Little Women (2019)
135 min|Drama, Romance|25 Dec 2019
7.8Rating: 7.8 / 10 from 270,557 usersMetascore: 91
In 19th century Massachusetts, the March sisters--Meg, Jo, Beth, and Amy--on the threshold of womanhood, go through many ups and downs in life and endeavor to make important decisions about their futures.

Little Women adalah kisah klasik dari novel berjudul sama (1868) karya Louisa May Alcott yang telah diadaptasi dalam banyak medium, seperti pertunjukan, film, hingga televisi. Novel klasik ini sendiri telah diadaptasi dalam medium film sebanyak 7 kali, sejak era film bisu hingga kini. Adaptasi terbarunya digarap oleh sineas muda berbakat, Greta Gerwig sebagai sutradara sekaligus penulis naskahnya. Film berbujet US$ 40 juta ini dibintangi oleh sederetan bintang muda dan senior, yakni Saoirse Ronan, Emma Watson, Florence Pugh, Laura Dern, Timothee Chalamet, Chris Cooper, hingga Meryl Streep. Film ini telah banyak mendapat pujian pengamat film dengan puncaknya meraih 6 nominasi Academy Awards tahun ini, melalui film, naskah adaptasi, aktris utama, aktris pendukung, dan kostum terbaik.

Film ini sendiri berlatar tahun 1868 mengisahkan empat bersaudari kakak beradik, Jo, Meg, Amy, serta Beth dari masa remaja hingga mereka dewasa. Plotnya mengisahkan suka duka kehidupan mereka yang disajikan secara bergantian, antara masa lalu (remaja) dan kini. Di sela-sela kehidupan mereka, keluarga kaya raya yang juga bertetangga dekat, terdapat Laurie, seorang bocah lelaki yang meramaikan kehidupan asmara di antara mereka.

Saya sendiri rasanya pernah menonton film klasiknya 20 tahun silam, entah film adaptasi yang mana, dan jujur saja, saya sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang kisahnya, selain hanya kilasan adegan. Mungkin saat itu, film ini tidak berkesan ketimbang film klasik populer lainnya. Bahkan versi tahun 1994 pun sudah lupa. Komparasi juga rasanya kini tak perlu untuk menilai film istimewa macam ini. Saya justru melihat banyak kesamaan cerita dengan Pride & Prejudice (2005) yang diperankan oleh Keira Knighley yang filmnya juga sama-sama dinominasikan banyak (empat) Piala Oscar. Dua film ini memang sama-sama bagusnya.

Kekuatan Little Woman salah satunya jelas karena permainan struktur plotnya. Pola kilas-balik, masa lalu dan kini sepanjang film adalah yang membuatnya menjadi sangat menarik untuk ditonton. Kadang, jika penonton tak awas, bisa membaca keliru latar waktunya karena batasnya tipis antara dua masa tersebut. Sosok karakternya juga kadang sulit dibedakan karena pemainnya sama, kecuali pembeda melalui setting, kostum, serta rias wajah. Potong silang antara dua masa waktunya, sering kali pula hanya berupa kilasan kecil hingga satu adegan penuh. Intensitas drama semakin memuncak menjelang babak ketiga hingga klimaks yang rada terasa klise untuk genrenya. Gerwig yang juga menulis naskahnya memang sangat brilian mengemas filmnya, baik cerita maupun estetik. Gaya penyutradaraan dan tone estetik “Ladybird” yang unik, terasa sekali dalam Little Woman.

Kekuatan Little Women lainnya jelas ada pada permainan akting para kastingnya. Sang “ladybird” Saoirse Ronan tentu menjadi perhatian utama sebagai sosok yang independen, bebas, dan enerjik, nyaris mirip dengan karakternya dalam Ladybird. Ronan, saya pikir saat ini adalah salah satu bintang muda bertalenta akting terbaik yang mampu membuat peran sulit menjadi terlihat mudah. Sementara “Harmione” (Watson) yang cantik memang bermain tidak buruk, namun perannya memang tidak seenerjik Ronan. Saya justru terkesan pada akting Forence Pugh (Amy) yang sosoknya terkadang rada “edan” seperti karakternya dalam Midsommar. Saya tertawa geli ketika ia membakar surat Jo, diikuti adegan perkelahiannya dengan saudarinya, mimik mukanya sungguh mirip dengan sosoknya dalam Midsommar. Sosok Amy dewasa yang sangat berbeda menunjukkan kualitas akting Pugh yang sesungguhnya. Dengan peran yang pas kelak, karirnya bisa melejit jauh dari sekarang.

Baca Juga  Retribution

Little Woman merupakan adaptasi brilian melalui naskah serta talenta sang sineas dengan dukungan penuh para kastingnya yang menawan serta pesan kuat tentang keluarga dan kehidupan yang seolah tak pernah ada matinya dari masa ke masa. Film yang teramat hangat ini mengingatkan banyak pada kita, apa yang telah kita miliki dan apa yang hilang dalam hidup kita. Ego kadang membutakan kita untuk melihat apa yang seharusnya kita syukuri. Penderitaan, kebahagiaan, cinta, serta kehilangan hanyalah kelak sebuah memori di masa lalu yang bakal hilang ditelan waktu. “Andai hidupku ini sebuah novel, alangkah mudahnya mengubah cerita”, keluh Jo pada sang ibu. Jo tidak tahu, jawabannya sebenarnya sudah ada di mana ia berada sekarang. Klise memang, namun Little Woman mampu menyajikannya dengan cara yang berkelas dan boleh saya bilang, menyentuh. Jangat lewatkan film istimewa ini untuk menontonnya di bioskop, bisa jadi dalam beberapa hari akan hilang dari penayangan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaMontase menjadi Partner FSAI 2020
Artikel BerikutnyaKemiripan Plot Contagion dengan Wabah Wuhan Coronavirus.
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Film little woman menyentuh bangeet, kebetulan aku juga lg berjuang untuk nulis cerita dan karakter Jo relate banget sama aku.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses