Bird Box (2018)
124 min|Horror, Mystery, Sci-Fi|21 Dec 2018
6.6Rating: 6.6 / 10 from 386,702 usersMetascore: 51
Five years after an ominous unseen presence drives most of society to suicide, a mother and her two children make a desperate bid to reach safety.

Bird Box adalah film thriller-bencana yang diproduksi oleh Netfilx yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Josh Malerman. Film ini diarahkan oleh sineas perempuan kawakan, Suzzane Bier yang pernah meraih Piala Oscar (Best Foreign Languange) untuk filmnya A Better World (2010). Bird Box dibintangi oleh sederetan bintang ternama, yakni Sandra Bullock, John Malkovich, Tom Hollander, serta BD Wong. Film ini konon memecahkan rekor tayangan Netflix dengan mencapai 45 juta viewer hanya dalam 7 hari!

Suatu ketika wabah mematikan melanda bumi yang diawali dengan kejadian mengerikan di wilayah Eropa, di mana manusia entah karena alasan apa membunuh diri mereka sendiri. Sementara itu, di suatu kota kecil di AS, Malorie yang kini tengah hamil sedang mengecek kandungannya bersama sahabatnya, Jessica. Malorie dengan mata kepalanya sendiri melihat bagaimana seorang perempuan membunuh dirinya sendiri. Kepanikan melanda seluruh kota. Mendadak tanpa alasan yang jelas, Jessica melihat sesuatu yang akhirnya membuatnya membunuh dirinya sendiri. Malorie yang panik, akhirnya ditolong seseorang bersama sekelompok orang lainnya di dalam sebuah rumah. Mereka berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mereka tahu persis bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan menolong mereka.

Secara umum, filmnya dibagi menjadi dua segmen besar. Segmen masa kini dan segmen 5 tahun yang lalu. Dua segmen ini secara bergantian disajikan dan diawali dengan satu segmen menegangkan di masa kini. Sinopsis di atas adalah segmen masa lalu yang menjelaskan bagaimana semua musibah ini berawal. Sejak awal, sudah tercium nuansa plot A Quiet Place, di mana dalam film fiksi ilmiah ini, seseorang tak boleh bersuara sekecil apa pun karena sang monster akan memangsa mereka. Sementara dalam Bird Box, mereka tak boleh melihat apa pun selain di dalam ruangan, ketika berada di luar ruangan, mereka harus menggunakan penutup mata karena jika tidak, mereka akan mati (tak dijelaskan secara pasti apa yang mereka lihat). Entah mengapa, sedikit banyak ini mengingatkan pada monster dewi berkepala ular, Medusa.

Konsep ceritanya memang banyak mengingatkan beberapa film, yakni The Happening (2008), Blindness (2008), It’s a Disaster (2012), serta tentu A Quiet Place (2017). Konsep cerita yang paling mendekati Bird Box adalah The Happening, garapan M. Night Shyamalan. Dalam film thriller bencana ini, dikisahkan entah mengapa secara mendadak manusia memiliki tendensi membunuh diri mereka sendiri dengan cara yang sangat mengerikan. Walau kisahnya berbeda, namun keduanya terasa kental dengan nuansa simbolik melalui subteks dan motif kisahnya. The Happening merupakan simbol dari pepohonan (alam) yang “marah” hingga mengorbankan manusia untuk mencapai keseimbangan. Sementara Bird Box adalah bagaimana manusia “dibutakan” oleh duniawi (sang monster) sehingga melupakan nuraninya. Seperti tergambar pada segmen klimaks, mereka harus mendengarkan suara kicauan burung (nature) untuk menunjukkan ke arah yang benar dan bisa lepas dari sang monster. Lalu mengapa orang-orang tak waras itu bisa melihat layaknya manusia normal? Jelas karena mereka tak memiliki nurani lagi dan menjadi pengikut sang monster.

Baca Juga  Monsters of Man

Walau alur kisahnya lebih cermat (ketimbang masalah listrik dalam A Quiet Place), namun tetap saja ada beberapa hal yang sedikit di luar nalar sekalipun dapat ditolerir. Soal listrik, seolah mereka menggoda logika A Quiet Place dalam satu dialognya, “kita gak tau lho, kapan listrik bakal mati”. Nyatanya, lima tahun berselang aliran listrik memang benar-benar mati total. Bukan soal listrik yang jadi masalah tapi ketidakmampuan mereka untuk melihat yang jadi masalah. Seperti ketika mereka membawa mobil via GPS ke supermarket. Oke, itu memungkinkan tapi setelah semua kepanikan yang terjadi dengan mobil-mobil yang ditinggalkan di tengah jalan dengan posisi tak menentu, hebat sekali mereka tidak tertabrak mobil satu pun dan mampu membelok dengan begitu mulusnya (walau mobil tersebut ada sensornya). Ya, mereka akhirnya melindas satu (baca: hanya satu) tubuh manusia dari ratusan yang bergeletakan di jalan. Segmen ketika Malorie bersama putra dan putrinya harus melewati sungai beraliran deras. Tak ada komentar untuk segmen ini. Kalau saya ditanya, apakah mereka mungkin bisa selamat? Yah bisa saja, tapi…

Bird Box memiliki tema dan premis yang menarik, namun formulanya yang tak lagi segar membuatnya seolah hanya pengulangan dan kombinasi film-film bertema sejenis. Tak dipungkiri pula, para pemainnya bermain sangat baik dalam situasi serba terbatas dalam kisahnya. Sang aktor kawakan, John Malkovich dengan penampilannya yang menjengkelkan memang benar-benar mencuri perhatian penonton. Unsur ketegangan sendiri tak terlalu menonjol, dan beberapa kejutan plot juga tak menggigit. Satu hal yang membuat kisah ini menarik dan membuat penasaran adalah crosscutting antara segmen masa lalu dan masa kini. Sayang sekali, sebenarnya film ini memiliki potensi cerita dengan pesan yang bisa lebih menggigit, alasannya hanya karena film-film sejenis sudah banyak diproduksi.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaAsal Kau Bahagia
Artikel BerikutnyaApp War
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.