Memindah sebuah panggung pertunjukan ke setting film memang bukan hal baru, namun terhitung langka dilakukan oleh para pembuat film. The Outfit adalah film drama kriminal arahan sineas debutan Graham Moore yang diadaptasi dari naskah pertunjukan yang ditulisnya sendiri bersama Johnathan McClain. Bermain dalam film ini adalah sederetan nama-nama tenar, Mark Rylance, Dylan O’Brien, Zoey Deutch, serta Johnny Flynn. Lantas seberapa unik adaptasi filmnya?

Leonard Burling atau sering dipanggil “English” adalah seorang penjahit berkelas di Kota Chicago yang menyamakan hasil pekerjaannya sebagai sebuah karya seni. Klien utama Leonard adalah para pentolan gang kriminal Kota Chicago, bos Roy Boyle, yang operasional organisasinya dikelola oleh Francis (Flynn) dan putera Roy, Richie (O’Brien). Kelompok ini menggunakan toko Leonard sebagai tempat transit keluar masuknya informasi via kotak surat. Leonard dan asistennya, Mable (Deutch) pun tak peduli dengan situasi ini selama pekerjaan mereka tidak terganggu. Hingga suatu malam, Francis membawa Richie dalam kondisi tertembak oleh gang rival mereka, LaFantoine. Malam yang panjang pun di mulai.

Beberapa film tercatat menggunakan pendekatan yang sama, catat saja The Rope, Dial M for Murder, Streetcar Named Desire, Dogville, Carnage, serta beberapa film lain yang saya tak ingat judulnya. Setting interior terbatas serta jumlah pemain minim dengan penekanan kuat pada dialog pada naskahnya adalah ciri khas film-film ini. The Outfit pun hanya menggunakan setting interior toko jahit (tiga ruangan) plus satu eksterior toko. Hanya dengan bermodal setting ini alur kisahnya mampu bergerak secara dinamis.

The Outfit memulai kisahnya dengan menggunakan suara narator Leonard sendiri. Setelah titik balik cerita, kisahnya pun berjalan menerus hingga akhir. Patut dipuji bagaimana naskahnya dengan sabar membangun intensitas dramatik tanpa sedikitpun mengendur hingga klimaks besar di penghujung. Bermain-main dengan ruang terbatas yang ada, plotnya mampu menyajikan ketegangan tinggi yang membuat kita tak mampu duduk nyaman. Dalam beberapa momen, film ini banyak mengingatkan pada The Rope, kisah pembunuhan yang terjadi hanya dalam satu apartemen (dan satu kontinuiti shot!). Namun dalam The Outfit, tensi drama makin meninggi karena ada faktor ancaman nyawa di sana. Naskah dan dialognya yang selalu penuh kejutan, menggiring kita untuk menikmati pertunjukan “teater” ini dengan intensitas tinggi.

Baca Juga  Wall.E

Pendekatan teater tidak lantas membuat sisi estetiknya monoton. Aspek editing dan sinematografi pun turut memberi peran kuat. Di segmen awal, bahkan teknik montage yang elegan pun digunakan untuk memperlihatkan aktivitas rutin para gangster di toko jahit tersebut. Begitu pula, sisi sinematografi terukur yang memadu dengan pergerakan dan posisi para pemain sehingga ruang terbatas mampu dimaksimalkan. Pencapaian akting para pemain jelas adalah faktor paling utama yang menjadi kekuatan terbesar filmnya. Bermain sebagai sang penjahit, maaf “cutter”, Rylance terlihat tampak begitu menikmati perannya. Tanpa berbicara pun, ekspresi wajahnya telah mampu berbicara banyak. Wajah tanpa dosanya, sungguh sempurna untuk bermain dalam peran istimewa semacam ini.

The Outfit melalui naskah berkelas dan permainan akting para kasting yang menawan membuat kita layaknya menikmati pertunjukan panggung di bangku depan. Walau mungkin para penikmat film bisa menebak gelagat arah kisahnya, namun prosesnya tetap sulit diantisipasi. Intensitas tiap adegannya membuat kita larut dalam momen tanpa memberi kesempatan berpikir jauh. Satu poin lemah yang membuat film ini tidak mampu berada dalam level masterpiece adalah kedalaman kisahnya. The Outfit punya potensi besar jika tidak bergegas mengakhiri kisahnya. Apa sebenarnya motif terselubung dari Leonard untuk membuat toko jahitnyanya menjadi ruang panggung drama penuh hasut seperti itu. Apa ini hanya kebetulan karena pintar melihat situasi atau segalanya telah direncanakan dengan matang, ataukah keduanya? Latar kisahnya rasanya kurang untuk mendukung ini, tidak cukup hanya dengan penjelasan satu dua penggal dialog saja.  “I’m a cutter not a tailor”, apa mungkin ini sudah cukup menjawab? Atau mungkin hanya saya saja yang tak mampu memahami bedanya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaAll the Old Knives
Artikel BerikutnyaI Need You Baby
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.