Haunted Hospital (2018)
89 min|Horror, Mystery, Thriller|22 Feb 2018
4.1Rating: 4.1 / 10 from 2,056 usersMetascore: N/A
In HEILSTÄTTEN, a remote, gloomy sanctuary near Berlin, a group of YouTubers illegally access the ominous surgery block for a 24-hour challenge they hope will go viral. They learn too soon that they are not alone and not welcome.

Jika di Korea Selatan memiliki rumah sakit jiwa Gonjiam yang menjadi salah satu tempat terangker di dunia versi CNN World, di Jerman memiliki rumah sakit angker bernama Heilstatten Hospital. Sanatorium di dekat Kota Berlin ini merupakan rumah sakit khusus penderita TBC (Tuberkolusis) pada masa perang dunia II. Di masa itu pula, konon rumah sakit ini digunakan sebagai tempat eksperimen mengerikan pada manusia. Bangunan yang kini terbengkalai cukup lama ini mempunyai banyak rumor yang menyelimutinya karena banyaknya aktivitas paranormal yang terjadi di lokasi tersebut.

Film Jerman ini disutradarai oleh Michael David Pate yang juga telah beberapa kali menyutradarai film horor, yakni Gefällt mir (2014) dan Potato Salad (2015). Heilstatten rilis perdana di Jerman pada 22 Februari 2018. Pada waktu hampir bersamaan pula secara kebetulan di Korea Selatan, dirilis pula sebuah film dengan plot dan gaya serupa, yakni Gonjiam: Haunted Asylum. Gonjiam: Haunted Asylum terlebih dahulu rilis di bioskop tanah air pada bulan Mei 2018 lalu.

Film ini bercerita tentang sekelompok Youtuber yang melakukan uji nyali selama 24 jam di rumah sakit ini secara ilegal. Mereka berharap, video tantangan ini nantinya bisa menjadi tontonan laris dan viral di media sosial. Walaupun telah diperingatkan oleh satu seorang rekan mereka yang sensitif terhadap hal-hal gaib, namun mereka semua tetap nekat melakukan uji nyali tersebut. Menjelang malam tiba tantangan pun dimulai dan mereka mengalami banyak kejadian aneh yang menteror mereka.

Baca Juga  Anna and the Apocalypse

Tentu sudah banyak film dengan cerita horor yang dikemas dengan gaya found footage macam ini dan film ini juga tak berbeda banyak dengan lainmus. Background cerita yang dijelaskan tentang sejarah rumah sakit ini di masa Perang Dunia II, telah mampu memberikan tone horor dan meneror penonton. Namun, plot selanjutnya memiliki tempo yang cepat, lantaran teror yang bertubi-tubi sehingga penonton kurang bisa masuk ke dalam nuansa misteri pada bangunan tersebut.

Jika dibandingkan Gonjiam Haunted Asylum, Heilstatten memiliki beberapa perbedaan dalam pengadeganan film.  Walaupun keduanya memiliki alur plot dan gaya pengemasaan yang hampir  sama, namun keduanya memiliki intensitas ketegangan yang berbeda. Gonjiam jelas terlihat lebih menakutkan ketimbang film ini. Gonjiam memanfaatkan ruang demi ruang untuk membangun struktur naratifnya sehingga mampu membawa masuk penonton ke dalam sisi misterinya. Sedangkan Heilstatten kurang begitu tampak. Dalam klimaks Gonjiam yang menempatkan kamar 402 sebagai teror klimaks mampu terbangun betul dalam pikiran penonton. Namun, dalam Heilstatten yang juga membangun rumor melalui “pasien no. 106” kurang begitu terbangun dengan baik karena alur plot yang cepat.

Tak jauh beda dengan Gonjiam, setting lokasi dan properti dalam film ini telah terbangun dengan baik. Lokasi bangunan yang jauh di luar kota, tentu mampu membawa kita ke lokasi di tengah hutan yang penuh misteri. Heilstatten jelas memiliki karakter bangunan yang berbeda dengan Gonjiam. Jika dalam Gonjiam hanya ada satu bangunan gedung, sementara Heilstatten terdapat dalam beberapa bangunan gedung. Dengan banyaknya ruang, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mendukung cerita horornya, namun sayang sekali kurang dieksplor lebih jauh.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaFinal Score
Artikel BerikutnyaAlong with the Gods Series: Bicara Soal Alam Akhirat dan Manusia
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.