A Radiant Girl

Romantika Pracis tahun 40-an menjadi tampak lebih berbunga-bunga ketika dibawakan oleh seorang gadis remaja penuh gairah, energik, dan ceria. Itulah garis besar A Radiant Girl. Film roman komedi arahan Sandrine Kiberlain, dengan skenario nya sendiri. Orang yang juga memerankan Séverine Cupelet dalam French Tech (Les 2 Alfred) setahun sebelumnya (2020). Melalui produksi Curiosa Films, E.D.I Films, France 3 Cinéma, dan BNP Paribas Pictures, A Radiant Girl diperani oleh Rebecca Marder, Françoise Widhoff, André Marcon, Anthony Bajon, India Hair, dan Cyril Metzger. Melihat rekam jejak penyutradaraan dan penulisan skenario Kiberlain yang belum banyak, bagaimana hasil garapan sang aktris ini?

“In life, we decide anything.”

Irène (Marder) ialah gadis 19 tahun di Prancis masa lampau yang amat ingin menjadi seorang aktris teater. Semangat, gairah, dan pikiran positifnya mewarnai hari-hari banyak orang. Termasuk neneknya, Marceline (Widhoff), ayahnya, André (Marcon), dan saudaranya, Igor (Bajon). Irène berjuang untuk bisa lolos audisi aktris teater bersama partnernya, Viviane (Hair). Namun di tengah masa-masa latihannya mempersiapkan diri untuk hari audisi, Irène bertemu dengan Jacques (Metzger) dan mengalami cerita yang berbeda setelahnya.

Satu setengah jam menonton A Radiant Girl adalah hiburan yang menyenangkan. Sang tokoh utama, Irène (Marder), tampil dengan ceria dengan pembawaan sikap yang selalu bersemangat dan pemikiran positif. Setting Prancis tahun 40-an juga diupayakan untuk semaksimal mungkin bisa terwujud. Meski pada akhirnya yang muncul hanyalah set itu-itu saja. Kita tak banyak menjumpai gambar-gambar dengan visual luas. Minimal, kita tahu lokasi yang tengah ditampilkan di layar berada di bagian mana dari rumah Irène. Namun yang terakhir itu tidak terjadi.

Perkara setting memang agak aneh dalam A Radiant Girl. Bahkan sekali waktu ketika Irène terlalu bebas, ia dan kekasihnya, Jacques (Metzger) tiba-tiba berada di tempat asing bersama pasangan-pasangan lain setelah mereka bersepeda jauh. Motivasinya? Sekadar untuk menunjukkan kemesraan dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu bersama beberapa pasangan lainnya. Bersenang-senang di alam bebas. Satu hal ini yang rasanya paling tidak masuk akal di antara berbagai setting dalam A Radiant Girl. Motif hendak memperlihatkan pelampiasan asmara rasanya kurang bisa diterima. Toh ungkapan-ungkapan cinta dengan bentuk serupa ditunjukkan pula ketika mereka berada di tempat-tempat biasa. Walau ada kalanya satu setting di antara tempat-tempat tersebut cukup hiperbolis.

Baca Juga  Our Men (Festival Sinema Prancis)

Namun A Radiant Girl rupanya memainkan makna-makna warna dalam beberapa kali kesempatan. Ada setidaknya tiga ruang perbedaan nuansa yang sineas coba tunjukkan lewat warna-warna. Bagian yang diisi tokoh-tokoh lain tanpa Irène, momen ketika tokoh-tokoh tersebut didatangi Irène, serta segmen-segmen dengan Irène di dalamnya. Meski yang paling kentara gap perbedaannya adalah antara warna pada bagian pertama dan ketiga. Terutama dalam momen yang hanya menampilkan André (Marcon) dengan kecenderungan tone warna gelap, suram, dan kelam. Bandingkan saja dengan tone warna dalam setiap kemunculan Irène yang cerah, ceria, membahagiakan, penuh semangat dan gairah, energik, serta seru.

Sayangnya, dengan segala keseruan dan sajian hiburannya, A Radiant Girl menghadirkan tokoh utama yang bergerak bebas dan mujur di sepanjang cerita. Nyaris tanpa hambatan yang berarti. Sandungan yang ada pun tidak benar-benar bisa menjatuhkan tokoh utama kita. Sekadar kerikil-kerikil kecil saja. Memang, ada suatu hal ganjil terkait kondisi Irène jauh di balik gairahnya. Kiberlain beberapa kali menunjukkan itu lewat sikap sang ayah, André, terhadap tindakan-tindakan putrinya. André selalu mengkhawatirkannya, terutama ketika Irène tanpa kabar tidak pulang semalaman. Saudaranya, Igor (Bajon) juga bersikap sama, saat gadis 19 tahun itu dikira meninggal karena tiba-tiba terjatuh ke lantai.

A Radiant Girl adalah hiburan bagi pencinta romansa Prancis tahun 40-an, namun tidak bagi yang mencari eskalasi signifikan dalam cerita. Lebih pantas menyebut film ini sebagai kisah roman dari masa lalu, daripada drama dan sejarah. Bahkan sisi klasik dari tahun 40-an pun tidak tampak secara konkret dalam A Radiant Girl. Apalagi setelah melihat bagaimana Lost Illusions menghadirkan abad ke-19-nya secara total lewat artistik, dialog, dan situasi yang tengah berlangsung di Prancis pada masa tersebut.

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaGrimcutty
Artikel BerikutnyaLost Illusions (Festival Sinema Prancis)
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.