Hostage: Missing Celebrity adalah film thriller produksi Korea Selatan yang diarahkan dan ditulis oleh sineas debutan Pil Kam-sung. Kisahnya diadaptasi lepas dari kejadian nyata yang telah difilmkan juga melalui film produksi Cina berjudul, Saving Mr. Wu (2015) yang dibintangi Andy Lau. Uniknya, film ini dibintangi oleh aktor papan atas, Hwan Jung-min yang bermain sebagai dirinya sendiri. Hostage baru dirilis bulan Agustus lalu setelah ditunda setahun karena pandemi. Film ini sejauh ini tercatat sebagai salah satu film terlaris Korea Selatan tahun ini.

Hwan Jung-min seperti faktanya adalah aktor box-office yang bermain dalam banyak film laris Korea Selatan. Suatu malam, ia diculik dan diancam dibunuh jika tidak memberikan apa yang diminta para penculik. Dengan kemampuan aktingnya, Jung-min berupaya mengulur waktu agar memberi kesempatan kepada pihak polisi yang ia tahu, kini tengah mencarinya.

Plotnya amat sederhana. Dengan tempo relatif cepat nyaris tanpa henti, mampu menyajikan sisi ketegangan maksimum. Plot secara bergantian menyajikan penyelidikan polisi yang sigap, aksi kelompok penculik, serta aksi Jung-min sendiri yang memiliki peluang untuk bisa lolos dari sekapan. Potong silang adegan-adegan ini pula yang mampu memberikan beberapa kejutan cerita. Editing memang menjadi teknik dominan yang mampu membangun intensitas ketegangan, khusus dari pertengahan hingga klimaks. Sebuah sajian aksi yang sangat menarik dan menghibur, ditambah pula dukungan para kastingnya yang memukau.

Satu hal yang mengganjal adalah beberapa poin cerita yang janggal. Sebelumnya, para penculik telah melakukan aksi yang sama bukan? Mereka tahu persis resikonya. Mengapa kini mereka begitu gegabah dan ceroboh dalam melakukan aksinya. Orang-orang tak bersalah pun banyak menjadi korban tidak perlu yang justru malah menyulitkan situasi mereka sendiri. Sang pimpinan bertindak ngawur dan nekat seolah memiliki gangguan mental, namun tak ada latar kuat yang menggambarkan ini. Banyak cara lebih efektif jika hanya sekadar meminta tebusan uang tanpa harus banyak memakan korban. Satu lagi, jika ada senjata api di dekatmu dan si penculik mengejarmu, rasanya aneh jika kamu tidak mengambilnya dan justru malah lari? Banyak hal kecil semacam ini yang menganggu, tak masuk akal dan sulit dicerna otak.

Baca Juga  First Love

Hostage: Missing Celebrity adalah sebuah aksi thriller unik menegangkan dengan dukungan para kasting kuat, walau ada beberapa kejanggalan plot di sana-sini. Dalam beberapa aspek, khususnya teknik, film ini sudah nyaris sama dengan pencapaian film-film Barat. Sang sineas yang tercatat sebagai debutan, terhitung luar biasa telah mampu membuat film sekelas ini. Walau tak seorisinal dan sekuat Parasite, setidaknya Sinema Korea Selatan masih berjalan di jalur yang benar dan tinggal menanti waktu sebelum mereka memproduksi film-film lainnya yang berkualitas tinggi.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaMenuju Malam Puncak FFWI XI: Persaingan Ketat Para Kandidat
Artikel BerikutnyaBroadcast Signal Intrusion
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.