Guns Akimbo (2019)
98 min|Action, Comedy, Crime|28 Feb 2020
6.3Rating: 6.3 / 10 from 69,572 usersMetascore: 42
A guy relies on his newly-acquired gladiator skills to save his ex-girlfriend from kidnappers.

Guns Akimbo adalah film aksi-komedi garapan Jason Lei Hoden yang awalnya dirilis tahun lalu di sirkuit festival film. Film ini dibintangi Daniel Redcliffe, Samara Weaving, serta Natasha Liu Bordizzo. Tercatat, ini adalah pertama kali sang bintang bermain dalam film aksi murni. Uniknya juga, sejak seri Harry Potter, ia tidak pernah bermain dalam film populer sebagai bintang utama, terkecuali The Woman in Black (2012), dan lebih memilih bermain dalam film independen, termasuk film ini. Lantas bagaimana penampilannya di film ini?

Pada suatu masa di mana kekerasan menjadi hal yang jamak, muncul permainan jalanan modern, yakni “Skizm”. Seperti layaknya game tarung kebanyakan, permainan ini menyajikan permainan hidup atau mati yang dimainkan oleh para petarung sungguhan di dunia nyata. Skizm menjadi permainan populer di kalangan para fans fanatiknya yang tergila-gila dengan aksi brutal dan sadis dengan jagoan mereka, Nix. Sementara protagonis kita, Miles (Redcliffe) adalah seorang programer yang hidupnya berantakan setelah diputus sang pacar. Karena frustasi, akhirnya ia mengikuti permainan Skizm yang tak diduga sama sekali, ia justru menjadi pemain aktif dengan Nix sebagai lawannya. Permainan hidup mati pun dimulai. Semakin ia berlari semakin besar pula masalah yang ia hadapi.

Plot sejenis memang bukan hal baru lagi, tercatat sejak era 1980-an, Running Man hingga yang paling popular seri The Hunger Games. Guns Akimbo tidak banyak menawarkan sesuatu yang berbeda, kecuali hanya aksi-aksinya dan sosok lugu Miles tentunya. Satu hal yang menarik adalah alur plotnya yang bergerak tanpa henti sejak awal hingga akhir. Semua adalah tentang aksi yang bising, keras, brutal, dan darah di mana-mana. Penikmat genre ini bakal sungguh terpuaskan oleh semua segmen aksinya yang dalam beberapa momen memang disajikan mengesankan. Tak ada drama, semua murni aksi dan sedikit twist di akhir yang mudah diantisipasi.

Baca Juga  The Girl on The Train

Edannya lagi, tidak hanya aksinya yang brutal, namun pergerakan kamera pun juga beberapa kali ikut-ikutan brutal dengan gerakan yang tak lazim hingga berputar-putar sedemikian rupa. Walau tampak sekali pergerakan tersebut memang memiliki motif yang jelas. Tempo editing yang cepat pun, bukan jadi masalah, hanya gerak kamera yang kelewat dinamis kadang membuat perut saya mual. Tapi ini pun rasanya bukan masalah untuk kaum milineal.

Keras, kasar, konyol, dan brutal, Guns Akimbo menyajikan satu permainan hidup mati era milineal yang menghibur, terlebih untuk penikmat genrenya (video games). Bagi fans sang aktor, ia kini bukan Harry Potter. Kalian harus bersiap-siap dengan darah dan segala atribut kekerasan lainnya serta figur yang menjijikkan, jauh dari sosok sang penyihir. Selamat berburu!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaOnward
Artikel Berikutnya#TemanTapiMenikah2
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.