Setiap daerah di Indonesia mengandung daya tarik masing-masing. Termasuk Women from Rote Island yang mengangkat dua sisi koin (baik dan buruk) dari pulau paling selatan Indonesia. Melalui arahan Jeremias Nyangoen dengan skenario yang ditulis pula olehnya. Diproduksi Langit Terang Sinema dan Bintang Cahaya Sinema. Women from Rote tercatat baru saja membawa pulang Piala Citra untuk empat kategori, yaitu Skenario Asli, Sinematografi, Sutradara, serta Film Terbaik dalam FFI 2023. Film ini tayang di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 18 2023. Para pemerannya antara lain Irma Novita Rihi, Merlinda Dessy Adoe, Bani Sallum Ratu Ke, dan Van Jhoov. Women from Rote memiliki nilai dan daya tarik tinggi, salah satunya karena lokasinya. Benarkah setinggi itu?

Suami Orpa (Linda) telah meninggal sejak sepekan lalu, tetapi masih belum dikubur karena menunggu Martha (Rihi), salah seorang putri mereka. Sebetulnya, beberapa warga dan sejumlah tetua serta ibu Orpa telah berulang kali membujuk hingga memaksa Orpa agar segera memakamkan suaminya. Karena lepas dari tujuh hari akan melanggar adat setempat. Namun, Orpa berada dalam situasi rumit, karena sang suami berwasiat untuk memakamkannya setelah Martha pulang. Begitu Martha pulang dan pemakaman selesai, ternyata masalah-masalah yang lebih gawat datang bertubi-tubi ke dalam hidup Orpa.

Film-film daerah kerap mendatangkan nuansa baru atau menawarkan kekhasan tersendiri di antara film-film nasional. Khususnya yang berasal dari luar Jawa. Kita tahu itu dengan baik dari Ngeri-Ngeri Sedap (2022), Onde Mande! (2023), Notebook (2021), Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017), hingga Orpa (2023). Baik dari segi kebudayaan dan adat istiadat, maupun lanskap alamnya. Pun demikian Women from Rote Island. Pencapaiannya juga hampir menandingi Marlina. Film tentang Sumba yang seketika menyeruak dan menarik perhatian khalayak ramai pada waktu itu. Kini, Women from Rote yang berada di posisi tersebut. Kita hanya tahu Pulau Rote adalah wilayah paling selatan Indonesia dengan kandungan keindahannya. Namun, tidak dengan “luka-luka”-nya.

Luka-luka itulah konflik pelik dalam Women from Rote. Sekaligus memang terjadi adanya di sana. Walau sang sineas melakukan penyederhanaan dan pemampatan persoalan hanya dalam keluarga Orpa. Menjadi sukar diteri karena keluarga Orpa tampak dirundung amat banyak kemalangan dalam satu waktu sekaligus, sejak ia melanggar adat demi menanti kepulangan Martha. Terkesan kemudian kemalangan-kemalangan yang menimpa keluarganya disebabkan oleh pelanggaran tersebut. Alih-alih memang berakar dari moralitas beberapa laki-laki setempat yang tak mampu menahan diri.

Baca Juga  Eiffel... I’m in Love

Women from Rote lantas kian memiliki kemiripan dengan Marlina dengan pemisahan tegas setiap babak, diskriminasi terhadap perempuan dengan kuasa laki-laki, serta panorama alamnya. Meski Marlina lebih unggul karena fokus hanya pada satu masalah. Women from Rote cenderung mendatangkan ketidaknyamanan kepada penonton lewat hiruk-pikuk dalam visualnya. Padat crowded dalam beragam situasi. Walau nasib Orpa kemudian tak setegas Marlina (dan temannya) terkait perbuatan dari laki-laki. Lanskap alamnya pun lebih sedikit ketimbang sajian konflik antarpersonal, masalah keluarga, dan tekanan batin dalam hidup Orpa. Ada, tetapi tak semasif Marlina.

Sajian visual Women from Rote juga mampu menyampaikan secara maksimal, keributan suasana sejak suami Orpa meninggal melalui set lokasi dan banyaknya pengambilan gambar dengan teknis long take. Bahkan dari film ini bermula, kita sudah disuguhkan cekcok tak berkesudahan. Long take pun secara efektif menarik masuk perhatian penonton ke dalam kemalangan keluarga Orpa. Meski tanpa bantuan gelegar musik latar di sana-sini sekalipun, tetapi tiba-tiba “bencana” datang. Ibarat suasana tenang yang terasa aneh, karena seolah akan datang badai. Pula kendati para pemerannya merupakan pendatang baru atau kali pertama ini berakting. Masalah kemanusiaan dalam Women from Rote tetap tersaji dengan optimal, walau sayang kudu dimampatkan hanya dalam satu keluarga.

Women from Rote Island menjadi salah satu film dengan tawaran kedaerahan terbaik yang padat konflik ihwal moralitas kemanusiaan. Sejak Marlina, film-film daerah dari wilayah timur Indonesia belum ada lagi yang menyibak kerumunan mapan film-film industri dengan daya tawar yang besar. Hingga film ini pun hadir di tengah-tengah publik. Meski dengan sejumlah kelemahannya, Women from Rote tetaplah menyegarkan sekaligus memilukan. Seperti yang disinggung di atas, ibarat dua sisi koin dengan baik dan buruknya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaNapoleon
Artikel BerikutnyaMerekatkan Rumpun Melayu Lewat Kebudayaan dan Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.