The Rhythm Section (2020)
109 min|Action, Drama, Mystery, Thriller|31 Jan 2020
5.3Rating: 5.3 / 10 from 12,701 usersMetascore: 45
A woman seeks revenge against those who orchestrated a plane crash that killed her family.

The Rhythm Section adalah film thriller spionase garapan Reed Morano yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Mark Burnell. Burnell pula yang menulis naskah film ini. Hal mengejutkan adalah produser film ini adalah duo, Barbara Broccoli dan Michael G. Wilson yang telah kita kenal melalui seri ikonik, James Bond. Film berbujet USD 50 juta ini dibintangi oleh Blake Lively, Jude Law, serta Sterling K. Brown. Seperti sudah diduga filmnya memang tak jauh dari genre spionase hanya saja, kini kisahnya sedikit unik.

Alkisah Stephanie (Lively) harus kehilangan seluruh keluarganya karena pesawat yang mereka tumpangi dibom teroris. Stephanie depresi berat dan hidupnya hancur hingga seorang jurnalis datang kepadanya memberi informasi jika sosok teroris yang menjadi dalang hingga kini masih bebas berkeliaran di Kota London. Steph yang penuh amarah mencoba membunuh sang teroris. Dalam perkembangan, Steph tanpa ia sadari terjebak dalam situasi pelik di tengah intrik spionase dengan beragam kepentingan.

Sejak lama, saya menginginkan sebuah film yang mengisahkan latar belakang sosok James Bond. Apa yang membuat sosok Bond menjadi seorang James Bond? Adakah trauma, penyesalan, atau amarah yang membuatnya bisa menjadi agen tangguh ber-“tangan dingin” seperti yang kita kenal. Casino Royale adalah sebuah reboot, dan ini bukan yang saya cari. The Rhythm Section adalah jawabnya, meskipun sosoknya perempuan. Konsep dan ide “The Origin of Bond” ada di sini. Ini mungkin adalah alasan mengapa Broccoli dan Wilson memproduseri film ini.

Baca Juga  Bleed for This

Di awali dengan segmen yang tak nyaman dan membuat kita frustasi, jujur saja, arah filmnya sulit untuk ditebak. Berjalannya waktu, kisahnya mulai jelas dan gamblang. Sedikit intrik, tidak membuat otak kita banyak berpikir karena film ini bukan berkisah tentang politik, namun proses seseorang yang rapuh menjadi sosok berkepribadian kuat dan percaya diri. Sang bintang bermain sangat menawan, dan Blake Lively adalah pilihan kasting yang tepat. Kebimbangan, keraguan, dan ketakutan nyaris tak pernah lepas dari wajahnya. Kita pun seolah bisa merasakan keraguan ini dan ini yang membuat karakternya tidak bisa kita prediksi. Jika kita menggunakan perspektif “Origin of Bond”, alur kisahnya adalah sebuah pengalaman segar yang sangat menegangkan.

Satu hal yang membuat sedikit tak nyaman adalah pilihan estetiknya. Seri Bourne pun menggunakan gaya estetik “shaky camera” sama, namun film ini penyajiannya kadang kelewat kasar, baik kamera maupun editing. Jika menonton di bioskop, bisa jadi perut saya sudah mual. Warna gambarnya pun pucat. Motifnya bisa saya terima jika memang ingin menggambarkan status mental sang protagonis serta dunia yang serba tak pasti dan penuh resiko di sekitar Stephanie. Satu adegan aksi kejar mengejar menegangkan yang sangat intens patut dicatat pada durasi separuh cerita.

Dengan gayanya dan ide yang segar, The Rhythm Section adalah kisah ideal yang mendekati “The Origin of James Bond”. Sayang, mengapa Broccoli dan Wilson tak sekalian membuat prekuel Bond dengan kisah sejenis. Film ini memang sama sekali tak buruk, namun bakal mendapat komparasi hebat dari banyak film agen spionase sejenisnya, satu contoh saja yang mendekati adalah Le Famme Nikita. Bahkan gaya rambut Stephanie saja nyaris mirip. Walau kisahnya sedikit lepas dan membingungkan di bagian awal, The Rhythm Section rasanya bisa memuaskan penikmat genre spionase.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaFilm tentang Wabah: The Flu
Artikel BerikutnyaMy Spy
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.