The Wretched (2019)
95 min|Horror, Mystery, Thriller|01 May 2020
5.8Rating: 5.8 / 10 from 19,526 usersMetascore: 61
A defiant teenage boy, struggling with his parents' imminent divorce, faces off with a thousand year-old witch, who is living beneath the skin of and posing as the woman next door.

The Wretched adalah film horor supernatural yang digarap oleh dua sineas, Brett dan Drew T. Pierce. Film ini dibintangi nama-nama yang belum familiar, seperti John-Paul Howard, Piper Curda, serta Jamison Jones. Film horor supernatural bernuansa sihir dan memadukannya dengan sosok monster memang tak banyak di pasar, dan ini yang coba ditawarkan The Wretched.

Alkisah Ben berlibur mengunjungi ayahnya, yang kini di ambang perceraian dengan ibunya. Ayahnya tinggal di kota wisata kecil di pinggir pantai. Suatu ketika, Ben merasa ada sesuatu yang janggal dengan tetangga barunya. Ketika anak-anak mereka mendadak hilang, Ben memberitahu ayahnya, namun tak ada seorang pun mempercayainya. Seorang diri, Ben mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi.

Sejak awal plot, kisahnya sebenarnya sudah membangun tensi horornya dengan baik. Berbekal adegan pembuka, kita tahu bakal ada sesosok monster yang memangsa manusia (anak-anak). Plotnya berjalan lambat dengan tak banyak informasi yang kita dapatkan. Momen yang dinanti pun, seolah tak kunjung tiba. Film ini mengingatkan versi “remake modernRear Window (Hitchcock), yakni Disturbia. Ben mengamati tetangga sebelahnya dengan teropong, seolah kita bakal disajikan informasi penting melalui adegan-adegan ini. Satu pun ternyata tidak. Disturbia tidak pernah membuang momen untuk menambah intensitas ketegangannya, sementara The Wretched seolah hanya mengulur durasi waktu.

Baca Juga  Bridge of Spies

Kejutan di segmen klimaks, sama sekali tak bisa kita rasakan sebagai kejutan. Idenya brilian tapi logika kisahnya agak lepas. Jika Ben tahu persis tetangganya berbohong soal anaknya, tapi mengapa orang lain (misal saja Mel) tak tahu jika Ben kehilangan “sesuatu” sejak awal? Sebaliknya, jika anak-anak tersebut telah hilang eksistensinya, lalu mengapa memori Ben tidak terhapus. Pahamkan maksudnya.

Dengan banyak membuang momen, The Wretched, tidak mampu mengangkat potensi kisahnya seperti yang dijanjikan. Film ini tidak hanya membuang momen dramatiknya, namun juga potensi kasting dan setting-nya. Film ini bisa memperluas skala kisahnya yang tentu bakal menjadi lebih menarik. Para pemuda-pemudi di dermaga yang sering terlihat, seolah bakal punya peran, nyatanya tidak. Potensi setting di dermaga juga tidak dimanfaatkan untuk segmen aksinya. Sayang memang, namun pesan tersembunyi filmnya tidak bisa kita remehkan. Film ini menggambarkan bagaimana ketidakharmonisan rumah tangga tentu berdampak besar bagi anak-anak yang menjadi korban utamanya.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Half of It
Artikel BerikutnyaDreamkatcher
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.