Lost Illusions

Honoré de Balzac adalah salah seorang penulis berpengaruh pada zamannya yang telah melahirkan berbagai jenis karya tulis setelah kematiannya. Salah satu buah karya dari novelnya ialah Lost Illusions. Adaptasi kisah drama roman klasik dan sejarah politik ini diarahkan oleh Xavier Giannoli, dengan naskah yang dikerjakannya bersama Yves Stavrides dan Jacques Fieschi. Melalui produksi Curiosa Films, Gaumont, serta France 3 Cinéma, Pictanovo, Gabriel, dan Umedia, Lost Illusions diperani oleh Benjamin Voisin, Cécile de France, Vincent Lacoste, Salomé Dewaels, Xavier Dolan, Jeanne Balibar, dan André Marcon. Kita telah banyak sekali melihat film-film hasil adaptasi novel selama ini. Lantas bagaimana dengan yang dilakukan Giannoli lewat Lost Illusions dengan durasi 2 jam 30 menitnya?

There are many things you don’t know.”

Prancis pada masa abad ke-19 bukanlah lingkungan yang ramah untuk kalangan berstatus sosial rendah. Bangsawan adalah tuan untuk segala urusan pada zaman itu. Status quo tak terusik, hingga muncul seorang pemuda lugu dan polos yang meresahkan mereka, Lucien (Voisin). Ia mulanya terlibat percintaan tabu dengan nyonya besar, Louise (France), yang statusnya dekat dalam lingkaran raja. Para bangsawan kemudian mencibir keduanya, sampai mereka memutuskan untuk sementara waktu pergi ke luar kota. Namun, keadaan rupanya tidaklah membaik. Lucien malah dibuang (secara halus) di kota tersebut. Ia mesti menghidupi dirinya sendiri yang telah diabaikan, sampai bertemu dengan Lousteau (Lacoste). Seorang pengelola media surat kabar.

Salah satu film terbaik dalam mengadaptasi novel klasik dari era 1800-an adalah deskripsi paling sederhana dan sudah mencakup 90% tentang Lost Illusions. Hampir seluruh unsur yang dibutuhkan untuk mereka-ulang Prancis pada abad ke-19 ada dalam film ini. Tentu saja kita berbicara tentang artistik dan musik di sini. Setting megah sampai beceknya jalanan basah, busana mewah hingga pakaian seadanya, hingga musik dan lagu dari zaman itu.

Meski memang Lost Illusions (tinggal) mengadaptasi poin-poin tentang masa lampau dari buku. Namun, eksekusinya bisa begitu dekat dengan situasi dan kondisi masa itu. Film-film reka ulang masa lampau kita saja jarang sekali ada yang bisa mencapai level Lost Illusions. Walau sama-sama adaptasi novel. Bumi Manusia misalnya, dengan artistik yang telalu indah sampai logikanya sukar dinalar.

Giannoli dan tim penulisnya amat memerhatikan detail-detail kecil dalam Lost Illusions. Unsur-unsur penting dalam buku yang mesti ditunjukkan pula visualnya. Terutama ihwal akan menjadi sedekat apa setiap elemen dalam film tersebut dengan sisi realitas dalam buku. Sekaligus pula kecenderungan nilai realisme sang empunya novel, Balzac. Stavrides, serta utamanya Fieschi dan Giannoli dengan hati-hati menata skenario yang mereka buat dan bagaimana adaptasinya nanti. Bahkan setiap kata dalam dialognya menarik penonton untuk masuk ke masa-masa sekitar tahun 1800-an. Masa-masa bergulirnya revolusi industri, konfrontasi royalis dan liberalis, keberadaan teater jalanan dan teater auditorium, serta pengaruh sebuah media pemberitaan atau pers.

Baca Juga  Pasutri Gaje

Lain halnya dengan naskah Magnetic Beats yang bahkan dikerjakan oleh lebih banyak penulis, namun tidak membangun aspek naratif yang solid. Lost Illusions turut menyertakan kebiasaan-kebiasaan setiap orang pada masa itu. Terutama soal status sosial, cara meraih popularitas, posisi perempuan, manusia-manusia oportunis, hingga menarik biaya untuk segala urusan, alias kapitalisme.

Muatan isu dan tema dalam Lost Illusions pun amat kental. Termasuk topik-topik yang bahkan masih relevan dan terjadi hingga hari ini. Suap-menyuap, saling sikut untuk meraih puncak karir atau status sosial lebih baik, menjadi oposisi bagi pemerintahan yang sedang berjalan, pembredelan media, jurnalis tak independen, serta para penjilat bermuka dua dengan topeng-topeng mereka. Memang tidak bisa terlalu dielu-elukan. Toh Lost Illusions adalah adaptasi, dan hal-hal tersebut telah ada dalam novel. Namun, bagaimana semua lapisan itu dieksekusi ke layar lebar oleh sineas film ini tetap istimewa. Termasuk pula berbagai metafora yang muncul terang-terangan maupun berupa selipan-selipan. Khususnya satu efek visual untuk sebuah momen khayalan dari tokoh utama kita, Lucien (Voisin).

Meski dengan seluruh keunggulan tersebut, ending Lost Illusions agak terpaku dengan novel. Sudah jelas bahwa sang sineas tidak melakukan gubahan dan membuat ending orisinalnya sendiri. Kalaupun ada perubahan, penonton yang kebetulan sudah membaca novelnya pasti menyadari itu. Ketiadaan reaksi itulah yang memvalidasi kesimpulan, bahwa Giannoli dan tim penulisnya tidak mencoba menawarkan akhir cerita yang berbeda. Agak disayangkan, karena pada akhirnya sang tokoh utama dikalahkan oleh “raksasa” pada masa itu. Para bangsawan kerajaan yang tidak ingin status quo mereka terusik oleh keberadaan Lucien dengan suara dan pemikirannya. Padahal ada potensi untuk mengakhiri perjalanan Lucien dengan lebih seru, alih-alih membiarkan nasibnya kembali ke titik awal.

Lost Illusions adalah salah satu film adaptasi novel klasik dari abad ke-19 paling luar biasa pada masa kini. Sepanjang 2020 hingga 2022. Terlepas dari keputusan sang sineas untuk menyamakan ending cerita film dengan novelnya, daripada menawarkan orisinalitasnya sendiri. Kendati demikian, Giannoli dan timnya toh tidak mengabaikan detail-detail yang mesti ada dan berlangsung juga pada latar waktu Lost Illusions. Baik dari segi eksekusi sinematik maupun naratif lewat isu, tema, karakterisasi, sampai setiap dialognya. Fakta yang tidak boleh dikesampingkan, bagaimanapun ending-nya kemudian.

PENILAIAN KAMI
Overall
95 %
Artikel SebelumnyaA Radiant Girl (Festival Sinema Prancis)
Artikel BerikutnyaInang
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

2 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.