Artemis Fowl (2020)
N/A|Adventure, Family, Fantasy, Sci-Fi|12 Jun 2020
Rating: Metascore: N/A
Artemis Fowl, a young criminal prodigy, hunts down a secret society of fairies to find his missing father.

Artemis Fowl adalah seri novel fantasi petualangan populer tulisan Eoin Colfer yang rilis perdana pada tahun 2001. Disney yang mengadaptasi novel ini ke medium film, tentu berharap seri ini adalah the next Harry Potter. Dengan bermodal USD 125 juta serta sineas kawakan Kenneth Branagh (Thor, Murder on the Orient Express), film ini memang memiliki pencapaian efek visual dan setting yang mengagumkan. Namun dengan kombinasi sederetan bintang senior dan muda, seperti Josh Gad, Colin Farrel, Judy Dench, Ferdia Shaw dan Lara McDonnel, rupanya tak cukup untuk mengangkat film ini.

Seorang miliuner eksentrik, Artemis Fowl Sr. (Farrel) dituduh mencuri benda-benda antik bernilai yang diyakini bisa membuktikan adanya dunia lain. Satu benda yang hilang, yakni Oculos, rupanya membuat geger tak hanya dunia manusia, namun juga dunia peri yang tinggal di inti bumi. Situasi ini diperburuk oleh sang miliuner yang diculik oleh peri jahat yang berambisi menguasai dua dunia. Sang putra, Artemis Fowl Jr. (Shaw) bersama dua asisten setianya, mencoba untuk menguak misteri ini melalui petunjuk yang diberikan oleh sang ayah. Sementara pihak peri pun, mengutus agen mudanya, Holly Short untuk mencari Okulos.

Hmm.. agak bingung juga untuk menjelaskan kisahnya karena saya sendiri yang awam dengan novelnya memang kebingungan. Hampir sepanjang waktu, saya hanya berguman, what the heck is going on? Alur kisahnya dengan sembrono dituturkan secara cepat, tentu berakibat penonton awam tak mampu mencerna berbagai informasi cerita yang sedemikian banyak. Di tengah kebingungan, penonton juga tidak diberi cukup waktu untuk bisa berkenalan lebih dekat dengan tokoh-tokoh utamanya. Belum lagi, pencapaian setting-nya yang demikian luar biasa, mampu mengalihkan perhatian kita, lebih dari kisahnya.

Baca Juga  Resident Evil: Retribution

Seri Harry Potter adalah satu contoh ideal bagaimana penonton dengan perlahan mampu dibawa masuk ke dunia sihir melalui sosok Harry. Sosok Artemis yang jenius bukanlah sosok Harry yang lugu dan dengan mudah kita bisa berempati. Sosok jenius ini dengan gaya dinginnya seolah tak butuh empati kita karena ia selalu bekerja serius seolah tanpa memedulikan penonton. Penonton butuh sosok “normal” yang bisa menjelaskan segalanya secara sederhana dan ini yang tak ada di filmnya. Saya tak tahu bagaimana alur kisah novelnya, yang jelas tak mungkin segalanya berjalan secepat ini tanpa penjelasan yang cukup. Ini di luar kebiasaan sang sineas yang memiliki latar teater kuat di mana penokohan cerita adalah satu hal yang teramat penting.

Di luar pencapaian elemen mise_en_scene (khususnya setting) serta efek visual yang luar biasa, Artemis Fowl dengan tempo plot cepat, tak mampu membangun kisah yang koheren dan empati, bagi yang belum membaca novelnya. Penonton, setidaknya saya, hanya kebingungan di tengah gemerlap setting dan efek visual yang memesona. Iya benar, kita pada akhirnya tahu semua yang terjadi, namun kita sudah terlanjur tak peduli. Seberapa pun kritis dan bahayanya situasi cerita, sulit untuk menggugah emosi kita. Mengapa harus Branagh? Film dengan dominasi aksi dan efek visual macam ini bukan ranah sang sineas. Thor pun tak seperti ini, dialog dan drama masih lebih dominan dari aksinya. Kita lihat saja, apa seri ini bakal berlanjut? Dugaan saya tidak.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaBecky
Artikel BerikutnyaForce of Nature
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.