Ip Man 4: The Finale (2019)
105 min|Action, Biography, Drama, History|20 Dec 2019
7.5Rating: 7.5 / 10 from 4,191 usersMetascore: 62
The Kung Fu master travels to the U.S. where his student has upset the local martial arts community by opening a Wing Chun school.

Ip Man 4: The Final merupakan seri ke-4  semibiografi master Wing Chun, Ip Man yang kembali dibintangi aktor laga kawakan, Donnie Yen. Sejak rilis Ip Man (2008) lebih dari satu dekade lalu, telah disajikan kisah sosok sang master dari masa ke masa, dan kini adalah seri penutupnya. Seri keempat ini, seperti 3 seri sebelumnya, kembali diarahkan oleh Wilson Yip dengan bujet terhitung besar, yakni USD 52 juta.

Alkisah sepeninggal istrinya, di hari tuanya, sang master kini tinggal bersama putranya. Vonis penyakit yang dideritanya sebagai perokok berat, membuatnya menolak untuk menghadiri undangan muridnya, Bruce Lee ke Amerika. Namun, keinginannya untuk menyekolahkan anaknya di luar negeri, akhirnya memaksanya untuk terbang ke negeri Paman Sam untuk bertemu sang murid. Di sana, ia harus melihat kenyataan bahwa warga Cina sebagai minoritas ternyata mendapatkan perlakuan tak adil dari warga kulit putih. Sekali lagi, sang master menggunakan kemampuan bela dirinya untuk melawan musuh-musuhnya.

Sejak film bermula, saya merasakan kejanggalan dari sosok sang aktor yang rasanya masih terlalu muda untuk memerankan sosok Ip tua. Dari seri ke seri, sosok sang aktor tak terlihat perubahan yang siginifkan, hanya kini tampak sedikit uban di rambutnya yang tetap saja tidak membuatnya terlihat lebih tua. Ip dan Lee, lebih tampak seperti kakak adik ketimbang guru dan murid. Okelah, untuk tujuan target penontonnya, faktor ini kita abaikan saja. Toh, ini juga bukan biografi murni.

Dibandingkan seri-seri sebelumnya, sisi manusiawi sang tokoh kini lebih dominan terlihat. Penonton (fans) diingatkan jika sosok tanpa tanding ini juga ternyata manusia biasa yang bisa sakit. Ia ternyata juga masih egois memaksakan anaknya untuk bersekolah. Petualangan di akhir hidupnya dan fakta yang terjadi di negeri seberang ternyata kembali mengusik rasa keadilannya yang sekaligus membuatnya lebih bijak melihat dunia di masa kini. Chemistry antara Ip dengan sang gadis remaja, Yonah, terasa begitu hangat sekalipun hanya beberapa momen saja. Sesuatu yang tak pernah ada dalam seri sebelumnya. Namun memang dalam banyak momen, sisi pelecehan terhadap kaum minoritas digambarkan sedikit berlebihan.

Baca Juga  The Villainess

Dalam perkembangan cerita, namanya juga aksi laga, beberapa plot memang terasa sedikit memaksakan untuk memunculkan adegan aksi (seperti seri-seri sebelumnya), khususnya pada separuh akhir cerita. Satu segmen bahkan menampilkan aksi penuh, sang murid menghajar satu kelompok beladiri pesaingnya. Ini jelas untuk penonton bukan motif kisahnya, berbeda ketika Ip memberi pelajaran teman-teman Yonah di sekolah. Semua setelah separuh akhir adalah untuk penonton, banyak tak logis memang, tapi bukannya tidak bisa kita nikmati. Seperti sebelumnya, segmen aksi seri Ip Man adalah salah satu yang terbaik sejak seri Kung-Fu Master yang dibintangi Jet Li. Namun, dari semua koreografi aksi yang menawan dalam film ini, jujur saja, adegan adu tenaga dalam di meja makan bagi saya adalah yang terbaik.

Satu lagi yang bisa saya nikmati dalam film penutup ini adalah setting dan tone warna filmnya. Layaknya film-film produksi Hollywood mapan, film ini dengan begitu mengesankan mampu menggambarkan setting kota San Fransisco dan sekitarnya pada era 1960-an, baik eksteriror maupun interior. Walau terlihat sekali menggunakan studio untuk beberapa segmen eksteriornya, namun tata pencayahaan dalam banyak adegannya tampak mengagumkan, seperti ketika Bruce Lee beraksi di jalanan dan gang kota. Rasanya dari sisi capaian teknis ini, seri keempat adalah yang terbaik.

Dengan pengembangan kisah yang rada memaksa, IP Man 4: The Final, rasanya bakal memuaskan para fansnya dengan sekuen aksinya, setting San Fransisco yang menawan, serta sosok Bruce Lee. Walau Donnie Yen mengatakan ini adalah seri penutup, bukan tidak mungkin kisah prekuel atau spin-off, sosok ini bakal masih dimunculkan. Yen sendiri pernah mengatakan hal yang sama ketika rilis seri kedua, namun faktanya? Siapa yang tak suka dengan sosok legendaris ini beraksi dan dengan karismanya Yen mampu menampilkannya dengan sempurna. Dengan kekuatan akting sang pemain dan potensi kisahnya, seri ini sebenarnya masih sangat mampu untuk menghadirkan satu tontonan aksi yang berkelas dengan kisah menyentuh serta sisi humanis yang kuat.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaSpies in Disguise
Artikel BerikutnyaAshfall
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.