Spies in Disguise (2019)
102 min|Animation, Action, Adventure|25 Dec 2019
6.8Rating: 6.8 / 10 from 56,512 usersMetascore: 54
When the world's best spy is turned into a pigeon, he must rely on his nerdy tech officer to save the world.

Spies in Disguise adalah film animasi arahan duo sineas debutan, Nick Bruno dan Troy Quane. Uniknya, film ini diadaptasi lepas dari film animasi pendek berjudul Pidgeon: Impossible (2009) karya Lucas Martell. Film ini diisi suara oleh bintang-bintang papan atas, yakni Will Smith dan Tom Holland, bersama Rashida Jones, Karen Gillan, Ben Mendelsohn, hingga DJ Khaled. Mampukah film produksi Blue Sky Studios ini bersaing dengan film-film animasi raksasa keluaran Disney yang rilis sebelumnya?

Lance Sterling adalah agen rahasia nomor satu di agensinya. Sementara karyawan satu kantornya, Walter Becket, pemuda jenius dengan gadget canggihnya, dipecat dari kantor. Dalam perkembangan, Lance dijebak oleh sang musuh dan ia pun diburu oleh para agen satu kantornya. Ia pun meminta serum pada Walter untuk bisa menghilang. Alih-alih menghilang, Lance justru meminum serum yang merubahnya menjadi seekor merpati.

Tak perlu banyak berpikir, kisahnya berjalan sangat ringan tanpa basa-basi. Plotnya pun terus bergerak dinamis tanpa henti sejak awal. Bagi penikmat film tentu tak sulit untuk menebak arah kisahnya. Satu hal yang menonjol adalah jelas sisi humornya. Sejak Lance berubah menjadi merpati, tak ada satu adegan pun lepas dari sisi humor. Ini tinggal masalah selera humor dan target penontonnya. Beberapa momen kadang memang membuat saya tertawa geli, khususnya ketika para merpati dengan polahnya beraksi. Namun, tidak untuk penonton anak-anak dalam satu studio yang tergelak lepas sepanjang filmnya. Sungguh menyenangkan mendengar tawa lepas mereka dan saya pun kadang merasa iri, tidak bisa lagi menikmati filmnya seperti mereka.

Baca Juga  Napoleon

Smith dan Holland tentu juga yang membuat film ini lebih hidup dengan kualitas akting suara mereka. Khususnya Smith, karakter suaranya justru lebih pas, enerjik, dan “konyol” sejak Lance berubah menjadi merpati. Beberapa dialognya pun memang begitu konyol dan menghibur. Coba saja dialog ini, “Saya bisa melihat tubuhku dari pantat (belakang) sampai kamu (di depan) di saat yang bersamaan!”, kapan ini bisa muncul jika tidak dalam kisah film ini. Dalam beberapa adegan, entah mungkin kebetulan, banyak hal yang mirip dengan plot Spider-Man: Far from Home, seperti setting di Venice, drone, serta ketika mereka bergelantungan layaknya sosok super yang kebetulan pula dimainkan Tom Holland.

Ringan, menghibur, serta penuh humor, Spies in Disguise bekerja maksimal untuk target utama penontonnya (anak-anak dan remaja). Jika dibandingkan dengan film-film raksasa produksi Pixar, film ini jelas bukan lawan sepadan. Walau begitu, film ini pun masih menyisipkan cukup pesan dan nilai untuk penontonnya. Namun, rasanya mereka tak akan menghiraukannya selain polah lucu para merpati dalam filmnya.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaImperfect: Karier, Cinta, dan Timbangan
Artikel BerikutnyaIp Man 4: The Final
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.