romantic killer

Anime pada umumnya terbagi menjadi berbagai genre, seperti slice of life, isekai, dan harem. Ada pula anime yang mengkombinasikan berbagai genre di dalamnya, seperti dalam serial anime berjudul Romantic Kiler.

Tokoh utama dalam serial ini adalah remaja SMA yang maniak game, Anzu Hoshino. Hidupnya hanya didekasikan untuk tiga hal yang menjadi minatnya, game, cokelat, dan kucing kesayangannya. Ia tak pernah tertarik dengan lawan jenis.

Hingga suatu ketika Anzu mendapat kiriman game anyar. Ketika dicoba, ia malah masuk ke game simulasi percintaan (otome game).  Si penyihir love cupid yang bernama Riri menyandera semua hal yang dicintainya, game, cokelat, dan kucing kesayangannya, hingga Anzu mengikuti permainan tersebut. Tapi bukannya ia masuk ke dunia game, malah sebaliknya. Game tersebut yang memasuki dunia nyata. Satu-persatu ikemen (pria keren) memasuki kehidupan Anzu yang tenang.

Lintas Genre dan Kental Budaya Pop Jepang

Romantic Killer ini diproduksi oleh studio DOMERICA dengan lisensi Netflix. Rupanya Netflix makin melebarkan sayapnya dengan menambah segmen serial anime, setelah sukses dengan serial Blue Periode dan Komi Can’t Communicate. Film serial Romantic Killer ini sendiri tayang sejak 27 Oktober 2022 dengan terdiri dari 12 episode.

Studio DOMERICA sebelumnya dikenal sebagai kolaborator proses pembuatan animasi di serial dan film beken seperti Evangelion: 3.0 You Can (Not) Redo (bagian CG production)  dan Leviathan: The Last Defense (bagian CG Animation, CG Modeling, CG Production Management). Portofolio animasi produksi mereka sendiri belum banyak, beberapa di antaranya juga berkolaborasi dengan studio anime lainnya seperti (The) World Ends with You the Animation dan Seven Knights Revolution: Eiyuu no Keishousha. Serial Romantic Killer lah yang mereka produksi sendiri dan cukup sukses.

Pilihan mereka menggarap serial ini tepat karena DOMERICA kerap membuat film dari adaptasi game. Tema Romantic Killer yang menyisipkan game simulasi dengan bumbu romansa dan komedi juga bukan barang baru bagi mereka.

Tema anime yang mengangkat percintaan remaja di sekolah dan sepotong kehidupan (slice of life) sendiri sudah cukup banyak dan ceritanya banyak yang menarik. Oleh karenanya sebuah tantangan yang berat bagi Romantic Killer untuk menonjol di tengah derasnya serial anime. Meskipun serial anime ini diangkat dari serial manga yang cukup populer karya Wataru Momose.

Baca Juga  Space Sweepers

Lantas apa yang menarik dari Romantic Killer? Dari segi kualitas grafis, serial ini termasuk biasa saja. Kurang detail seperti anime produksi CoMix Wave dan gambar yang berkesan dari Kyoto Animation.

Apabila disandingkan dengan serial anime remaja dengan bumbu percintaan seperti Horimiya dan Kaguya-sama: Love is War, maka hubungan tokoh utama di sini, Anzu, dan teman-teman prianya juga kurang membuat penonton terbawa perasaannya. Mungkin ini disebabkan sosok Anzu yang agak anti sosial, sehingga ia canggung ketika berurusan dengan percintaan.

Namun bukan berarti serial anime ini buruk. Justru malah menarik berkat lintas genre. Unsur dunia game simulasi cukup kental di sini dari adanya sosok pemandu game yang di sini bernama Riri dan tantangan yang harus dihadapi Anzu. Alasan game simulasi percintaan ini harus diikuti Anzu, yang meski agak konyol namun sesuai dengan kondisi Jepang di mana angka kelahiran terus menurun.

Jarang-jarang tokoh utama perempuan digambarkan maniak game. Sosoknya juga bukan sosok yang sempurna. Anzu punya banyak kekurangan yang membuat karakternya membumi.

Bumbu komedinya di sini sangat menonjol. Penonton akan terpancing untuk tertawa melihat cara-cara Riri agar Anzu bisa dekat dengan para pria tampan. Ini membuat genre ini terasa unsur harem-nya, karena tiba-tiba Anzu dikelilingi banyak remaja tampan, yang membuat Anzu curiga hal tersebut dikarenakan mantra-mantra Riri.

Adegan-adegan konyol bertaburan di sana sini. Beberapa di antaranya klise, namun masih berhasil memancing tawa.

Unsur budaya pop Jepang juga dihadirkan, dari istilah ikemen yang berarti pria keren, juga keseharian remaja Jepang pada umumnya. Ada yang gemar berkaraoke, cari pekerjaan sampingan usai sekolah, hingga setiap pulang sekolah langsung lari pulang untuk main game.

Meski lebih banyak unsur komedinya, ada beberapa pesan serius yang disisipkan di anime ini. Rasa trauma, hubungan ayah dan anak yang tidak harmonis, dan seramnya penguntit, misalnya. Pesan serius ini disampaikan natural sehingga tak terasa jomplang dengan unsur komedinya.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaMelihat Hamaguchi Menyupir – Refleksi Menonton Drive My Car
Artikel BerikutnyaDel Toro’s Pinocchio
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.