Eiga: Tôken ranbu (2019)
N/A|Action, Drama, Fantasy, History|18 Jan 2019
6.8Rating: 6.8 / 10 from 5 usersMetascore: N/A
A sage travels to the past and collects a set of legendary swords, which he brings to life as a gang of talented but dysfunctional young men, to fight a battle against evil.

Touken Ranbu The Movie adalah film fantasi Jepang produksi Tohokushinsa Film. Film live action yang disutradarai oleh Saiji Yakumo ini diadaptasi dari sebuah game populer di Jepang. Lalu kemudian sejak tahun 2016 hingga 2018 dibuat serial anime-nya serta pula dipentaskan dalam teater musikal, sebelum akhirnya diangkat ke layar lebar. Uniknya, pemerannya aktornya sendiri sama dengan para pemain teater musikalnya, yakni Hiroki Suzuki, Yoshihiko Aramaki, Ryō Kitamura, Masanari Wada, Taizo Shiina, Hiroaki Iwanaga, Fuma Sadamoto, Tomoki Hirose, Norito Yashima, dan Koji Yamamoto.

Saniwa (petapa/sage) adalah seorang yang mampu melakukan perjalanan waktu. Ia juga memiliki kekuatan untuk mengubah pedang-pedang legendaris menjadi wujud seorang samurai (dalam hal ini semua karakter digambarkan sebagai laki-laki tampan). Para samurai yang dipimpin oleh Mikazuki Munechika ini ditugaskan untuk menjaga sejarah dari para tentara Time Retrograde, yang kali ini berencana mengacaukan sejarah pada masa Oda Nobunaga.

Cerita film ini dibagi dalam dua segmen besar, yakni tahun 1582 dan 2205. Meskipun yang lebih dominan adalah cerita pada tahun 1582, yakni ketika terjadinya insiden Honnōji. Plotnya  seputar bagaimana usaha para Touken Danshi (sebutan untuk para samurai milik Saniwa) untuk mencegah terjadinya penyelewengan sejarah serta aksi-aksi mereka saat melawan tentara Time Retrograde. Namun, sayangnya konflik cerita seperti tidak memiliki konsekuensi resiko yang serius. Aturan main dalam perjalanan waktu tidak ditetapkan secara jelas. Sebesar apa pengaruhnya dan apa konsekuensinya jika sejarah berubah masih menjadi pertanyaan. Dalam satu momen terdapat satu tokoh dalam sejarah yang seharusnya tewas, namun ia berhasil kabur dan menghilang. Anehnya, kejadian ini tak berpengaruh banyak pada masa sekarang (2205), seolah masalah selesai. Case close.

Baca Juga  Unstoppable

Satu hal lain lagi yang mengganjal adalah tidak adanya penjelasan detil mengenai mekanisme mesin waktu yang mereka gunakan. Mesin waktu lebih lebih terlihat sebagai kemampuan supernatural ketimbang teknologi canggih. Meski berada di masa 2205 M, namun anehnya tak banyak perangkat teknologi canggih yang terlihat, kecuali adegan ketika Saniwa tengah menatap layar hologram yang menampilkan informasi tentang Nobunaga, selebihnya mereka datang dan pergi melakukan teleportasi antar zaman.

Bagi penonton awam yang tidak mengikuti serial anime-nya, tentu akan sedikit sulit untuk memahami background cerita yang hanya dijelaskan sekilas (sejarah Saniwa hingga Touken Danshi) dan mendalami satu per satu dari sekian banyak karakternya. Meski begitu, penonton masih bisa menikmati cerita dan aksi dari para aktornya. Akting para pemerannya sendiri sudah tak perlu diragukan lagi, mereka tampil maksimal layaknya performa dalam teater-teater musikalnya.

Satu hal yang menjadi kekurangan dalam banyak film adaptasi live action Jepang adalah naskahnya yang kurang memberikan latar belakang cerita asli sumbernya. Banyak diantaranya dibuat seolah hanya untuk memuaskan para penggemar serialnya saja. Bagi orang awam yang tidak tahu apapun soal cerita aslinya akan kewalahan untuk memahami cerita filmnya. Buruknya kualitas CGI juga menjadi catatan khusus, terlebih pada film-film live action yang mengusung tema fantasi atau sci-fi. Meski begitu, kelebihan dalam tiap film live action-nya adalah artistik, kostum, dan pembawaan karakter yang mirip dengan cerita aslinya.

Touken Ranbu sebenarnya memiliki konsep cerita yang menarik tentang time travel,  jika saja naskahnya mampu digali lebih dalam. Didukung performa apik dan ketampanan para aktornya tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya yang memang didominasi oleh kaum hawa. Jika film ini sukses komersial, tak bakal menutup kemungkinan film ini dibuat sekuelnya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaThe Pool
Artikel BerikutnyaAvengers: Endgame Semakin Dekati Avatar
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.