The Killing of a Sacred Deer (2017)

121 min|Drama, Horror, Mystery|03 Nov 2017
7.0Rating: 7.0 / 10 from 207,548 usersMetascore: 73
Steven, a charismatic surgeon, is forced to make an unthinkable sacrifice after his life starts to fall apart, when the behavior of a teenage boy he has taken under his wing turns sinister.

*Disarankan untuk menonton filmnya sebelum membaca ulasan ini.

The Killing of a Sacred Deer adalah film drama unik arahan sineas Yargos Lanthimos. Yargos sebelumnya menggarap film-film yang berjaya di berbagai ajang festival film bergengsi, seperti Dogtooth dan Lobster. Kisah film ini diadaptasi dari drama pertunjukan Yunani kuno, Iphigenia at Auilis karya Euripides. Film ini dibintangi oleh Colin Farrel, Nicole Kidman, Alicia Silverstone, dan Barry Keoghan. Sacred Deer juga telah meraih nominasi Palm D’or dan meraih naskah terbaik di Cannes Film Festival 2017 baru lalu.

Steven adalah seorang dokter bedah jantung brilian yang memiliki istri, Anna, dan dua anaknya Kim dan Bob. Steven dekat dengan seorang remaja bernama Martin, yang belakangan diketahui adalah putra dari mantan pasiennya yang tewas di meja operasi. Dalam perkembangan, Martin dikenalkan oleh Steven ke keluarganya. Martin bertambah semakin dekat dan mulai menganggu kehidupan Steven. Sang dokter pun berusaha selalu menghindar. Hingga suatu ketika, Bob mendadak lumpuh tanpa alasan yang jelas, dan Martin pun mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab karena Steven telah membunuh ayahnya.

Film ini jelas memang tidak ditujukan untuk penonton awam. Dengan bahasa visual dan kisah yang tak lazim, film ini jelas sangat sulit dicerna. Butuh waktu untuk memahami kisahnya, karena tempo filmnya yang amat lambat. Lambat laun, kita pun tahu konflik dan mau ke mana arah cerita film ini. Balas dendam menjadi motif utama kisahnya. Martin hanya menginginkan keadilan dari Steven dengan menukar jiwa ayahnya dengan orang yang dikasihi Steven. Walau terasa absurd dan bernuansa mistik, kisah filmnya dikemas begitu dramatik dengan ketegangan mencekam layaknya film horor. Kita hanya bisa menduga-duga, apakah Martin adalah jelmaan iblis atau penyihir sehingga bisa memiliki kemampuan sedemikian rupa. Ilustrasi musik yang begitu aneh pun terasa amat mencekam dan mendukung adegannya. Dalam satu segmen klimaks “horor” yang begitu menakutkan, mengingatkan benar pada adegan “Russian Roulette” dalam The Deer Hunter. Bulu kuduk merinding sepanjang adegan ini dan Martin pun mendapatkan apa yang ia mau. Dendam terbalaskan. Namun, apakah hanya sesederhana ini?

Sejak awal film bermula, tampak jelas jika film ini memiliki sesuatu yang berbeda. Bahasa visual filmnya yang unik sejak awal memang terasa memiliki motif-motif tertentu. Semua mendadak menjadi jelas ketika Martin mengajak Steven ke rumahnya untuk bertemu dengan ibunya. Dalam satu adegan, mereka memutar film The Groundhog Day yang menjadi film favorit ayah Martin. Di layar kaca tampak adegan dari film tersebut, yang untuk pertama kalinya Phil (Bill Murray) berbicara pada Rita (Andie MacDowell) tentang kemampuan dirinya (akibat ia ratusan atau ribuan kali mengulang di hari yang sama). Phil berkata, “How do you know I’m not a God?”, Rita hanya menjawab sambil tertawa, “You’re not a God!”. Satu momen adegan ini memberikan dugaan awal bahwa Martin adalah simbolisme “Tuhan”. Dalam beberapa adegan berikutnya memang hal ini terbukti. Misal saja, Martin memiliki kemampuan di luar manusia ketika ia membangkitkan Kim dari lumpuhnya.

Baca Juga  The Cured

Semua menjadi semakin gamblang ketika Martin disekap di ruang bawah tanah rumah Steven. Dalam satu momen, Martin menggigit lengan Steven, dan lalu ia pun menggigit lengannya sendiri hingga dagingnya terkelupas. Martin mengatakan sesuatu yang seharusnya Steven lakukan, namun sang dokter begitu egois dan tak mampu memahami ini semua. Steven tak berani mengorbankan dirinya sendiri bahkan ia harus menutup mata ketika ia harus memilih mana yang harus ia korbankan. Si bocah yang tak berdosa harus mati. Dalam adegan penutup yang brilian, Martin masuk ke dalam ruangan dan menatap keluarga Steven yang menatapnya dingin. Martin lalu duduk di belakang seberang mereka dan memesan minum. Kim seolah mengolok Martin dengan memakan kentang gorengnya yang ia lumuri saus tomat (“darah”), suatu hal yang bertolak belakang yang Martin biasa lakukan (memakan kentang goreng belakangan). Perlahan keluarga Steven berjalan meninggalkan Martin keluar dari restoran. Satu shot akhir memperlihatkan wajah Martin dan sekelebat bayangan di pojok kanan berupa simbol yang menegaskan diri-Nya.

The Killing of a Sacred Deer adalah satu pencapaian sempurna bagaimana bahasa visual dan naratif bekerja secara brilian dalam tingkatan yang berbeda. Jarang sekali sebuah film memilik pencapaian estetik dan naratif begitu mencerahkan. Pada tingkat naratif, film ini memiliki plotnya sendiri seperti yang kita lihat, namun permainan bahasa sinematiknya menyimpan satu pesan kuat yang amat universal dan sangat mendalam. Sejatinya ini adalah cerita tentang Tuhan dan manusia. Tuhan selalu mengasihi dan memberi tanda-tanda agar kita bisa kembali ke jalan-Nya. Namun, manusia pada akhirnya selalu berjalan menjauhi diri-Nya. Tanpa ada keraguan, The Killing of the Sacred Deer adalah film terbaik sepanjang tahun 2017.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaPara Pemenang Golden Globe 2018
Artikel BerikutnyaVin Diesel Membintangi Superhero: Bloodshot
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses