Mosul (2019)
101 min|Action, Drama, Thriller|26 Nov 2020
7.1Rating: 7.1 / 10 from 30,347 usersMetascore: 71
A police unit from Mosul fight to liberate the Iraqi city from thousands of ISIS militants.

Netflix kembali merilis film terbaiknya, Mosul. Film aksi perang ini digarap oleh Michael Matthew Carnahan dengan diproduseri oleh duo bersaudara Anthony dan Joe Russo yang konon mereka garap di tengah-tengah dua produksi film pamungkas Avengers. Film yang secara penuh menggunakan dialog lokal ini dibintangi oleh Adam Bessa, Suhail Dabbach, Ishaq Elias, serta Waleed Elgadi. Cerita filmnya konon didasarkan kisah nyata bersumber dari artikel The New Yorker berjudul The Desperate Battle to destroy ISIS.

Film di mulai dengan keterangan teks yang demikian panjang menjelaskan tentang peran pasukan SWAT Nineveh yang dianggap sebagai pasukan terakhir yang mampu melawan sisa-sisa kelompok ISIS di kota Mosul, Iraq.

Dua orang polisi terlibat konflik bersenjata dengan pihak ISIS di zona merah. Di momen genting mereka diselamatkan oleh tim SWAT Nineveh yang dikepalai oleh pimpinan karismatik, Jasem (Dabbach). Satu di antara polisi tersebut, Kawa (Bessa), akhirnya direkrut oleh tim untuk ikut dalam sebuah misi khusus. Sang pemuda, di sepanjang misi tersebut menyaksikan sendiri horor perang yang merubah pandangan dan jalan hidupnya untuk selamanya.

Entah sejak kapan menonton film bergenre ini demikian mampu menguras emosi. Film yang nyaris berjalan real time (tanpa ada jeda waktu) ini mampu secara efektif menyajikan horor perang dengan demikian nyata. Dengan mise_en_scene yang luar biasa otentik, film ini mampu menggambarkan suasana ekstrem yang benar-benar berbahaya di tengah kota. Suara senjata dan ledakan bom sudah menjadi hal biasa bagi warga kota. Segmen aksinya disajikan begitu menegangkan. Suasana genting amat terasa dalam momen demi momen hingga kita yang menontonnya.

Baca Juga  The Block Island Sound

Kekuatan terbesar film ini terletak pada sisi humanisnya yang mampu disuguhkan secara seimbang sepanjang plotnya. Sisi manusiawi ini larut dalam kisahnya tanpa terkesan sedikit pun sebagai tempelan. Hanya dalam satu rangkaian peristiwa ini (durasi 100 menit), sejak menit awal hingga akhir, kita disajikan ratusan potret bagaimana perang hanya berujung pada kematian, penderitaan, dan kesengsaraan. Dalam satu momen kecil, ketika tim berhenti untuk menolong dua orang anak yang tengah mendorong gerobak yang berisi jenazah ayah mereka. Setelah satu perdebatan kecil, akhirnya satu dari mereka masuk dalam mobil, sementara sang kakak tinggal untuk menuntaskan janjinya pada sang ayah. Amat menyentuh sekali.

Mosul dengan tempo tanpa henti dan sentuhan humanis kuat adalah salah satu film perang terbaik yang menyajikan horor perang dan sisi gelap manusia demikian otentik. Walau secara teknis tidak semapan film-film besar Hollywood, Mosul bisa disejajarkan dengan film-film perang terbaik yang pernah diproduksi di jagad ini. Film ini adalah bukan bicara tentang aksi dan perang, ideologi, politik, agama, sisi heroik, atau bahkan kegigihan para pejuang lokal melawan terorisme, namun secara sederhana hanya bicara tentang manusia. Semua ini hanya untuk merasakan secuil rasa damai dan kasih sayang yang selama ini sudah jauh hilang dari mimpi dan harapan mereka. Saya sangat berharap film penting ini bisa berbicara banyak di ajang Academy Awards tahun depan.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaTenet
Artikel BerikutnyaBlack Bear
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.