The Peanuts Movie (2015)

88 min|Animation, Adventure, Comedy|06 Nov 2015
7.0Rating: 7.0 / 10 from 49,660 usersMetascore: 67
Snoopy embarks upon his greatest mission as he and his team take to the skies to pursue their archnemesis, while his best pal Charlie Brown begins his own epic quest back home to win the love of his life.

Peanuts adalah komik klasik yang muncul sejak tahun 1950 hingga tahun 2000 dan telah diadaptasi dalam banyak medium baik buku, film animasi televisi, hingga film layar lebar. Dalam medium film, terakhir kisah petualangan Charlie Brown dan anjingnya, Snoopy dirilis 35 tahun yang lalu melalui film animasi panjang, Bon Voyage, Charlie Brown (and Don’t Come Back) pada tahun 1980. Sebuah penantian yang sangat lama sekalipun tokoh-tokohnya masih populer namun sebuah perjudian besar apakah film ini bisa diterima penonton masa kini.

Alkisah kedatangan gadis berambut merah ke lingkungan pemukiman Charlie membuat ia jatuh hati padanya. Sepanjang film adalah bagaimana usaha Charlie menarik hati si gadis padahal hanya untuk berbicara padanya ia tidak mampu. Sementara Snoopy berusaha membantu Charlie dengan caranya dan ia memiliki petualangan sendiri di alam imajinasinya melalui novel yang tengah ia ketik.

Dengan dialog dan humor yang amat cerdas untuk film anak-anak, film ini menampilkan kisah tentang persahabatan dan masalah eksistensi diri di lingkungan sekolah. Karakter semuanya unik dan memiliki peran yang sempurna sesuai porsinya. Charlie yang selalu gundah dan tidak pernah merasa percaya diri, lalu Sally kadang mengejek namun juga mengagumi kakaknya, lalu Linus, sahabatnya yang setia, dan belasan karakter unik lainnya. Sementara Snoopy dan Woodstock dengan polahnya yang aneh, membuat warna kisahnya berbeda dengan segmen fantasinya berupa sekuen aksi seru, bagaimana ia bertarung dengan Baron untuk menolong Fifi, sang idola hatinya.

Baca Juga  Dumbo

Uniknya, tidak ada satu karakter orang dewasa pun terlihat di film ini, Bahkan suara orang dewasa pun hanya digantikan oleh suara mengguman tidak jelas. Teknik ini justru malah membuat kita fokus pada problem mereka (anak-anak) dan bagaimana mereka menyelesaikan masalah. Satu lagi yang unik dan cerdas adalah penggambaran sosok gadis berambut merah. Tidak hingga akhir cerita kita bisa melihat wajah sang gadis. Teknik ini membuat rasa penasaran penonton terusik sepanjang film dan semuanya terbayar penuh pada akhir filmnya.

The Peanuts Movie walau kisah klasik ini kurang familiar bagi penonton masa kini namun mampu menawarkan sebuah kisah hangat tentang persahabatan dengan cerdas. Satu problem film ini hanya humor dan dialognya kemungkinan tidak bisa dinikmati penuh oleh anak-anak namun orang dewasa pasti bakal tertawa lepas. Coba dimana lagi Anda bisa mendapatkan guyon macam Leo’s Toy Store (Leo Tolstoy), cuma mengingatnya saja setelah menonton filmnya sudah cukup membuat kita tertawa geli. Tidak hanya humornya, film ini secara cerdas juga menggambarkan apa yang kini telah hilang pada pergaulan masa kini. Hangatnya rasa cinta, ketulusan, dan persahabatan tanpa pernik gadget yang justru menjauhkan kita dari lingkungan sekitar.

MOVIE TRAILER
PENILAIAN KAMI
Overall Score
90 %
Artikel SebelumnyaThe Visit
Artikel BerikutnyaRelationshit
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.