The Host (2006)
120 min|Drama, Horror, Sci-Fi|30 Mar 2007
7.1Rating: 7.1 / 10 from 132,064 usersMetascore: 85
A monster emerges from Seoul's Han River and begins attacking people. One victim's loving family does what it can to rescue her from its clutches.

The Host (Gwoemul/2003) merupakan film drama-fiksi ilmiah arahan sutradara Bong Joon-Ho. Pada masa rilisnya, The Host tercatat sebagai film Korea Selatan terlaris sepanjang masa yang ditonton lebih dari 13 juta orang. Selain sukses komersil film ini juga mendapat pujian dari banyak pengamat film di Eropa dan Amerika serta meraih belasan penghargaan di beberapa ajang festival film di Asia.

Park Gang-du (Song Kang-Ho) tinggal bersama ayahnya, Hee-bong (Byeon Hee-bong), dan putri ciliknya, Hyun Seo (Ko-ah Seong), mengelola kedai makanan ringan pada sebuah trailer di pinggir Sungai Han. Suatu ketika saat Gang-du mengantar pesanan mendadak seekor monster besar keluar dari Sungai Han dan memangsa orang-orang disekitarnya. Malangnya, Hyun Seo tertangkap dan dibawa oleh sang monster dan Gang-du tak mampu menyelamatkannya. Gang-du bersama ayahnya, kakaknya, Nam-il (Park Hae-il), dan adiknya, Nam-jo (Bae Doona) hanya bisa meratapi kepergian Hyun Seo. Di malam harinya, Gang-du secara mengejutkan mendapatkan telepon dari putrinya yang ternyata masih hidup. Gang-du dan keluarganya yang tengah dikarantina bertekad untuk menyelamatkan Hyun Seo namun masalah mereka ternyata bukan hanya sang monster namun juga otoritas yang berwenang.

The Host merupakan film monster unik yang menggunakan pendekatan berbeda dengan film-film Hollywood lazimnya. Jika mengira film monster ini adalah film yang penuh dengan sekuen aksi, Anda salah besar. Secara umum film ini bisa dikatakan adalah film drama keluarga dalam kemasan fiksi-ilmiah serta sedikit bumbu komedi. Film-film monster Hollywood umumnya menyajikan aksi-aksi seru dengan tokoh utama seorang jagoan anggota sebuah tim militer elit atau seorang ilmuwan cerdas, namun kali ini monster harus berhadapan dengan keluarga biasa yang kurang harmonis. Tidak seperti lazimnya film-film monster sejenis, film ini bertutur dengan tempo lambat dengan lebih banyak menekankan pada adegan dialog ketimbang aksi.

Baca Juga  3 – Iron, Antara Mimpi dan Realita

Dari sisi pencapaian teknis, film ini juga tak kalah dengan film-film monster versi Hollywood. Monster digambarkan cukup meyakinkan, berukuran raksasa (seukuran truk) dengan wujud unik (mirip kadal), dan suka bergantungan bak kelelawar dengan ekornya yang panjang. Aksi paling seru tercatat pada sekuen awal ketika sang monster menyerang warga kota yang tengah bersantai di siang bolong. Satu shot mengesankan tampak ketika kamera mengambil posisi dari dalam kereta (trem) memperlihatkan warga yang berlarian panik diteror sang monster. Bumbu-bumbu komedi konyol khas film Korea seringkali terlontar melalui dialog ketimbang aksi. “Kita harus merekam ini untuk Hyun Seo” canda Gang-du ketika melihat berita di televisi yang memperlihatkan foto-foto wajahnya dan keluarganya yang kini menjadi buronan polisi.

Satu hal yang paling menarik dalam The Host adalah muatan politisnya. Kisah film ini konon diambil dari kejadian nyata tindakan militer AS yang membuang bahan kimia ke Sungai Han secara tidak bertanggung jawab. Sang monster sendiri merupakan metafora dari keberadaan militer AS di Korsel. Dalam sekuen klimaks yang kebetulan pula terjadi di tempat demonstrasi, sang monster dilempari Nam-il dengan bom molotov, senjata yang biasa dipakai para demonstran. Namun bom molotov saja tak cukup, dengan bantuan anak panah Nam-jo serta tikaman dari Gang-du, sang monster akhirnya tewas. Sineas mengisyaratkan berdemo saja tak cukup namun seluruh rakyat harus bersatu untuk bisa mencapai tujuan yang mereka inginkan.

WATCH TRAILER

Artikel Sebelumnya3 – Iron, Antara Mimpi dan Realita
Artikel BerikutnyaShiri, Film Aksi Thriller Korea Ala Hongkong
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.