Film Aksi Thriller Korea Ala Hongkong

Shiri (Swiri/1999) merupakan aksi thriller arahan sineas Kang Je-gyu. Film ini pada masa rilisnya merupakan film terlaris di Korea Selatan yang memecahkan rekor box-office film terlaris sepanjang masa, Titanic (1997). Film ini juga pada masanya merupakan film termahal dengan bujet produksi sebesar $8,5 juta yang sebagian disponsori perusahaan elektronik raksasa Korea, Samsung.

Dua agen terbaik Korsel, Yu Jung-won (Han Suk Kyu) dan Lee Jang-gil (Song Kang-ho) mendapat tugas menguak kasus terbunuhnya beberapa pejabat penting negara dalam satu dekade terakhir. Yu dan Lee menduga pelaku dibalik semua ini adalah Lee Bang-hee, seorang wanita penembak jitu yang juga anggota tim militer elit Korut pimpinan Park Mu-young (Choi Min-sik). Di sisi lain, Yu bertunangan dengan seorang wanita muda, Yi Myung-hyun (Kim Yoon-jin), pemilik toko penjual ikan dan akuarium yang dalam waktu dekat akan ia nikahi. Masalah semakin serius ketika Park dan timnya berhasil merampas CTX, sebuah bahan peledak berkekuatan tinggi yang dikembangkan pemerintah Korsel. Yu dan Lee menduga ada penyusup diantara mereka dan merancang sebuah perangkap. Dalam sebuah baku tembak, Park dapat lolos namun Yu berhasil membuntuti seorang wanita yang diduga adalah Bang-hee. Alangkah terkejutnya Yu, mengetahui wanita tersebut ternyata adalah Myung-Hun.
Walau terlihat rumit namun sebenarnya plot filmnya sangat sederhana, bahkan terlalu ringan untuk film jenis ini. Sejak awal penonton rasanya tak sulit menduga jika Bang-hee adalah Myung-hun. Plot filmnya sendiri sebenarnya memiliki potensi namun ada beberapa hal yang mengganjal. Layaknya film-film aksi hongkong, logika sering kali dikesampingkan untuk memaksakan aksi. Masak sih anggota polisi begitu banyaknya tak mampu melumpuhkan Park dan dua rekannya ketika dijebak di gedung opera? Jika CTX adalah senjata mutakhir yang maha-hebat (ibarat bom atom), aneh sekali, jika dalam pengiriman hanya dikawal satu kompi pasukan. Sedikit saja cairan CTX dikisahkan mampu menghancurkan apapun dalam radius satu kilometer. Dalam sekuen klimaks, apa sebenarnya fungsi keberadaan Myung-hun di stadion jika memang bom tersebut nantinya meledak. Bukankah seluruh stadion akan hancur?
Adegan aksinya sendiri banyak memiliki kemiripan dengan film-film aksi Hongkong yang cepat. Namun dalam beberapa sekuen, seperti ketika Park dijebak di gedung opera, gerakan kamera serta transisi gambar tampak sangat kasar sepanjang sekuennya. Dalam sekuen klimaks patut diacungi jempol bagaimana sineas mampu memanfaatkan setting (stadion), ribuan figuran (penonton), serta teknik editing sehingga sekuen dalam filmnya tampak seperti benar-benar terjadi pada saat even besar tersebut dilangsungkan. Cuplikan rekaman pertandingan sepakbola serta ribuan penonton sangat membantu menghidupkan sekuen ini. Dalam satu shot jika Anda cermat tampak lapangan kosong sama sekali padahal pertandingan bola tengah berlangsung.
Ketegangan antara Korsel dan Korut telah berlangsung sejak lama dan bahkan hingga kini. Film ini mencoba untuk melihat dari dua sisi yang berbeda walau porsinya sedikit tak imbang. Kata Shiri sendiri mengacu pada satu jenis ikan yang hidup di sungai-sungai wilayah Korea baik wilayah Utara maupun Selatan. Yu dan Mung-hyun sekalipun berbeda namun mereka saling mencintai dan akhirnya ideologi pula yang memisahkan mereka. Film ini mencoba menggugah semangat kebersamaan dan persatuan antara kubu Utara dan Selatan yang selama beberapa dekade terakhir banyak merugikan kedua belah pihak.

Baca Juga  Bioskop Jogja, Dari Empire 21 Hingga Empire XXI

Himawan Pratista

Artikel SebelumnyaThe Host
Artikel BerikutnyaSejarah Sinema Korea
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini