The Doorman (2020)
97 min|Action, Drama, Thriller|09 Oct 2020
4.7Rating: 4.7 / 10 from 9,032 usersMetascore: 41
A woman returns from combat and befriends a family in NYC. A gang of thieves plot to take the family's valuables, and she is all that stands between them and their lives.

The Doorman adalah film aksi thriller arahan sineas Jepang Ryuhei Kitamura. Walau terlihat minimalis, film ini rupanya diproduksi jauh sebelum masa pandemi (2019) dan dirilis telat di bioskop kita. Film ini dibintangi Ruby Rose, Jean Reno, Rupert Evans, serta Aksel Hennie. The Doorman memiliki konsep plot Die Hard, lantas bagaimana jika dibandingkan film-film sejenisnya?

Ali (Rose) adalah seorang mantan marinir tangguh yang masih trauma dengan masa lalunya, di mana ia gagal melindungi duta besar dan putrinya. Kembali ke kota asalnya, sang paman menawarinya pekerjaan di sebuah apartemen lawas di tempat ia bekerja. Oleh karena apartemen tersebut kini tengah direnovasi, gedung tersebut nyaris kosong, menyisakan 2 penghuni, sepasang orang tua dan saudara ipar Ali bersama dua anaknya. Sekelompok orang bersenjata dipimpin Victor (Reno) masuk ke apartemen tersebut untuk meyambangi satu penghuni yang ternyata memiliki lukisan bernilai tinggi. Ali pun terjebak dalam situasi yang serupa trauma masa lalunya.

Setelah diingat, plot film ini mirip dengan Force of Nature, hanya saja faktor cuaca mendominasi kisahnya. The Doorman praktis hanya mempertontonkan aksi “cat & mouse” antara Ali dan para teroris dari lantai ke lantai. Nyaris tak ada aksi ketegangan berarti, kecuali aksi tarung cepat yang disajikan lumayan. Logika cerita (lubang plot) menjadi faktor yang paling menganjal sepanjang kisahnya sebenarnya bisa disajikan lebih menarik. Bahkan gedungnya pun tidak pernah diperlihatkan secara utuh sehingga kita tak pernah tahu seberapa tinggi bangunan ini.

Baca Juga  Aftersun

Di segmen pembuka, kita melihat Ali begitu cekatannya menembaki belasan teroris ketika ia harus melindungi duta besar dan putrinya. Namun kini, hanya segelintir teroris, ia lebih banyak mengalah dan berlarian ke sana kemari. Ya memang situasinya berbeda, tapi rasanya ia bisa melakukannya dengan mudah dalam situasi tersebut. Lalu, sesusah apa sih untuk menarik perhatian orang di luar gedung dalam situasi segenting ini, mengapa tidak pernah terpikir untuk hanya sekadar menembak jendela dari dalam lobi bawah gedung, semuanya selesai.

The Doorman adalah satu percobaan varian Die Hard berpremis menarik namun gagal dalam semua eksekusinya. Konsep plot macam ini memang sederhana, namun tak mudah dalam pengembangan kisahnya. Menjaga intensitas ketegangan adalah kunci pokok keberhasilan filmnya. Hingga kapan pun, Die Hard rasanya sulit untuk ditandingi. Namun beberapa film seperti The Rock, Speed, hingga Air Force One adalah fvarian yang ideal dengan mampu memberikan aksi ketegangan serta tontonan yang menghibur. Masih kita tunggu plot Die Hard lainnya yang lebih menjanjikan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaMarry Me
Artikel BerikutnyaArini by Love.Inc
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses