuanya memiliki ketulusan dan jiwa besar. Apa lagi yang mau kita cari? Kisah Raya sangat terhubung dengan apa yang tengah terjadi dengan umat manusia sekarang. Pesan film ini bisa menjadi solusi masa kelam yang hingga kini tak kunjung tuntas. Kita memang membutuhkan tontonan seperti ini. Tak hanya sekadar tontonan menghibur, namun juga mampu membangkitkan kesadaran kolektif tentang situasi yang kita alami sekarang. Berani bertaruh? Film ini rasanya bakal meraih Piala Oscar untuk film animasi terbaik tahun depan. Jangan lewatkan tontonan berkelas dan berkualitas ini di bioskop terdekat. Keep your distance and wear a mask.

Stay safe and Healthy.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaSon
Artikel BerikutnyaThe Mauritanian
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.