Sudah lama tak ada film vampir bagus, Night Teeth mencoba menawarkan sedikit perspektif baru, apakah layak untuk disebut tontonan bagus? Film ini dirilis Netflix minggu lalu dengan arahan sineas Adam Randall. Film berbujet USD 21 juta ini dibintangi sederetan bintang muda, yakni Jorge Lendeborg J.r., Debbie Ryan, Lucy Fry, Alfie Evan Allen, serta Megan Fox.

Alkisah sudah ratusan tahun ras manusia dan vampir melakukan gencatan senjata dengan diikat sebuah perjanjian dan hanya segelintir orang yang tahu. Seorang vampir yang muak dengan ini, yakni Victor (Allen), mencoba melakukan alih pimpinan kekuasaan dengan cara diam-diam. Victor mengutus dua bawahan terbaiknya, Blaire dan Zoe, untuk membunuh petinggi dari ras vampir. Sementara Benny (Lendeborg), adalah sopir yang mengantar Blaire dan Zoe, yang ia tahu, mereka hanya bersenang-senang dari satu klub malam ke klub lainnya. Ketika Benny akhirnya sadar, ia sudah terlanjur terjebak di antara dua kubu yang saling bunuh.

Premisnya memang menarik untuk subgenrenya. Rivalitas macam ini sudah sering kita lihat, namun belum pernah tersaji seperti ini. Plot filmnya lebih mengarah ke aksi rivalitas gangster dengan aksi kudeta secara diam-diam. Sayangnya, tak banyak aksi yang disajikan, selain justru hubungan romantis antara Benny dengan Claire yang menjadi tokoh utama kisahnya. Ini yang membuat plotnya menjadi mudah sekali diantisipasi hingga klimaks. Proses chemistry di antara mereka berdua memang sama sekali tidak buruk, hanya saja skema besar kisahnya menjadi tidak berarti. Penyelesaian masalah menjadi terlalu mudah sekalipun terlihat mustahil.

Walau tak membekas, Night Teeth adalah sebuah thriller komedi bertema vampir dengan perspekstif yang segar. Sisi komedi adalah yang terasa paling dominan, sekalipun adegan-adegannya tak mengarah ke sana. Kemunculan bintang sekelas Megan Fox yang hanya tampil sekelebat menjadi lebih terlihat sebagai pemanis, padahal dengan “aura” kuat vampirnya, ia bisa tampil dengan porsi lebih banyak. Sayang sekali. Selain Fox, para kasting “vampir”nya tampil mengesankan dengan rupa wajah yang sempurna untuk peran mereka. Untuk sekadar hiburan, Night Teeth adalah film yang menghibur, walau sisi horor dan ketegangan sama sekali nol.

Baca Juga  Finch

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaInjustice
Artikel BerikutnyaBergman Island
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.