WandaVision (2021)
350 min|Action, Comedy, Drama|15 Jan 2021
7.9Rating: 7.9 / 10 from 366,289 usersMetascore: N/A
Blends the style of classic sitcoms with the MCU, in which Wanda Maximoff and Vision - two super-powered beings living their ideal suburban lives - begin to suspect that everything is not as it seems.

WandaVision adalah miniseri pertama yang menampilkan karakter utama dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) yang diproduksi pula oleh Marvel Studios. Tokoh utamanya, Wanda Maximoff dan Vision masih diperankan oleh Elizabeth Olson dan Paul Bettany dengan beberapa pemain pendukung MCU yang familiar, seperti Randall Park (Antman), Kat Dennings (Thor). Beberapa pemain baru muncul, yakni Teyonah Parris, Kathryn Hahn, serta Evan Peters. Jika kamu berpikir, pencapaian teknis miniseri ini tidak seperti film layar lebarnya, kamu salah besar. Marvel Studios sepertinya tidak mau setengah-setengah dan bahkan mampu bermain-main dengan sisi cerita yang tak mungkin digarap di versi bioskopnya.

Inti kisah miniserinya memang terbilang rada rumit dan sulit pula diceritakan tanpa spoiler. Sederhananya, film ini berkisah tentang latar belakang sosok Wanda Maximoff dengan timeline cerita setelah Avengers: Endgame. Dikisahkan Wanda yang masih belum bisa move-on dari sang kekasih, Vision, dengan menggunakan kekuatannya membangun dunia imajinasinya sendiri di mana harapan dan impiannya bisa terwujud di dunia maya ini. Apakah ini berhasil? Tentu saja tidak dan ini justru membuat masalah baru yang pada akhirnya mampu mendewasakan sosok jagoan kita. That’s it. Rasanya ini boleh dibilang tanpa spoiler. He he he.

Banyak hal yang saya patut acungi jempol dalam miniseri ini. Pertama, kita bicara kisahnya, sepertinya sudah sering kita lihat dalam film MCU lainnya, seperti Iron Man, Doctor Strange, dan Spider-Man. Poin kisahnya sama, hanya prosesnya saja yang berbeda. Cara mengemas kisahnya yang boleh dibilang sangat brilian. Timeline-nya yang mengambil setelah peristiwa Endgame juga memudahkan fans MCU untuk mencerna kisahnya dan dengan sedikit kilas balik, komplit sudah background sosok Wanda. Setelah ini, sosok Wanda Maximoff aka Scarlet Witch yang kabarnya juga masuk dalam cerita Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022) bakal masuk dengan sempurna sebagai pendamping Strange (atau malah musuh?).

Kedua adalah pendekatan estetiknya berupa gaya seri komedi televisi klasik yang menjadi realita alternatif Wanda dengan dunia nyata. Keduanya disajikan secara simultan dengan sangat brilian, tanpa merusak kisah MCU sebelumnya. Lantas bagaimana pula Vision bisa hidup setelah Endgame? Percaya saja, tak ada kisah MCU yang dilanggar. Seri televisi klasik, apa tidak terlalu kuno? Tidak sama sekali dan ini justru adalah pilihan yang sangat brilian. Walau tak lagi segar (Pleasantville, 1998), namun pilihan ini membuat pendekatan estetiknya menjadi amat unik. Pembuat film bisa bereksplorasi dengan ragam gaya akting & penyutradaraan, tone warna gambar, aspek rasio, musik dan lagu, efek suara, bahkan bermain-main dengan credit title. What a show!

Elizabeth Olsen yang sudah familiar dengan seri televisi seperti menemukan kembali dunia lamanya, demikian pula Paul Bettany. Tak ada yang lebih nikmat menonton film, selain melihat para pemainnya sendiri tampak menikmati perannya. Permainan akting mereka berdua sungguh sangat luar biasa. Saya jatuh cinta dengan akting keduanya. Seri komedi televisinya adalah segmen terbaik yang ada dalam miniserinya. Ah, andai ada penghargaan Oscar untuk miniseri. Keduanya begitu brilian.

Baca Juga  Wrath of Becky

WandaVision masih bekerja dalam semesta yang sama dengan eksplorasi cerita dan estetik yang amat brilian yang belum pernah tersentuh genrenya. Lantas apakah ada kelemahan miniserinya? Mungkin bukan kelemahan tapi selera. Saya hanya tidak terlalu suka dengan sosok antagonis di film ini (no spoiler). Ke mana saja sosok karakter ini bersembunyi sebelumnya? Apakah kejadian jentikan jari Thanos tidak membuatnya jera. Bisa jadi ini bakal menjadi problem kisah miniseri berikutnya. Setelah Thanos, mau apa lagi coba? Ini tentu tantangan bagi para penulis naskah film-film MCU. Beberapa tokoh pendukung MCU lain yang masuk, seperti Jimmy Woo (Antman), Darcy (Thor), dan Monica Rambeau rasanya masih sedikit dipaksakan. Anehnya juga, karakter-karakter ini seolah ikut terlibat langsung dalam aksi besar film-film Avengers (atau menonton filmnya:)) dengan komentar yang kadang personal atau terlalu detil untuk mereka tahu. Satu kelemahan lagi adalah jika kamu bukan penikmat MCU, kamu tak akan bakal tahu apa pun yang terjadi dalam film ini.

Sebagai penutup, miniseri WandaVision adalah seri wajib tonton bagi fans MCU yang lagi-lagi mampu memberi sentuhan yang berbeda baik untuk genre dan semesta sinematiknya. Jika bisa, tonton miniseri ini melalui sistem audio yang memadai (5.1) dan kamu bakal mendapatkan pengalaman menonton yang sama dengan film bioskopnya. Sayang sekali, jika hanya menontonnya di layar handphone.

Stay safe and Healthy.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
95 %
Artikel SebelumnyaComing 2 America
Artikel BerikutnyaCome True
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.