Satu lagi, film thriller berkonsep di ruang terbatas dan minim karakter kembali dibuat. The Boy Behind the Door merupakan film horor thriller arahan duo sineas David Chabornier dan Justin Powell. Film ini dibintangi dua aktor cilik, Lonnie Chavis dan Ezra Dewey, bersama Kristin Bauer van Straten, serta Micah Hauptman. Film ini dirilis streaming oleh platform Shudder. Lantas, dengan konsep minimalis, apa lagi yang film ini ingin ditawarkan?

Dua orang bocah bersahabat, Bobby dan Kevin, diculik oleh seseorang misterius. Mereka dibawa ke sebuah rumah besar di tempat terpencil di areal ladang minyak. Bobby yang disekap di bagasi mobil, berhasil meloloskan diri, sementara Kevin dibawa masuk. Bobby yang tak bisa meninggalkan sobatnya, akhirnya memutuskan untuk menolong Kevin.

Premisnya simpel dan sepanjang film juga tak banyak ada dialog. Filmnya nyaris berjalan real-time tanpa jeda berarti. Melalui sudut pandang Bobby, kita diajak menyelinap masuk ke rumah yang besar dan gelap, ruang demi ruang. Ketegangan dibangun dalam kesunyian, yang ini tentunya membuat penonton seringkali menahan nafas. Duo sineasnya benar-benar tahu bagaimana mempermainkan perasaan penonton melalui setting, komposisi dan tata kamera, pergerakan pemain, hingga musik. Mereka juga terampil mengemas adegannya melalui permainan perspektif kamera hingga mampu memadukan sisi misteri dan kejutan.

Belum lama, Till Death juga menggunakan formula yang serupa, hanya saja protagonisnya adalah seorang perempuan muda yang tangannya diborgol ke jasad suaminya. Satu hal yang membuat kini berbeda adalah sosok protagonisnya adalah seorang bocah. Pikiran bocah tentu berbeda dengan orang dewasa. Ini yang seringkali membuat kita geregetan dengan banyak adegannya. Dalam banyak momen, kita pasti sering bersumpah serapah kepada Bobby karena tidak melakukan ini dan itu, serta banyak hal ceroboh yang ia lakukan. Mengapa ia tidak lari dari sana dan meminta bantuan, dan lain sebagainya? Bobby adalah seorang bocah, bukan John McClane (Die Hard). Kepolosan ini yang membuat film ini begitu menarik sekaligus menggemaskan.

Baca Juga  Mosul

The Boy Behind the Door menyajikan sisi ketegangan maksimal di ruang terbatas melalui perspektif protagonis yang unik. Nyaris sepanjang film, tak ada momen bagi penonton untuk sekadar rehat. Pencapaian apik film ini juga tak lepas dari penampilan para pemainnya, khususnya Chavis dan Bauer. Eksplorasi ruang terbatas rupanya masih menjadi tantangan besar bagi banyak sineas. Film ini adalah termasuk salah satu yang berhasil, baik secara cerita maupun pendekatan estetiknya. Dari dua sosok bocah bersahabat beda ras hingga setting-nya, sekelibat muncul tentang ide, ke mana sebenarnya tema film ini mengarah. Apakah bicara soal ras? Eksplorasi lingkungan (minyak)? LGBT? Diskusi bisa panjang. Untuk sementara cukup kita nikmati dulu, bagaimana pencapaian estetik film ini mampu membangun ketegangan yang demikian tinggi sepanjang durasinya.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaJungle Cruise
Artikel BerikutnyaGolden Arm
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.