Sound of Metal (2019)
120 min|Drama, Music|04 Dec 2020
7.8Rating: 7.8 / 10 from 39,088 usersMetascore: 82
A heavy-metal drummer's life is thrown into freefall when he begins to lose his hearing.

Tak sedikit sosok protagonis utama yang memiliki gangguan pada pendengaran (tunarungu) masuk dalam medium film. Beberapa di antaranya yang banyak diapresiasi pengamat, sebut saja Children of the Lesser God, It’s All Gone Pete Tong, hingga Baby Driver. Pete Tong rasanya adalah yang paling mendekati dengan Sound of Metal hanya bedanya tokoh utamanya adalah seorang DJ. Sound of Metal diarahkan oleh sineas pendatang baru Darius Marder dengan mengkasting nama-nama tenar, yakni rapper dan aktor Inggris, Riz Mahrez serta Olivia Cooke.

Ruben Stone (Mahrez) adalah seorang drumer grup metal dengan vokalis kekasihnya sendiri, Lulu (Cooke). Akrab dengan suara bervolume super keras, suatu hari Ruben merasa ada yang tak beres dengan pendengarannya. Dokter pun menganjurkan untuk mundur dari semua aktivitas yang akan memperparah pendengarannya. Frustasi dan emosional akhirnya membawa Ruben masuk ke dalam komunitas tunarungu setelah sang pacar memaksanya. Kehidupan malam dan hingar bingar yang dulu akrab dengan Ruben, kini berubah drastis di kehidupan barunya.

Kisah macam ini yang biasanya akrab dengan sisi biografi, kini rupanya tidak. Ini mengejutkan, karena naskahnya sendiri tidak lantas over dramatik dalam bahkan cenderung natural layaknya biopic. Kisahnya memang bisa mengarah ke mana saja. Sound of Metal bukan kisah tentang seorang musikus jenius sekelas Beethoven yang akhirnya tunarungu lalu menemukan karya masterpiece-nya, namun adalah bagaimana sang protagonis mencoba berdamai dengan kondisinya. Sebuah proses yang panjang serta melelahkan, dan sang sineas pun mengakhiri filmnya dengan begitu indah dan sinematik.

Baca Juga  The Midnigth Sky

Di luar pencapaian mengesankan dari sang bintang, Mahrez yang tampil begitu ekspresif, Sound of Metal adalah satu contoh ideal bagaimana suara (efek suara) bisa dieksplorasi sedemikian rupa sesuai dengan tuntutan naratifnya. Banyak momen silence dalam filmnya dan ini tentu bisa membuat penonton awam tak merasa nyaman. Suara subyektif mewakili kuping Ruben yang telah cacat sehingga kita sungguh dibuat frustasi karena seolah ikut merasakan penderitaannya. Hampir sepanjang filmnya kita bisa merasakan dan mendengar apa yang Ruben rasakan dan dengar. Jika kamu menonton film ini hanya dengan audio sistem seadanya, rasanya tak akan bisa maksimal menikmati film ini. Bioskop adalah yang paling ideal. Suara atmosfir (ambience) dan efek suara sungguh berperan penting dalam membentuk film ini.

Sound of Metal merupakan pengalaman estetik unik dari sosok protagonis tunarungu dengan penampilan memukau dari Riz Ahmed. Tak hanya kisahnya yang menggugah, namun secara estetik, Sound of Metal adalah bisa dibilang adalah salah satu film paling sinematik dari aspek suara. Kisahnya memberi pelajaran berharga untuk bisa melihat batasan fisik tubuh yang kita miliki untuk tidak larut dalam ambisi tubuh yang berlebihan. Tubuh akan menjerit jika kita terus memaksanya. Ruben memahaminya dengan jalan yang berliku dan penuh penderitaan. Kita pun kini hidup di situasi yang sulit dan semoga kelak kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman luar biasa ini. Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaGenerasi 90-an Melankolia
Artikel BerikutnyaMonsters of Man
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.