Resident Evil (2022)
1 min|Action, Horror, Sci-Fi|14 Jul 2022
4.2Rating: 4.2 / 10 from 46,093 usersMetascore: N/A
Nearly three decades after the discovery of the T-virus, an outbreak reveals the Umbrella Corporation's dark secrets.

Resident Evil adalah franchise populer yang merupakan adaptasi game ikonik berjudul sama rilisan Capcom. Setengah lusin filmnya sudah diproduksi, dan tak ada satu pun yang bisa dikatakan memiliki kualitas bagus. Kini, Netflix dengan beraninya memproduksi serialnya, yang konon memiliki kisah latar dari cerita game-nya. Film ini dibintangi Ella Balinska, Tamara Smart, Siena Agudong, Paola Nunez, serta Lance Reddick. Apakah serial ini bakal mampu mengangkat franchise besarnya?

Film ini mengisahkan dua latar cerita, yakni tahun 2022, di mana dua kakak beradik, Jade (Smart) dan Bille (Agudong) masih remaja dan tinggal di kota Raccon City sesaat sebelum malapetaka besar terjadi. Mereka tinggal bersama sang ayah, Albert Wesker (Reddick) yang bekerja sebagai ilmuwan utama di Umbrella Corporation. Kisah lainnya berlatar tahun 2036, mengikuti sosok Jade dewasa (Balinska) yang kini hidup di tengah dominasi zombi yang melanda seluruh bumi. Dua kisah ini dituturkan secara bergantian melalui tempo yang semakin lama makin cepat setiap perjalanan serinya.

Dari plot ringkas di atas, terlihat premis yang menarik untuk serinya yang belum pernah sebelumnya kita lihat. Paling mendekati plotnya adalah Resident Evil: Welcome to Raccon City yang rilis tahun lalu mengisahkan sesaat setelah wabah zombi melanda di kota ini. Semua film dan serinya punya semesta cerita yang berbeda, termasuk pula dengan beberapa film yang dibintangi Milla Jovovich. Mungkin sang kreator serialnya, menginginkan satu pendekatan cerita yang sama sekali berbeda. Rupanya ini justru satu opsi yang keliru karena mereka sendiri tidak memahami atau tidak mampu membuat naskah yang mumpuni. Untuk franchise-nya, serial ini rasanya adalah yang terburuk.

Satu kesalahan yang paling mendasar adalah adanya lubang plot yang jumlahnya tak terhitung bak zombi yang ada di kisahnya. Siapa yang menulis naskah begitu bodoh dan tak punya otak untuk hanya sekadar memahami logika sederhana? Sepanjang seri, episode demi episode, satu aksi demi aksi yang berlangsung berjalan memaksa hanya untuk memotivasi satu adegan lainnya, yang sebenarnya itu pun sudah tak masuk akal. Untuk level kekonyolan lubang plotnya, rasanya ini adalah salah satu yang paling buruk dari semua film yang pernah saya tonton. Ini sebuah lelucon besar yang amat membodohi penonton.

Baca Juga  Oni: Thunder's God Tale

Saya ambil contoh pada dua episode terakhir. Jade dan rekan labnya ketika di atas kapal besar memutuskan untuk melakukan tes formula pada zombi yang masih hidup. Jade lalu mengambil sample zombi dari bawah kapal (di bawah laut) dan membawanya ke ruang labnya (di atas kapal), tanpa diketahui satu personil awak pun, kecuali putrinya. Malapetaka pun terjadi. Bagaimana mungkin Jade bisa melakukan ini? Lantas, tak ada konsekuensi apapun? Satu buaya kaiju dilepas bak senjata pamungkas untuk melawan pasukan Umbrella yang tersisa di pulau. Bagaimana sang buaya bisa tahu jika targetnya ada di pulau? Mengapa si buaya tidak menyerang kapalnya lebih dulu? Sang buaya pun akhirnya mengejar putri Jade, yang sama sekali tidak bisa dipahami bagaimana ia bisa berada di atas pulau dan apa motifnya? Belum lagi serangan drone yang amunisinya tidak pernah habis untuk menyerang ratusan zombi. OMG. Ini sungguh edan.

Dengan potensi bujet serta setting yang sedemikian megah, Resident Evil terjun bebas melalui naskahnya yang konyol dengan plot hole yang melimpah. Siapa yang menulis naskah seburuk ini untuk serial sebesar ini? Pilihan kasting pun buruk sekali. Pemeran Billie remaja (Agudong) lebih condong mirip ras latin dan pemeran dewasanya (Adeline Rudolp) jelas-jelas secara fisik terlihat seperti orang Asia. What the heck? Jika kamu fans serinya, rasanya hanya buang waktu menonton seri ini. Jika kamu fans subgenre zombi dan ingin menontonnya, cobalah berempati dengan para zombi karena mereka lebih punya otak daripada tokoh-tokohnya dan kreatornya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaAir Murder
Artikel BerikutnyaPaws of Fury: The Legend of Hank
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.