Film Monster Unik Bernuansa Politis

The Host (Gwoemul/2003) merupakan film drama-fiksi ilmiah arahan sutradara Bong Joon-Ho. Pada masa rilisnya, The Host tercatat sebagai film Korea Selatan terlaris sepanjang masa yang ditonton lebih dari 13 juta orang. Selain sukses komersil film ini juga mendapat pujian dari banyak pengamat film di Eropa dan Amerika serta meraih belasan penghargaan di beberapa ajang festival film di Asia.

Park Gang-du (Song Kang-Ho) tinggal bersama ayahnya, Hee-bong (Byeon Hee-bong), dan putri ciliknya, Hyun Seo (Ko-ah Seong), mengelola kedai makanan ringan pada sebuah trailer di pinggir Sungai Han. Suatu ketika saat Gang-du mengantar pesanan mendadak seekor monster besar keluar dari Sungai Han dan memangsa orang-orang disekitarnya. Malangnya, Hyun Seo tertangkap dan dibawa oleh sang monster dan Gang-du tak mampu menyelamatkannya. Gang-du bersama ayahnya, kakaknya, Nam-il (Park Hae-il), dan adiknya, Nam-jo (Bae Doona) hanya bisa meratapi kepergian Hyun Seo. Di malam harinya, Gang-du secara mengejutkan mendapatkan telepon dari putrinya yang ternyata masih hidup. Gang-du dan keluarganya yang tengah dikarantina bertekad untuk menyelamatkan Hyun Seo namun masalah mereka ternyata bukan hanya sang monster namun juga otoritas yang berwenang.
The Host merupakan film monster unik yang menggunakan pendekatan berbeda dengan film-film Hollywood lazimnya. Jika mengira film monster ini adalah film yang penuh dengan sekuen aksi, Anda salah besar. Secara umum film ini bisa dikatakan adalah film drama keluarga dalam kemasan fiksi-ilmiah serta sedikit bumbu komedi. Film-film monster Hollywood umumnya menyajikan aksi-aksi seru dengan tokoh utama seorang jagoan anggota sebuah tim militer elit atau seorang ilmuwan cerdas, namun kali ini monster harus berhadapan dengan keluarga biasa yang kurang harmonis. Tidak seperti lazimnya film-film monster sejenis, film ini bertutur dengan tempo lambat dengan lebih banyak menekankan pada adegan dialog ketimbang aksi.
Dari sisi pencapaian teknis, film ini juga tak kalah dengan film-film monster versi Hollywood. Monster digambarkan cukup meyakinkan, berukuran raksasa (seukuran truk) dengan wujud unik (mirip kadal), dan suka bergantungan bak kelelawar dengan ekornya yang panjang. Aksi paling seru tercatat pada sekuen awal ketika sang monster menyerang warga kota yang tengah bersantai di siang bolong. Satu shot mengesankan tampak ketika kamera mengambil posisi dari dalam kereta (trem) memperlihatkan warga yang berlarian panik diteror sang monster. Bumbu-bumbu komedi konyol khas film Korea seringkali terlontar melalui dialog ketimbang aksi. “Kita harus merekam ini untuk Hyun Seo” canda Gang-du ketika melihat berita di televisi yang memperlihatkan foto-foto wajahnya dan keluarganya yang kini menjadi buronan polisi.
Satu hal yang paling menarik dalam The Host adalah muatan politisnya. Kisah film ini konon diambil dari kejadian nyata tindakan militer AS yang membuang bahan kimia ke Sungai Han secara tidak bertanggung jawab. Sang monster sendiri merupakan metafora dari keberadaan militer AS di Korsel. Dalam sekuen klimaks yang kebetulan pula terjadi di tempat demonstrasi, sang monster dilempari Nam-il dengan bom molotov, senjata yang biasa dipakai para demonstran. Namun bom molotov saja tak cukup, dengan bantuan anak panah Nam-jo serta tikaman dari Gang-du, sang monster akhirnya tewas. Sineas mengisyaratkan berdemo saja tak cukup namun seluruh rakyat harus bersatu untuk bisa mencapai tujuan yang mereka inginkan.

Baca Juga  Shiri

Himawan Pratista

Artikel SebelumnyaSinetron “Ketika Cinta Bertasbih 2”
Artikel BerikutnyaShiri
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini