Blow the Man Down (2019)
91 min|Comedy, Crime, Drama|20 Mar 2020
6.4Rating: 6.4 / 10 from 12,564 usersMetascore: 72
Mary Beth and Priscilla Connolly attempt to cover up a gruesome run-in with a dangerous man. To conceal their crime, the sisters must go deep into the criminal underbelly of their hometown, uncovering the town's darkest secrets.

Blow the Man Down adalah film drama pembunuhan yang dtulis oleh duo sineas debutan Bridget Savage Cole dan Danielle Krudy. Film ini memulai debutnya di ajang Tribeca Film Festival tahun lalu dan didistribusikan secara streaming oleh Amazon Studios, mulai  bulan ini. Film ini dibintangi para pemain yang belum terlalu familiar bagi kita, seperti Morgan Saylor, Sophie Lowe, Margo Martindale, serta Anette O’Toole. Kehidupan di kota kecil yang penuh rahasia dan misteri memang menarik untuk diangkat. Dengan segala aspek lokalitasnya, Blow the Man Down menawarkan sesuatu yang segar untuk genrenya.

Latar kisahnya adalah sebuah kota pelabuhan terpencil di Mayne, wilayah utara AS. Alkisah dua bersaudari, Priscilla dan Mary Beth ditinggal sang ibu. Dalam acara berkabung di rumah, Mary Beth tanpa sengaja mendengar jika rumah mereka akan disita karena hutang mendiang sang ibu. Pris dan Mary pun beradu mulut hingga sang adik mengancam akan pergi. Mary malamnya datang ke sebuah bar dan pergi dengan Gorsky, seorang laki-laki hidung belang. Ketika Mary tanpa sengaja melihat sesuatu di bagasi mobil Gorsky, ia pun merasa terancam dan membunuh sang lelaki tanpa sengaja. Tanpa disadari, Pris dan Mary terjebak dalam suatu konflik yang melibatkan warga kota, termasuk mendiang ibunya.

Blow the Man Down memang banyak mengingatkan pada film kriminal berkelas, Fargo. Tak banyak latar informasi cerita yang tersaji di filmnya. Tidak ada plot investigasi yang rapi seperti genre pembunuhan lazimnya dan penonton pun harus melakukannya sendiri. Kita harus mencermati betul, khususnya adegan dan dialog untuk bisa mencerna info cerita. Tak sulit memang, namun kita pasti bakal melewati satu atau dua informasi kecil. Rasa penasaran makin menjadi ketika Pris dan Mary terjebak dalam situasi yang pelik. Semakin lama, rahasia dari beberapa pihak pun mulai terkuak, yang melibatkan satu rumah prostitusi yang dikelola oleh seorang perempuan sahabat sang ibu yang bernama Enid. Kekuatan naskahnya adalah mampu menjaga intensitas dramatiknya dengan menahan informasi sedikit demi sedikit hingga kisahnya tak mampu kita antisipasi hingga akhir.

Baca Juga  Batman: The Long Halloween Part One

Unsur lokalitas adalah satu yang menjadi kekuatan film ini. Sejak adegan pembuka, film ini menyajikan choir yang khas yakni lagu “Blow the Man Down” yang dibawakan oleh para nelayan warga kota. Unsur salju yang mengiringi sepanjang filmnya juga sangat pas mendukung tone filmnya yang dingin dan misterius. Kasting pemainnya adalah brilian. Satu hal yang dominan adalah permainan akting mereka yang tanpa cacat. Dua tokoh protagonis utama kita hingga para pemain gaek, khususnya permainan berkelas Margo Martindale sebagai Enid. Margo saya pikir layak meraih nominasi Piala Oscar.

Blow the Man Down adalah sebuah drama pembunuhan yang dikemas unik, didukung kuat para pemain, lengkap dengan segala atribut lokalnya. Film ini jelas bukan film yang bertutur secara gamblang dan mudah. Tak mudah pula untuk diapresiasi. Bagi penonton seperti saya yang tak akrab dengan kehidupan tempat ini, rasanya ada sesuatu yang hilang karena kita seolah bukan bagian dari mereka. Ide besarnya jelas tak sulit dipahami. Apa yang terjadi di kampung (kota kecil ini) tetaplah menjadi rahasia kampung. Mereka melindungi satu sama lain dan tak membiarkan orang luar menganggu mereka.

Stay Healthy and safe!

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaFilm tentang Wabah: The Cassandra Crossing
Artikel BerikutnyaThe Captain
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses