Benua Eropa seperti yang kita tahu, memberlakukan pembebasan kunjungan antarnegaranya. Namun, ada sejumlah pemuda yang tertantang untuk menembus batas-batas antarnegara (cross border) di benua ini dengan cara-cara ekstrem. Itulah Shadow Game. Dokumenter arahan Eefje Blankevoort dan Els van Driel yang diproduksi Witfilm ini menampilkan fenomena pelanggaran pelintasan batas antarnegara atau cross border, dan para pemuda yang melakukannya. Eropa tampaknya menjadi tempat tumbuh suburnya hal itu. Lantas, bagaimana Shadow Game menunjukkan fenomena tersebut dari sudut pandang para pelakunya?

Eropa menyimpan satu fenomena bertaruh nyawa yakni cross border. Para pelakunya masihlah muda, dalam rentang usia 12 sampai 20 tahun. Mereka ialah para imigran ilegal pelarian dari wilayah-wilayah yang tengah berkonflik. Para pelaku cross border amat meresahkan para petugas keamanan di setiap negara Eropa. Mereka kerap kali melewati perbatasan antarnegara di area-area yang berupa hutan, sungai, gunung, perbukitan, maupun pagar bertegangan listrik. Dipicu oleh alasan-alasan mengungsi dari tempat asal masing-masing, para pemuda cross border melalui perjalanan dari satu negara ke negara lain di Eropa dengan menantang bahaya yang sudah jelas itu.

Shadow Game boleh jadi salah satu dokumenter yang dalam pembuatannya berbahaya. Tempo hari kita telah menyaksikan Dying to Divorce yang melawan kultur di negaranya sendiri. Kemudian ada Shadow Game yang kebanyakan melakukan pengambilan gambar di titik-titik terlarang secara hukum negara. Dokumenter ini lantas membagikan sebuah fenomena yang terbilang meresahkan bagi setiap negara se-Eropa, dari jarak yang amat dekat. Shadow Game menunjukkan langsung para pelaksana “game”-nya, yakni pemuda-pemuda pelarian dari wilayah konflik. Ada pula upaya untuk menangkap setiap momen dari para pemuda tersebut di titik mereka masing-masing di negara yang berbeda-beda secara berkesinambungan.

Sayangnya, logika yang dibangun dalam Shadow Game agar penonton berpihak atau setidaknya berempati kepada para subjeknya amat sukar diterima. Beberapa remaja yang ditampilkan dalam dokumenter ini juga tak terlihat punya urgensi masalah yang terpaksa memicu aktivitas mereka. Kecuali soal memacu adrenalin semata. Seakan-akan, daripada melintasi perbatasan dengan cara yang aman dan legal, pemilihan perbatasan berbahaya yang mereka lintasi adalah karena faktor adanya “tantangan” di sana. Sebab perbatasan-perbatasan tersebut lebih menantang untuk ditembus ketimbang garis batas antarnegara yang biasa. Tampaknya, perspektif freedom atau kebebasan diri para subjek dokumenter ini adalah soal menaklukkan tantangan berbahaya, menembus area ilegal, keberanian, kenekatan, dan kepuasan diri setelah berhasil mencapai semua itu.

Teknis visual dengan banyak goyangan memang sering ada bahkan dalam ranah film fiksi. Kita biasa menyebutnya sebagai found footage. Namun, agaknya Shadow Game mesti mempertimbangkan jumlah yang dimasukkan ke dalam dokumenter juga. Terlebih, bila tak benar-benar menangkap visual yang jelas, kecuali suaranya. Tampaknya sebagian besar memang terpaksa masuk, karena tak ada opsi visual yang lebih bagus. Atau barangkali untuk kebutuhan cerita yang lebih menegangkan sehingga dapat menarik minat yang besar untuk menonton? Kendati setidaknya kualitas visual semacam ini dapat diminimalisir dengan perencanaan yang matang. Berpikir tentang kemungkinan pasti, bahwa akan ada gambar-gambar kaos (chaos), karena aktivitas yang didokumenterkan tersebut bertempat di titik-titik ilegal untuk warga sipil.

Baca Juga  Aftersun

Dokumenter juga berbicara soal data. Bukan hanya kisah rekaan sebagaimana fiksi. Data harus menjadi salah satu aspek yang kuat dalam setiap dokumenter. Namun, Shadow Game lemah akan hal itu. Sedikitnya, ada dua informasi yang tidak tersampaikan dari dokumenter ini. Pertama yakni soal keberadaan, status, atau kondisi perbatasan antarnegara. Tidakkah perbatasan antarnegara di Eropa tak melulu antah berantah berupa hutan, gunung, dan sungai, atau bahkan pagar kawat bertegangan listrik? Sedemikian tidak terbukanya kah negara-negara di Eropa terhadap para imigran atau pengungsi dari negara yang tengah berkonflik?

Kedua ialah data terkini mengenai para remaja yang masih melakukan cross border. Kita memang pada akhirnya mendapat informasi ihwal nasib para subjek di ujung perjalanan lintas perbatasan mereka. Namun, bagaimana dengan data terkini tentang fenomena tersebut secara luas? Shadow Game, tentu membicarakan seputar fenomena para remaja yang melintasi perbatasan secar ilegal, bukan? Tampaknya, Shadow Game hanyalah “kesempatan” untuk mendokumentasikan aktivitas beberapa remaja –yang kemudian sebagai subjek—selama mereka melakukan cross border. Ketika mereka selesai, maka pencarian data tentang fenomena ini sendiri pun selesai. Sedangkan, aktivitas berbahaya dan melanggar hukum perbatasan negara semacam itu bukan kondisi yang baik. Bagi para remaja, maupun bagi petugas keamanan.

Blankevoort dan Driel membuat Shadow Game sekadar menjadi pemberi informasi tentang keberadaan fenomena cross border dan para pemuda yang melakukannya. Tanpa tendensi untuk menimbulkan keberpihakan atau setidaknya empati dari penontonnya. Penonton, dibuat menjauhi fakta-fakta bahwa mereka adalah imigran gelap hingga ada yang membahayakan saudara sendiri. Namun di sisi lain, Shadow Game juga menunjukkan mereka sebagai pelarian dari daerah konflik dan remaja pengungsi dari wilayah yang bermasalah. Pada akhirnya, satu kesimpulan besar yang dapat diperoleh dari dokumenter ini ialah bahwa perlakuan yang para remaja tersebut dapatkan merupakan buah dari tindakan mereka sendiri.

PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaSpiderhead
Artikel BerikutnyaObi-Wan Kenobi
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.